Satu persatu suara sumbang mulai bermunculan dalam internal Partai Amanat Nasional ( PAN ). Pemicunya adalah keputusan berkoalisi dengan Partai Gerindra .Para pendiri PAN menilai capres Gerindra Prabowo Subianto memiliki dosa di masa lalu, yaitu penculikan para aktivis 1998. Aksi bekas Danjen Kopassus itu dinilai pelanggaran HAM.Koalisi ini dinilai bertentangan dengan PAN sebagai partai yang lahir di awal reformasi. Seharusnya PAN dapat menyumbang perbaikan semangat dan mutu kepartaian Indonesia, yang sudah dirusak oleh Orde Baru. "PAN adalah kelanjutan gerakan pro-demokrasi yang melawan kekuasaan otoriter Jenderal Suharto," kata salah satu pendiri Partai Amanat Nasional ( PAN ) Goenawan Mohamad .
Advertisement
Goenawan Mohamad
Salah satu pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) Goenawan Mohamad mengaku kecewa terhadap langkah partai matahari biru mendeklarasikan Prabowo Subianto sebagai bakal calon presidennya. Budayawan yang mengaku masih menjadi anggota PAN itu pun menyatakan mundur dari keanggotaan partai."Selama ini, meskipun dengan kekecewaan, saya tetap menjadi anggota PAN dan membayar secara teratur iuran keanggotaan. Tetapi kali ini saya tidak punya harapan lagi. Saya menyatakan berhenti dari keanggotaan partai," kata GM, demikian dia disapa, lewat pernyataan terbuka di akun Facebooknya, kemarin.GM bercerita, ketika bersama teman-teman secita-cita mendirikan PAN di awal reformasi, dia berharap ikut menyumbang perbaikan semangat dan mutu kepartaian Indonesia, yang sudah dirusak oleh Orde Baru. "PAN adalah kelanjutan gerakan pro-demokrasi yang melawan kekuasaan otoriter Jenderal Suharto," kata penyair itu.Semenjak Suharto jatuh, lanjut GM, dia dan kawan-kawan ingin membangun sebuah partai yang punya platform politik yang jelas untuk diperjuangkan ke arah demokrasi yang lebih luas, kebhinekaan yang lebih hidup, dan kesejahteraan yang lebih merata."Dalam sejarahnya, PAN pernah berusaha ke arah itu. Tetapi makin lama ia makin tak memandang politik sebagai perjuangan. Makin lama politiknya hanya hasrat mengukuhkan posisi dalam struktur yang ada dan untuk memperoleh jabatan yang empuk bagi elitenya," ujarnya.Hal ini, kata GM, memang jadi takbiat partai-partai lain di Indonesia sekarang. "Tetapi seharusnya PAN mencoba memperbaiki keadaan itu. Tetapi tidak," ujarnya.Akhirnya, kata dia, dalam pemilihan umum dan pemilu presiden 2014, PAN makin terseret ke dalam oportunisme. "Yang diupayakannya hanyalah agar Ketua Umum dapat jabatan Wakil Presiden. Untuk itu ia bersedia mendukung kekuatan yang di masa Orde Baru ingin memadamkan gerakan pro-demokrasi, antara lain dengan kekerasan," tegas GM.
Advertisement
Nur Muhammad Iskandar
Ketua Harian Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Nur Muhammad Iskandar kesal lantaran Prabowo Subianto yang telah didukung PPP malah memilih Hatta Rajasa. Menurutnya, duet tersebut tidak laku di lingkungan warga Nahdlatul Ulama (NU)."Duet Prabowo-Hatta susah untuk memasarkannya di kalangan Nahdliyin (warga NU)," kata Nur Muhammad Iskandar dalam rilis yang diterima, Rabu (14/5).Nur Iskandar memprediksikan, warga NU justru akan berpaling dan mendukung Joko Widodo (Jokowi). Apalagi, jika capres PDIP itu berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK), yang juga kader NU.Dia juga menilai, seandainya Prabowo menggandeng tokoh NU, maka peluang untuk menang semakin besar. "Awalnya kita gadang Prabowo-SDA, tapi ternyata gandeng yang lain dan bukan dari NU. Kalau situasi begini, kader PPP bakal banyak lari ke Jokowi yang kabarnya gandeng JK," tuturnya.
Advertisement
Alvin Lie
Salah satu pendiri Partai Amanat Nasional Alvin Lie menyesalkan keputusan PAN berkoalisi dengan Gerindra, dan mendukung pencapresan Prabowo. Alvin menilai Prabowo memiliki dosa di masa lalu.Alvin menilai Prabowo terlibat pelanggaran hak asasi manusia. Prabowo sendiri sudah berulang kali membantah soal hal ini. Namun Alvin menilai diberhentikannya Prabowo adalah bukti.Saat ditanya apakah akan mengikuti langkah GM, Alvin mengaku tidak akan meninggalkan PAN. Dia tetap akan menjalankan tugas di partai, namun menolak jika berkaitan dengan Prabowo.