Sebanyak 42 pegawai Sekretariat Kabinet (Setkab) RI telah diterjunkan langsung ke daerah-daerah terdampak bencana. Mereka mendistribusikan bantuan kemanusiaan seberat 18 ton kepada para pengungsi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Aksi tanggap darurat ini merupakan respons cepat terhadap bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah tersebut.
Tim kemanusiaan ini berfokus pada penyaluran kebutuhan dasar bagi masyarakat yang terdampak. Bantuan disalurkan secara langsung kepada para korban yang kini berada di posko-posko pengungsian. Upaya Distribusi Bantuan Setkab ini diharapkan dapat meringankan beban para korban bencana.
Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pemberdayaan Masyarakat Sekretariat Kabinet RI, Amperawan, menegaskan komitmen pemerintah. Ia menyatakan bahwa kehadiran tim ini adalah bagian dari gotong royong lintas sektor. Mereka bekerja bersama kementerian/lembaga, TNI/Polri, relawan, dan masyarakat setempat.
Advertisement
Advertisement
Barang bantuan yang disalurkan oleh tim Setkab mencakup berbagai kebutuhan esensial. Di antaranya adalah pakaian, makanan siap santap, selimut, sarung, dan sajadah. Kebutuhan lain seperti makanan dan minuman, susu bayi, obat-obatan, serta pembalut wanita juga turut didistribusikan.
Amperawan menjelaskan bahwa bantuan ini sangat vital bagi kelangsungan hidup para pengungsi. "Selain membawa logistik yang diperlukan para pengungsi, kami juga turut bersama tim dari kementerian/lembaga, TNI/Polri, relawan, dan masyarakat bergotong-royong dalam upaya tanggap darurat bencana," kata Amperawan. Kolaborasi ini memastikan bantuan tersalurkan secara efektif dan tepat sasaran.
Proses Distribusi Bantuan Setkab ini tidak hanya berhenti pada penyaluran logistik. Tim juga aktif berinteraksi dengan pengungsi untuk memahami kebutuhan mereka secara langsung. Hal ini penting agar bantuan yang diberikan sesuai dengan kondisi di lapangan.
Advertisement
Advertisement
Selain bantuan fisik, tim relawan dari Sekretariat Kabinet juga membawa sejumlah mainan untuk anak-anak di pengungsian. Langkah ini diambil untuk memberikan dukungan psikologis bagi anak-anak yang terdampak bencana. Kesehatan mental para pengungsi, terutama anak-anak, menjadi perhatian serius dalam upaya penanganan bencana.
Amperawan menekankan pentingnya aspek non-fisik dalam penanganan bencana. "Kami juga membawa mainan untuk anak-anak yang ada di pengungsian. Kesehatan fisik dan kesehatan psikis para pengungsi, terutama anak-anak, tentu menjadi perhatian serius dalam upaya penanganan bencana ini," ujarnya. Ini menunjukkan pendekatan holistik dalam penanggulangan bencana.
Di posko-posko pengungsi, Tim Kemanusiaan Sekretariat Kabinet juga menanyakan langsung dan mencatat seluruh kebutuhan yang diperlukan. Mereka juga mengumpulkan masukan dari berbagai pihak untuk mempercepat penanganan dampak bencana di Sumatera. Kehadiran personel Setkab diharapkan memberikan dukungan moril dan semangat baru bagi masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Bencana banjir bandang dan longsor menerjang wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada Selasa, 25 November 2025. Peristiwa ini menyebabkan dampak yang sangat besar. Data terbaru per 11 Desember 2025 dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan skala tragedi ini.
Jumlah korban jiwa akibat banjir bandang dan longsor mencapai 990 jiwa. Rinciannya, 407 korban meninggal dunia ditemukan di Provinsi Aceh, 343 korban di Sumatera Utara, dan 240 korban jiwa di Sumatera Barat. Selain itu, jumlah orang yang dilaporkan hilang per hari ini mencapai 225 orang, menambah daftar panjang dampak bencana.
BNPB juga mengumumkan jumlah pengungsi di tiga provinsi terdampak telah mencapai 884.889 jiwa. Total bantuan yang telah masuk ke Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak 28 November hingga 11 Desember 2025 sebanyak 498 ton. Dari jumlah tersebut, 351,4 ton telah terdistribusi ke berbagai daerah melalui jalur darat, laut, dan udara, menunjukkan masifnya upaya Distribusi Bantuan Setkab dan pihak lainnya.
Advertisement
Sumber: AntaraNews