Maulana, merupakan orang tua Abu Nawas. Semasa hidupnya, Maulana pernah bekerja sebagai kadi atau hakim di Baghdad pada kepemimpinan Harun Al Rasyid.Suatu waktu ketika Abu Nawas mengetahui bapaknya meninggal dunia, Harun memanggil Abu Nawas untuk datang ke istana mengurus jenazah bapaknya. Melihat kepandaian Abu Nawas yang sama persis dengan bapaknya dalam hal mengurus jenazah, membuat Harun berfikir untuk mengangkat Abu Nawas sebagai kadi baru menggantikan posisi Maulana. Namun mendengar niat sang sultan, Abu Nawas tidak menaruh perasaan senang sama sekali. Bahkan usai menyelesaikan pemakaman bapaknya, Abu Nawas bertingkah seperti orang gila. Dengan menggunakan sebatang pohon pisang, dia membuat kuda mainan dan menungganginya sambil berlari-lari dari pekarangan kuburan sampai rumahnya.Spontan tindakan Abu Nawas yang tidak wajar itu mendatangkan beribu tanya pada para pelayat, terlebih kepada sang Sultan Harun. Benar saja, beberapa hari setelah perilaku 'gilanya', Abu Nawas segera dipanggil untuk menghadap sang Sultan.Ketika menghadap sang sultan, Abu Nawas yang awalnya diharapkan dapat memberikan keterangan jelas mengenai sikapnya, justru bertindak semena-mena dihadapan raja. Sehingga kondisi ini memaksa Sultan Harun menggelar rapat terbatas dengan para menteri.Dalam rapat terbatas dengan para menteri, dibahas mengenai kemungkinan Abu Nawas diangkat menjadi kadi. "Melihat keadaan Abu Nawas yang semakin parah otaknya maka sebaiknya tuanku mengangkat orang lain saja menjadi kadi," kata salah seorang menteri dalam buku kisah 1001 malam - Abu Nawas sang penggeli hati, tulisan MB Rahimsyah.Namun sang Sultan yang sudah kepincut dengan kepandaian Abu Nawas, tidak menyetujui usulan para menteri. Sultan memberikan waktu 21 hari untuk memastikan kondisi Abu Nawas.Satu bulan berlalu, namun Abu Nawas tidak kunjung ada perkembangan. Akhirnya Sultan Harun Al Rasyid mengangkat Polan sebagai kadi baru. Mendengar hal itu, Abu Nawas bersyukur karena tidak jadi terpilih sebagai kadi. Banyak orang mengira kegilaan Abu Nawas muncul karena ditinggal mati oleh bapaknya. Namun sesungguhnya itu merupakan strategi Abu Nawas untuk menghindari penunjukan dirinya sebagai kadi.Karena sewaktu bapaknya sedang sakit parah sebelum meninggal dunia, Abu Nawas pernah disuruh mencium telinga kanan dan kirinya. Sewaktu mencium telinga kanan, ternyata aroma wangi. Namun giliran mencium telinga kiri, Abu Nawas mencium aroma sangat busuk sekali.Mengetahui hal itu, segera Abu Nawas menceritakannya kepada sang bapak. "Pada suatu hari datang dua orang mengadukan masalah kepadaku. Yang seorang aku dengarkan keluhannya, namun yang satunya lagi karena aku tidak suka maka tidak aku dengarkan keluhannya. Inilah risiko menjadi kadi," jawab Maulana.