Jokowi menjawab fitnah

Rabu, 25 Juni 2014 21:30 Reporter : Jonas Fredryc Tobing
Jokowi menjawab fitnah Jokowi koalisi rakyat. ©2014 merdeka.com/istimewa

Merdeka.com - Fitnah yang dialamatkan ke Jokowi belum berhenti. Relawan Jokowi menjawab fitnah yang datang, seperti di bawah ini:

Fitnah 1: Jokowi berasal dari keluarga non-muslim

Fitnah Jokowi non-muslim pertama kali dihembuskan oleh lawan-lawan politiknya di Pilkada Gubernur DKI tahun 2012. Ketika itu, tanpa diduga pasangan Jokowi - Ahok mampu melesat dan lolos ke putaran kedua. Lolosnya Jokowi - Ahok ke putaran kedua benar-benar mengubah peta pemilihan. Kubu penguasa tidak menyangka sama sekali mereka akan berhadapan dengan Jokowi. Tiba- tiba tersadar bahwa mereka tidak memiliki cukup bahan, kekuatan, dan dukungan untuk mengalahkan Jokowi.

Rekam jejak Jokowi selama menjadi Walikota Surakarta ditelisik untuk dicari-cari kesalahan yang pernah dibuatnya. Tidak ada. Kepemimpinan Jokowi di Surakarta adalah kepemimpinan yang benar-benar berpihak kepada rakyat. Tidak ada pentungan penguasa kepada para pedagang kaki lima. Tidak ada kekerasan dalam penataaan wilayah kota. Tidak ada kebijakan Jokowi yang merugikan rakyat selama ia menjadi Walikota Surakarta.

Habis akal. Akhirnya lawan-lawan Jokowi membangkitkan fitnah SARA yang sangat keji. Ibunda Jokowi yang tak tahu-menahu urusan politik, mereka seret-seret. Mereka tuduh beliau seorang Cina Kristen. Kejam, keji, sama sekali tidak berperikemanusiaan. Segala cara mereka upayakan untuk melanggengkan kekuasaan.

Untuk mencegah agar dosa fitnah tersebut tidak semakin melebar kemana-mana dan memecah-belah masyarakat, pengurus Nahdlatul Ulama merasa wajib mengirim utusan ke rumah Ibu Sujatmi untuk mengklarifikasi tuduhan tersebut. Ketika mereka datang Ibu Sujatmi sedang mengaji.

Terbukti, tuduhan itu adalah fitnah yang sangat keji!

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu". [Al Hujurat : 6]

Fitnah 2: Jokowi adalah antek Kristen

Mereka fitnah Ibu Sujiatmi, yang telah terbukti tidak benar. Kemudian mereka serang Ahok, yang beragama Protestan, dengan hembusan tuduhan Ahok membawa agenda kekristenan di Indonesia. Padahal Ahok sejak kecil hingga hari ini, adalah seorang pluralis yang bergaul dengan semua golongan.

Mereka serang FX Hadi Rudyatmo, yang beragama Katholik. Wakil Walikota Surakarta yang menggantikan Jokowi sebagai Walikota. Mereka tuduh juga Rudi membawa agenda kekristenan di Indonesia. Sebuah tuduhan yang sama sekali tidak berdasar.

Tuduhan-tuduhan yang sama sekali tidak berdasar, bertentangan dengan akal sehat.

Ahok adalah seorang Protestan sedangkan Rudi adalah seorang Katolik. Protestan dan Katolik adalah dua aliran Kristen yang sama sekali berbeda. Protestan tumbuh sebagai aliran yang mem"protest" Katolik. Jika Jokowi dituduh sebagai agen Kristen di Indonesia, manakah yang dimaksud? Protestan? Katolik? Ataukah Jokowi multi-agen?

Tuduhan ini sama sekali tidak dapat diterima akal sehat. Semakin liar saja fitnah itu jadinya.

Mari lihat latar belakang dari keduanya.

FX Hadi Rudyatmo

Rudi adalah sosok panutan di desa kelahirannya Badran, Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres, Surakarta. Pergaulannya sangat luas. Kemahirannya bermain sepak bola membuatnya sering ditunjuk sebagai kapten kesebelasan. Dia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persis Solo dan Ketua Pengurus Cabang PSSI Surakarta. Hingga kini dia masih aktif di dunia persepakbolaan.

Di PDIP, Rudi sudah sangat lama menjadi kader. Posisi terakhirnya di partai sebelum menjabat Wakil Walikota adalah Ketua DPC PDIP Surakarta.

Rudi telah disiapkan oleh PDIP untuk maju sebagai Walikota Surakarta pada pemilihan 2005. Namun kemunculan Jokowi dari organisasi Asmindo malah membuat Rudi mengalah, dan bersedia hanya jadi wakil.

