Wasekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Daniel Johan heran dengan tudingan koalisi Joko Widodo-Ma'ruf bersikap arogan menarik sejumlah kader Demokrat. Menurut Daniel, beberapa kader Demokrat gabung mendukung Jokowi-Ma'ruf atas inisiatif pribadi bukan paksaan atau ajakan.
"Bukan sudah diizinkan oleh Demokrat sendiri?," kata Daniel saat dihubungi, Rabu (12/9).
Ketua Direktorat Kampanye Tim Pemenangan Jokowi-Ma'ruf ini menduga keputusan para kader partai berlambang bintang karena ingin melihat Jokowi melanjutkan program-programnya di periode kedua.
"Saya rasa bukan bajak ya tapi itu inisiatif sendiri karena memang melihat penting pak Jokowi melanjutkan program-programnya," ujarnya.
Daniel menilai sikap kader yang membelot mendukung Jokowi-Ma'ruf menggambarkan internal Demokrat tidak satu suara mendukukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
Diketahui, Jokowi-Ma'ruf mendapatkan suntikan dukungan dari beberapa kepala daerah yang juga kader Demokrat. Mereka adalah Gubernur Jatim Soekarwo, Gubernur NTB TGB Zainul Majdi, Gubernur Papua Lukas Enembe, Deddy Mizwar.
Kepala Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean mengatakan, apa yang disampaikan Timses Jokowi hanyalah klaim sepihak.
"Itu semua klaim-klaim dari kubu Jokowi yang merasa berhak dan merasa bisa seenaknya dan semaunya kepada pejabat negara karena merasa berkuasa," ucap Ferdinand saat dikonfirmasi, Selasa (11/9).
Dia menuturkan, sebenarnya hati Pakde Karwo ingin terus bersama Demokrat. Namun, dirinya menyebut apa yang dilakukan Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf sangat arogan.
"Kami mengerti betul dan tahu betul situasi kebatinan Pakde Karwo yang sesungguhnya ingin terus bersama Partai Demokrat. Namun ulah dan perilaku Timses Jokowi-Ma'ruf ini seperti arogan sekali memasukkan nama seseorang jadi tim mereka. Seolah mereka paling berhak menentukan pilihan politik seseorang," ungkap Ferdinand.