Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Emil ingin terlibat proses perubahan wajah baru eks-lokalisasi Dolly

Emil ingin terlibat proses perubahan wajah baru eks-lokalisasi Dolly Emil ingin terlibat proses perubahan Dolly. ©2018 Merdeka.com/Mochammad Andriansyah

Merdeka.com - Meski sudah 'dibombardir' Pemkot Surabaya 2014 silam, eks-lokalisasi Dolly di Kecamatan Sawahan masih menjadi magnet. Termasuk Cawagub Jawa Timur urut 1 Emil Elestianto Dardak yang mengaku ingin terlibat proses perubahan wajah baru kampung Dolly.

Suami Arumi Bachsin ini bahkan berkomitmen ingin meningkatkan sentra industri kreatif atau UMKM di kawasan yang konon pernah menjadi pusat lokalisasi terbesar se Asia Tenggara tersebut.

Menurut Emil, peran pemuda sangat strategis untuk terlibat dalam mengembangkan wajah baru eks-lokalisasi Dolly yang kini menjadi sentra UMKM, semisal kerajinan batik, sepatu, kerajinan tangan, dan lain sebagainya.

"Di sini (Dolly), ayo, kita harus menggali kreativitas anak-anak muda mulai dari membuka usaha. Sosiopreneur di sinilah tempatnya," kata Emil, Selasa (22/5).

Bahkan saat menggelar sahur bareng di Ropang Kopi 55, di kawasan Dolly dini hari tadi, Bupati non-aktif Trenggalek ini sempat berjanji akan menjadikan kreativitas dan inovasi para pemuda sebagai program nyata menjadikan perkampungan yang didirikan Nonik Belanda ini lebih maju lagi industri kreatifnya.

Roping Kopi 55 merupakan kafe yang dikelola anak-anak muda Dolly. Emil pun memujinya. "Itu luar biasa! Eks-lokalisasi bisa disulap oleh tangan kreatif menjadi caffe shop yang kekinian. Arsitektur akan mempengaruhi jiwa orangnya, design kafe seperti ini akan mendorong kita lebih kreatif," pujinya.

Kembali soal industri kreatif, alumnus University of Oxford ini menegaskan, bahwa Jawa timur dengan proporsi UMKM dalam perekonomian sangatlah baik. Oleh karena itu, tandasnya, perlu upaya memberdayakan industri kreatif secara optimal. Harapannya, ke depan industri kreatif, khususnya di eks-lokalisasi Dolly, bisa lebih maju lagi dan dikenal masyarakat luas.

Lantas Emil menyontohkan salah satu inovasi yang dikembangkan Trenggalek, yakni communal branding alias menciptakan produk atau merek milik bersama. "Karena pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tidak akan mampu membuat citra brand sendiri karena terlalu mahal," terangnya.

"Kita sudah menciptakan communal branding. Jadi itulah yang kami dorong sebagai upaya untuk UMKM. Ini salah contoh komitmen pemerintah benar-benar terbukti. Batik Trenggalek akhirnya bisa dijual di Sarinah Jakarta," sambungnya. (mdk/fik)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP