Belajar dari Jokowi, parpol jangan lagi jadi 'rental mobil

"Jika parpol hanya mencalonkan putra-putri yang memiliki dana saja, maka parpol ini parpol yang sesungguhnya jahanam."

Laurencius Simanjuntak
Oleh Laurencius Simanjuntak - Reporter
Belajar dari Jokowi, parpol jangan lagi jadi 'rental mobil
Jokowi Esemka. Merdeka.com/Arie Basuki

Kemenangan Jokowi-Ahok menurut hasil hitung cepat merupakan gambaran pertarungan karya dan sosok personal di antara para calon yang diusulkan parpol menjadi calon kepala daerah. Oleh karenanya, lewat momentum ini seharusnya setiap parpol belajar untuk memprioritaskan kadernya dalam setiap pertarungan Pilkada."Seluruh parpol harus mulai menyadari bahwa parpol jangan lagi seperti 'rental mobil' bagi para calon yang harus membayar kepada parpol yang akan mencalonkannya atau mengantarnya dalam suatu kontestasi Pilkada," ujar pakar hukum tata negara, Andi Irmanputra Sidin, di Jakarta, Senin (24/9).Irman mengingatkan, parpol punya kewajiban untuk mencalonkan putra-putri terbaik bangsa untuk menjadi pemimpin. Hal ini karena parpol adalah satu-satunya organisasi yang mendapatkan hak eksklusif untuk memproduksi pemimpin-pemimpin negeri, baik di eksekutif dan legislatif. "Oleh karenanya parpol yang masih meminta bayaran bagi putra-putri bangsa untuk dicalonkan menjadi calon kepala daerah atau hanya mencalonkan putra-putri yang memiliki dana saja, maka parpol ini parpol yang sesungguhnya jahanam," ujar dia. "Parpol itu telah melakukan kejahatan pengkhianatan konstitusi," tegasnya. Hasil hitung cepat semua lembaga survei dalam putaran kedua Pilgub DKI menyatakan Jokowi-Ahok unggul dari pesaingnya, Foke-Nara. Selisih suara keduanya berkisar 7-8 persen. Jokowi adalah kader PDI Perjuangan dan Ahok adalah kader Partai Gerindra. Sementara Foke dan Nara adalah kader Partai Demokrat.

Rekomendasi