Satu per satu partai anggota Koalisi Merah Putih (KMP) hengkang. Menyusul Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Golkar, yang seumur hidupnya tidak pernah beroposisi, akhirnya tidak tahan juga untuk masuk kekuasaan.
Jadilah dua partai ini pendukung pemerintah, meskipun belum jelas apakah kader mereka akan duduk di kabinet.Ditinggal PAN dan Golkar, KMP yang hanya bersisa Gerindra dan PKS akhirnya mengakui sudah bubar.
"Secara de facto partai-partai yang sekarang bergabung di KMP, kami sudah katakan KMP sudah selesai," kata Sekjen Partai Gerindra, Ahmad Muzani, di Kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (4/2).Muzani mengatakan, KMP dulu yang dipimpin Prabowo Subianto memang menjadi kekuatan ekstra untuk mengontrol pemerintah, namun setelah pemerintahan berjalan satu setengah tahun, satu per satu keluar anggotanya keluar.
"Karena itu de facto KMP sudah bubar," tegas Muzani lagi.Meski KMP sudah selesai, kata Muzani, Gerindra tidak akan mengubah niatnya untuk tetap menjadi partai oposisi. "Bagi Gerindra tidak akan meruntuhkan posisi sebagai oposisi," jelas Muzani yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Gerindra ini.
Advertisement
Jika dihitung, kursi KMP setelah ditinggal Golkar dan PAN, hanya tersisa 113 yang tediri dari Gerindra (73) dan PKS (40). Jumlah kursi ini sangat jomplang jika dibandingkan kursi partai pendukung pemerintah (PDIP, NasDem, PKB, Hanura, PAN, Golkar dan PPP) yang berjumlah 386. Di luar itu, masih ada Demokrat yang mengaku tidak berkubu dengan 61 kursi.Jika dibandingkan oposisi di DPR periode 2009-2014, kekuatan oposisi di periode sekarang lebih lemah. Jika dulu partai oposisi (PDIP, Gerindra, Hanura) berjumlah 139 kursi, kini kekuatan penyeimbang yang digawangi Gerindra dan PKS hanya berjumlah 113 kursi.
Namun, jika Demokrat lebih condong ke oposisi, justru kekuatan pengontrol pemerintah lebih kuat ketimbang periode lalu dengan 174 kursi.
Advertisement
Meski demikian, menurut Muzani, posisi partai oposisi tetap diperlukan dalam situasi apa pun. Gerindra menurutnya tidak akan berkecil hati meski sendiri. Pun suara oposisi menurutnya tak akan kalah meski melalui mekanisme voting."Pemerintah sebaik apapun butuh oposisi, selektif apapun butuh yang mengontrol dan mengawasi Meskipun dengan kekuatan yang sedikit voting, kalah. Kami tidak ingin perdebatan berujung voting, tapi perdebatan yang substantif," tukas Muzani.Muzani memastikan tidak akan mengikuti jejak PAN dan Golkar yang telah bergabung ke Pemerintah. Meski bukan partai pemenang, berdiri sebagai oposisi tetap lebih kuat."Yang kami syukuri, kami berada di luar pemerintahan. Kami belum pernah jadi partai pemenang. Dengan jumlah 26 (kursi Gerindra 2009-2014) dan 73 (kursi 2014-2019) anggota DPR lalu posisinya sama, lebih kuat lebih fresh, lebih rukun," tutup dia.