Pilkada serentak yang akan berlangsung pada 9 Desember mendatang menjadi ujian besar bagi keluarga Gubernur Banten nonaktif Ratu Atut Chosiyah yang ingin kembali berkuasa. Sedikitnya, ada tiga anggota dinasti Atut yang dipastikan maju.Di Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany ingin melanjutkan kekuasaannya untuk lima tahun ke depan sebagai wali kota. Di Kabupaten Serang, Ratu Tatu Chasanah (adik Atut) menjadi calon bupati. Sedangkan di Kabupaten Pandeglang, menantu Atut, Tanto W Arban maju sebagai kandidat calon wakil bupati.Dari ketiga nama di atas, nama Airin yang paling disorot. Suaminya, Tubagus Chaeri Wardana menjadi terpidana dalam kasus korupsi pengadaan alat kesehatan Provisi Banten tahun anggaran 2012. Meski begitu, hal ini sepertinya tidak menjadi beban bagi Airin.
Airin yang juga ketua DPD Golkar Tangsel bahkan aktif mendaftarkan diri ke parpol lain untuk mendapatkan dukungan. Dia sempat mendaftarkan diri ke Partai Demokrat pada bulan April lalu, walau akhirnya Demokrat berduet dengan Partai Gerindra memutuskan mencalonkan Ikhsan Modjo sebagai bakal calon wali kota. Airin tak risau, karena dia mendapatkan dukungan dari Partai NasDem, PKB, dan tentunya Golkar.
Advertisement
Pengamat politik yang juga dosen UIN Syarif Hidayatullah, Wahyu Prasetyawan menilai, peluang Airin untuk kembali menang cukup besar. Sebagai incumbent, Airin dinilai punya modal yang kuat. Dengan jaringan birokrasi dari kepala dinas, camat, hingga lurah, Airin bisa saja memanfaatkan untuk kepentingannya di pilkada.Menurut Wahyu, dalam pilkada, modal uang juga cukup besar. Apalagi, gabungan parpol yang mendukung sang calon belum tentu mengeluarkan uang, malah sang calon harus menyiapkan dana yang sangat besar untuk menggerakkan mesin partai. Hal inilah yang dimiliki Airin."Tetapi sesungguhnya, dalam pilkada, mesin partai sudah tidak efektif. Karena yang paling penting adalah persepsi pemilih terhadap calon pemimpinnya. Semua orang di Tangsel tentu punya persepsi terhadap Airin, tahu dia dari mana asalnya, suaminya terlibat kasus korupsi, dan sebagainya," jelas Wahyu.Dalam pengamatannya, prestasi Airin selama memimpin Tangsel, biasa-biasa saja. Tidak ada terobosan yang menonjol dan masih banyak pekerjaan yang belum dituntaskan seperti infrastruktur jalan yang rusak dan kemacetan yang kian parah, termasuk pelayanan publik.Dengan pemilih yang 70 persen terdiri kelas menengah yang notabene berpendidikan tinggi, sesungguhnya, isu pelayanan publik bisa menjadi jualan para penantang Airin. Namun, kata Wahyu, belum terlihat adanya gerakan kuat dari para calon pemilih untuk mendesak perubahan di Tangsel. "Kalau di media sosial banyak, tapi sampai sekarang belum ada yang konkret," ujarnya.Sosok yang bisa menjadi pesaing kuat Airin, imbuh Wahyu, adalah seorang figur yang memiliki latar belakang yang harus bertolak belakang dengan Airin. Sang penantang harus memainkan isu-isu yang menjadi kebutuhan para pemilih. "Tentu saja hal-hal mendasar seperti isu pelayanan publik. Di Tangsel ini, penduduknya kelas menengah, semuanya punya mobil, sekarang jalan di sini rusak, macet, dan tidak kelihatan upaya pemda membenahi. Ini bisa menjadi isu yang kuat bagi penantang Airin. Apalagi jika dia mau door to door ketemu langsung dengan para calon pemilih," pungkas Wahyu.