Jadi jika dikatakan bahwa Jokowi memberikan peluang kepada non-muslim untuk menjadi pemimpin Surakarta, sesungguhnya yang terjadi sebaliknya. Rudi lah orang pertama yang membukakan jalan bagi Jokowi untuk terjun ke dunia politik.

Ahok

Ahok pernah menaikkan haji para guru ngaji ketika dia menjabat sebagai Bupati Belitung Timur, 2005- 2010. Kenapa guru ngaji? Karena agama adalah aspek terpenting dalam pembentukan karakter manusia Indonesia. Ketaatan seseorang kepada agama, apapun agamanya, menjadi panduan moral bagi keharmonisan dan kerukunan hidup beragama. Ketegangan dan gesekan antar agama sering timbul sebagai akibat dari rendahnya paham keagamaan masyarakat yang kemudian dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk mengadu domba masyarakat.

Tahun 2012, sebagai wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahok membuat program yang serupa di Jakarta. Kali ini giliran muadzin yang dihajikan.

Apakah Jokowi bersekongkol dengan Rudi dan Ahok?

Ya, dalam arti positif, dan justru bermanfaat bagi ummat Islam. Mereka bersekongkol mengajarkan kepada rakyat Indonesia bahwa perbedaan agama adalah sumber kerukunan. Bukan sumber perpecahan. Mereka menunjukkan agama seharusnya menjadi "rahmatan lil alamin", sebagaimana ajaran Islam.

Fitnah 3: Jokowi adalah antek Yahudi

Fitnah ini berawal dari diberikannya keanggotaan kehormatan dari sebuah organisasi bernama Rotary Club kepada istri Jokowi, Iriana, pada acara ulang tahun Rotary Club tanggal 23 Februari 2012.

Organisasi apakah Rotary Club tersebut?

Rotary Club International adalah organisasi nirlaba yang berpusat di Amerika Serikat yang memfokuskan diri di bidang pelayanan sosial. Secara organisasi international, Rotary tidak jauh berbeda dengan Greenpeace yang memfokuskan diri di bidang lingkungan hidup.

Keanggotaan Rotary Club bersifat sukarela. Tidak ada pembatasan SARA. Namun demikian organisasi ini sering dituduh sebagai agen Yahudi karena salah seorang dari 4 orang pendirinya yaitu Gustav Loehr adalah anggota organisasi Freemason. Padahal di Freemason sendiri Gustav Loehr pernah dikeluarkan selama 7 tahun (1896-1903) akibat tidak membayar iuran keanggotaan. Sedangkan di Rotary, walaupun Loehr tercatat sebagai salah seorang pendiri, dia hanya pernah mengikuti 3 pertemuan awal dan berikutnya tak pernah lagi hadir.

Keanggotaan Kehormatan (Honorary Membership)

Rotary Club secara rutin memberikan status keanggotaan kehormatan kepada tokoh-tokoh publik yang dinilai memiliki komitmen dan prestasi terhadap pelayanan sosial. Penghargaan ini bersifat terbuka. Selain Iriana Jokowi, telah banyak tokoh-tokoh publik lain yang mendapatkan penghargaan serupa. Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika, adalah salah satunya.

Tokoh-tokoh international lain, dari masa ke masa, yang juga mendapatkan keanggotaan kehormatan dari Rotary Club, misalnya;

• - Thomas Alva Edison, sang penemu bola lampu.

• - Gamal Abdul Nasser, Presiden Mesir dan tokoh

nasionalisme Arab.

• - Asif Ali Zardari, pemimpin Partai Rakyat Pakistan, suami (almh) Benazir Bhutto.

Apakah orang-orang tersebut di atas dapat dituduh sebagai antek Yahudi?Apakah jika anda menggunakan facebook (yang dikembangkan oleh seorang Yahudi bernama Mark Zuckerberg) maka anda menjadi antek Amerika? Tentu tidak!

Tuduhan bahwa Jokowi adalah antek Yahudi benar-benar jauh panggang dari api, fitnah yang sama sekali tidak berdasar!

"Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang- orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata:”Ini adalah suatu berita bohong yang nyata." [An Nur : 12].

Fitnah 4: Jokowi penganut Syi’ah

Fitnah ini berawal dari bergabungnya Jalaluddin Rakhmat, seorang tokoh Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), ke PDIP dan maju menjadi caleg PDIP dari dapil Jawa Barat II. Fitnah SARA tersebut masih ditambah lagi dengan embel-embel bahwa Jalaluddin Rakhmat akan diangkat menjadi Menteri Agama di kabinet pemerintahan mendatang.

Sungguh tidak masuk akal. Tidak ada hubungan. Keberadaan Jalaluddin Rakhmat di PDIP, dan isu tak jelas dia akan jadi menteri (pemilu belum, presiden belum diangkat, apalagi menteri, jauh sekali?), dijadikan dasar mengatakan bahwa Jokowi penganut Syiah! Ini benar- benar fitnah keji.

Fitnah tersebut sama sekali tidak mendasar. Betul bahwa Jalaluddin Rakhmat bergabung dengan PDIP. Betul beliau maju dan terpilih sebagai anggota DPR RI. Tetapi bukankah setiap warga, apapun latar belakangnya, memiliki hak yang sama untuk bergabung dengan partai apapun?. Apakah dengan menjadi seorang Syi’ah maka Jalaluddin Rakhmat kehilangan hak konstitusionalnya untuk memilih dan dipilih sebagai anggota DPR RI?

Bukankah Indonesia diperjuangkan, dijaga, dibangun, dan dirawat, oleh kebhinnekaan yang berdiri di atas semua golongan?

Sekalipun demikian, fitnah tersebut akhirnya juga diklarifikasi. IJABI telah melakukan konferensi pers pada tanggal 25 April 2014 di Taman Ismail Marzuki, menyatakan bahwa Jokowi bukanlah penganut Syi’ah. Fitnah bahwa Jokowi seorang Syi’ah adalah tindakan adu-domba yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Masya Allah, semoga kita terhindar dari hasutan dan fitnah dari para kaum fasik pengadu domba sesama ummat Islam.

“Maha Suci Engkau (Allah) , ini merupakan kedustaan yang besar”. [An Nur : 16].

Fitnah 5: Herbertus Joko Widodo

Fitnah ini betul-betul sudah sangat jauh dari kebenaran. Ketika Jokowi difitnah sebagai non-muslim, para pendukungnya perlu memberikan penjelasan bahwa Jokowi sudah menyelesaikan seluruh rukun Islam hingga rukun kelima, menunaikan haji ke Mekkah. Walaupun Jokowi hampir tidak pernah menambahkan gelar “Haji” di depan namanya, namun demi membantah fitnah, ditulislah namanya “H. Joko Widodo”.

Tetapi penghembus fitnah tidak kehabisan akal. Mereka katakan bahwa titel “H” di depan nama Jokowi adalah nama baptisnya yaitu Herbertus, sehingga nama lengkap Jokowi disebut mereka sebagai Herbertus Joko Widodo.

Belum puas menambah nama baptis, mereka fitnah pula bahwa Jokowi adalah anak haram seorang pengusaha keturunan Cina asal Singapura bernama Herbertus.

Itu pun belum cukup, bahkan semakin menggila, mereka mengeluarkan lagi fitnah lebih kejam, dengan memuat berita kematian atas nama Ir. Herbertus Joko Widodo (Oey Hong Liong).

Sungguh fitnah seakan tiada habisnya menerpa Joko Widodo, akibat ketakutan lawan-lawan politik yang merasa terancam kehilangan pundi-pundi uang korupsinya.

Fitnah 6: Nama asli Jokowi: "Joko Oey"

Ini adalah kembangan fitnah titel “H”. Kali ini difitnah nama asli Jokowi adalah Handoko Joko Widodo. Dia dikatakan sebagai anak seorang pengusaha mebel etnis Cina bernama Oey Hong Liong, bermarga Oey. Nama Jokowi berasal dari "Joko Oey" yang berubah menjadi "Jokowi".

Sesungguhnyalahnama panggilan "Jokowi" berasal dari seorang pengusaha Perancis yang pernah berbisnis mebel dengan CV Rakabu, perusahaan mebel Jokowi, yaituMicl Romaknan. Karena banyaknya nama pengusaha mebel di Surakarta dan Jepara yang berawalan Joko, surat-menyurat sering tertukar. Micl Romaknan akhirnya memberi nama "Jokowi" untuk pemilik CV Rakabu agar membedakannya dengan Joko-Joko yang lain.

Sama sekali tidak benar bahwa nama Jokowi berasal dari "Joko Oey".

"Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan fitnah kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang sangat pedih". [Al-Buruj: 10]

Kesimpulan dari banyaknya fitnah terhadap keislaman Jokowi, adalah cerminan tak hentinya upaya kaum fasik menghalangi munculnya seorang pemimpin muslim yang adil, yang jujur, ikhlas bekerja keras penuh dedikasi, yang tercermin di sosok Jokowi. Fitnah-fitnah akan terus berdatangan, namun jika Allah menghendaki, yang benar akan tetap benar, kemenangan bagi pemimpin muslim dan umat Islam, tak akan dapat didustakan.

[cza]

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini