Tahukah Anda, Dampak Konflik Global: Mengapa Kepedulian Bersama Penting bagi Ekonomi Indonesia?

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyoroti seriusnya dampak konflik global terhadap ekonomi nasional. Cari tahu mengapa kepedulian bersama menjadi kunci penting.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda, Dampak Konflik Global: Mengapa Kepedulian Bersama Penting bagi Ekonomi Indonesia?
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyoroti krusialnya peran orang tua dalam meningkatkan kualitas kesehatan keluarga, terutama di tengah ancaman DBD dan chikungunya yang meningkat. (Planet Merdeka)

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, mendorong adanya upaya kolektif untuk mengatasi tantangan dampak konflik global. Hal ini disampaikannya dalam sebuah diskusi daring yang menegaskan bahwa isu tersebut harus menjadi kepedulian bersama berbagai pihak.

Menurut Lestari, dampak konflik global yang meluas ke berbagai sektor ekonomi harus segera diatasi melalui berbagai upaya konkret. Tujuannya adalah untuk mewujudkan perdamaian di kawasan yang dapat mendukung pertumbuhan perekonomian nasional secara berkelanjutan.

Konteks konflik Rusia-Ukraina, misalnya, telah berdampak langsung pada ekonomi banyak negara, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, langkah-langkah antisipasi yang konkret sangat diperlukan untuk memitigasi risiko dan menjaga stabilitas.

Lestari Moerdijat menekankan bahwa ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial merupakan amanat Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Amanat ini menjadi komitmen kuat bagi Indonesia untuk berperan aktif dalam menjaga dan menciptakan tatanan dunia yang damai.

Peran aktif Indonesia juga merupakan bagian dari upaya menekan dampak konflik global di kawasan. Diharapkan semua pihak terkait dapat mengambil bagian untuk menciptakan perdamaian dunia yang berdampak positif bagi stabilitas pembangunan.

Stabilitas ini penting untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur secara merata di tanah air. Pandangan ini disampaikan Lestari saat membuka diskusi daring bertema “Prospek Perdamaian Rusia-Ukraina dan Dampaknya Bagi Indonesia” yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12.

Guru besar ilmu hubungan internasional Universitas Indonesia, Evi Fitriani, menjelaskan bahwa konflik Rusia dan Ukraina terjadi bersamaan dengan transisi kekuatan global. Kekuatan baru seperti China, India, dan Brasil berupaya mengubah sistem kekuatan dunia dari bipolar menjadi unipolar.

Dalam situasi ini, Amerika Serikat berupaya mempertahankan pengaruh dan kekuatannya dengan aktif menjadi penengah pada konflik-konflik regional. Di sisi lain, Rusia juga berupaya menegaskan kembali posisinya di dunia, mengingat negara-negara bekas Uni Soviet yang mulai mandiri dinilai sebagai ancaman.

Evi Fitriani juga menyoroti bahwa gaya kepemimpinan Presiden AS Donald Trump yang cenderung transaksional membuat upaya perundingan dalam konflik Rusia-Ukraina didasari atas kepentingan AS sendiri. Pada sejumlah perundingan yang telah terjadi, tidak terlihat adanya langkah-langkah perdamaian yang disepakati, sehingga upaya perdamaian masih jauh dari berhasil.

Dosen hubungan internasional Universitas Pertahanan, Hendra Manurung, menambahkan bahwa konflik Rusia-Ukraina sudah terlihat sejak 2014 dan meningkat signifikan pada Februari 2022. Konflik ini memengaruhi konstelasi politik dunia, memicu krisis pangan dan energi, serta menyebabkan krisis kemanusiaan di daerah konflik akibat operasi militer.

Berbagai negosiasi yang telah dilakukan sejauh ini belum mampu menghasilkan gencatan senjata yang efektif. Hendra menekankan pentingnya membangun strategi diplomasi melalui kanal politik, ekonomi, sosial, dan budaya, dengan tetap mengedepankan kepentingan Indonesia dalam upaya mewujudkan perdamaian.

Fungsional Madya pada Direktorat Eropa II Kementerian Luar Negeri, Dandy F. Soeparan, mengungkapkan bahwa potensi yang dimiliki Ukraina dan Rusia sama-sama penting bagi Indonesia. Kedua negara tersebut memiliki sumber daya alam krusial seperti minyak dan gas, pertambangan, serta fosfat sebagai bahan baku pupuk yang sangat dibutuhkan Indonesia.

Selain itu, ratusan mahasiswa Indonesia saat ini menuntut ilmu di Rusia dengan dukungan beasiswa LPDP. Hal ini menjadikan posisi Rusia penting dalam pengembangan sumber daya manusia nasional, menegaskan perlunya pendekatan yang seimbang dan strategis dalam hubungan internasional Indonesia.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi