Nama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok muncul menjadi top of mind sebagai calon gubernur (cagub) di kalangan Pilgub DKI Jakarta berdasarkan survei Indikator Politik Indonesia. Sebanyak 12,6 persen responden spontan menyebut nama Ahok ketika ditanyakan siapa cagub DKI pilihan mereka.
Pengamat politik Universitas Padjadjaran, Muradi menilai munculnya nama Ahok membuktikan Komisaris Utama Pertamina itu masih memiliki peluang meski tak sebesar Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017.
"Saya kira kalau peluang (Ahok) masih ada tapi tadi masih dalam posisi tidak seperti sebesar 2017," ungkap Muradi kepada merdeka.com, Jumat (12/5).
Advertisement
Peluang yang kecil itu karena momentum Ahok sudah hilang. Apalagi figur yang menjadi saingan Ahok semakin banyak.
"Peluangnya (Ahok) makin sempit karena banyak bermunculan figur-figur baru yang mungkin bisa menjadi kompetitor dari Pak Ahok. Ada Ridwan Kamil, Bima Arya, Gibran Rakabuming, mantan wali kota Tangsel (Airin Rachmi), ada nama-nama yang lain," sambungnya.
"Jadi kalau bicara momentum politik sebenarnya momentum Pak Ahok sudah lewat kemarin. Sekarang itu kalau mau maju lagi butuh effort yang jauh lebih besar dibanding Pilgub 2017," ujar Muradi.
Advertisement
Namun jika benar Ahok akan berkontestasi di Pilgub DKI 2024, kata Muradi, Ahok harus membangun elektabilitas mulai hari ini.
"Kalau pun mau maju ya dari sekarang Pak Ahok harus mendorong proses penguatan, membangun elektabilitas dulu, banyak jalan, mulai menyapa warga," ujarnya.
Soal kasus penistaan agama yang pernah menjerat Komisaris Utama Pertamina ini menurutnya tidak memengaruhi menurunnya peluang Ahok di Pilgub 2024.
"Enggak juga, momennya aja beda. Beliau kan tidak harus off dalam politik karena kan hukumannya di bawah 5 tahun jadi enggak ada masalah. Hanya memang poinnya adalah figur-figur lain bermunculan jauh lebih besar, tidak seperti dulu. Kalau dulu kan pertarungannya lawan Anies, Sandi saja," ungkapnya.
Ikuti perkembangan terkini seputar berita Pemilu 2024 hanya di merdeka.com
Reporter Magang: Alya Fathinah