Menilik Potensi Golput di Pemilu 2019

Selasa, 16 April 2019 21:31 Reporter : Merdeka
Menilik Potensi Golput di Pemilu 2019 Golput. ©2012 Merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Angka Golongan Putih (Golput) pada pemilu tahun ini diperkirakan akan menurun. Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari melihat kecenderungan masyarakat saat ini lebih antusias untuk turut serta melakukan pencoblosan.

Salah satunya karena pemilu kali ini dianggap sebagai pertarungan ideologi. Mereka yang merasa terasosiasi dengan ideologi tertentu merasa wajib untuk mendukung pilihannya.

"Tren golput absolut belum tau, (tapi) kemungkinan menurun karena pilpres kali ini para pemilihnya semangat," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (16/4).

Faktor lain yang membuat pemilu 17 April besok akan ramai karena faktor profesionalisme penyelenggara Pemilu 2019, yakni Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang sudah dengan baik mengurus Daftar Pemilih Tetap (DPT). Menurutnya, dibandingkan periode lima thun lalu, jumlah DPT periode kali ini lebih baik.

Hal senda disampaikan oleh Ray Rangkuti, pendiri Lingkar Madani (Lima). Ray memprediksi golput pada pemilu kali ini akan di bawah 10 persen saja.

"Ya sekitar 7 persen," kata Ray saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (16/4/2019).

Ray justru mengkhawatirkan jika KPU selaku penyelenggara pemilu akan kuwalahan menangani para pemilih yang membeludak.

Kontras dengan pendapat kedua pengamat di atas, Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Indria Samego memprediksi golput pemilu tahun ini akan meningkat. Menurutnya hal itu disebabkan karena mereka yang tergolong pemilih kritis kesulitan untuk menentukan mana calaon yang terbaik.

"Karena masing-masing punya masalah," tutur Indria.

Menurut Indria, para pemilih kritis ini merasa takut bertanggung jawab terhadap pilihannya jika pemimpin yang mereka pilih berbuat salah.

"Secara moral politik (supaya) tidak berdosa ya tidak memilih," papar Indria.

Menurut peneliti LIPI ini, anggapan adanya pertarungan ideologi dalam Pemilu 2019 ini dinilai tidak berdasar. Dia melihat dalam pemilu ini kedua kubu tersebut sama-sama berideologi Pancasila.

"Saya tidak percaya itu. Apa ideologinya? Masa Pancasila lawan Khilafah. Khilafah siapa? Prabowo bukan Khilafah, ia lahir dari rahim seorang Kristen. Masa dibilang Khilafah," tutur Indria.

Angka Golput Sepanjang Sejarah Pemilu di Indonesia

Tingkat partisipasi politik pada Pemilu rezim Orde Lama mulai dari tahun 1955 dan Orde Baru pada tahun 1971 sampai 1997, kemudian Orde Reformasi tahun 1999 sampai sekarang masih cukup tinggi. Tingkat partisipasi politik pemilih dalam pemilu tahun 1955 mencapai 91,4 persen dengan angka golput hanya 8,6 persen.

Baru pada era non-demokratis Orde Baru golput menurun. Pada Pemilu 1971, tingkat partisipasi politik mencapai 96,6 persen dan jumlah golput menurun drastis hanya mencapai 3,4 persen.

Sementara Pemilu tahun 1977 dan Pemilu 1982 hampir serupa. Yakni, partisipasi politik sampai 96,5 persen dan jumlah golput mencapai 3,5 persen. Pada Pemilu 1987 tingkat partisipasi politik pemilih mencapai 96,4 persen dan jumlah golput hanya 3,6 persen.

Pada Pemilu 1992 tingkat partisipasi politik pemilih mencapai 95,1 persen dan jumlah golput mencapai 4,9 persen. Untuk Pemilu 1997 tingkat partisipasi politik pemilih mencapai 93,6 persen dan jumlah golput mulai meningkat hingga 6,4 persen.

Pasca-reformasi, pada Pemilu 1999 tingkat partisipasi memilih 92,6 persen dan jumlah Golput 7,3 persen. Angka partisipasi yang memprihatinkan terjadi pada Pemilu 2004, yakni turun hingga 84,1 persen dan jumlah golput meningkat hingga 15,9 persen.

Pada Pilpres putaran pertama tingkat partisipasi politik pemilih mencapai 78,2 persen dan jumlah Golput 21,8 persen, sedangkan pada Pilpres putaran kedua tingkat partisipasi politik pemilih mencapai 76,6 persen dan jumlah golput 23,4 persen.

Pada Pemilu Legislatif tahun 2009 tingkat partisipasi politik pemilih semakin menurun yaitu hanya mencapai 70,7 persen dan jumlah golput semakin meningkat yaitu 29,3 persen. Pada Pilpres 2009 tingkat partisipasi politik pemilih mencapai 71,7 persen dan jumlah golput mencapai 28,3 persen.

Pada Pemilu Legislatif tahun 2014 tingkat partisipasi politik pemilih naik menjadi 75,2 persen dan jumlah golput turun menjadi 24,8 persen. Pada Pilpres 2014 tingkat partisipasi politik pemilih mencapai 70,9 persen dan jumlah golput mencapai 29,1 persen.

Reporter: Yopi Makdori [noe]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini