Waspadai masjid disusupi kelompok radikal untuk sebar kebencian

Minggu, 22 Juli 2018 11:37 Reporter : Didi Syafirdi
Waspadai masjid disusupi kelompok radikal untuk sebar kebencian rembuk aktivis 98. ©2018 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Masyarakat diminta waspada terhadap upaya penyebaran ujaran kebencian di rumah ibadah oleh kelompok tertentu. Perlu ada edukasi agar warga bersikap jika ada pihak yang sengaja menyebarkan permusuhan.

Ketua Lembaga Dakwah Pengurus BesarNahdlatul Ulama (LD PBNU), Maman Imanulhaq mengatakan, misal di masjid perlu dilakukan perbaikan manajemennya. Menurutnya, langkah itu sudah dilakukan oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan beberapa Ormas, di mana masjid betul-betul berfungsi tidak hanya tempat ibadah, tetapi juga tempat di mana kita melakukan pemberdayaan masyarakat.

"Dalam hal ini sangat penting untuk melibatkan anak muda dan masyarakat secara luas sehingga masjid tidak kosong. Masjid yang tidak ada pengelola biasanya mudah disusupi kelompok radikal," kata Maman dalam keterangannya, Minggu (22/7).

Selanjutnya, kata Kang Maman mengatakan, perlu dirumuskan kembali tema dalam khotbah agar berisi muatan agama yang menjadi spirit transformasi dan perdamaian. Dengan demikian diharapkan tidak ada orang yang memanfaatkan khotbah keagamaan lainnya yang berisi ajakan menjauhkan umat dari nilai Ketuhanan.

"Saya prihatin bila ada rumah ibadah digunakan untuk menyebarkan hate speech, kebencian, kedengkian, atau permusuhan. Kalau benar, ini menjadi semacam peringatan bagi kita untuk mengembalikan tempat ibadah itu kepada fungsi utama yaitu mendekatkan diri pada Sang Maha Kuasa, dan mempererat hubungan sesama manusia," tuturnya.

Terkait keberadaan kelompok radikal dan intoleran, Kang Maman menilai sebenarnya mayoritas umat Islam di Indonesia masih moderat dan toleran. Tapi kelemahannya umat Islam lebih memilih diam, sementara kelompok radikal yang jumlahnya sedikit, bisa masuk secara masif dan militan.

"Mereka menggunakan masjid, pengajian, sosmed, untuk menyebarkan kebencian itu. Maka saya mengajak agar kelompok moderat ini bangkit kita kembali ke masjid sebagai tempat untuk mencerdaskan, memberdayakan, dan menguatkan ukhuwah, baik itu islamiyah, wathoniyah (persaudaraan kebangsaan)," jelasnya papar pimpinan Ponpel Al Mizal Majalengka ini.

Sebenarnya, lanjut Kang Maman, bicara apapun di masjid atau rumah ibadah lainnya, boleh saja seperti soal ekonomi, budaya, politik. Yang tidak boleh itu menjadikan masjid sebagai alat politik praktis, sektarian, politik identitas, gampang menyalahkan orang lain.

Menurutnya, masjid seharusnya menjadi tempat efektif untuk melakukan pencerdasan terhadap masyarakat. Maka tentu sangat disayangkan, bila ada orang yang menggunakan tempat ibadah justru dipakai politik praktis untuk kepentingan sesaat.

"Tempat ibadah harus hadir dengan prinsipnya, sebagai tempat bersama untuk merumuskan kemajuan masyarakat, yang mau berubah, bersatu, dan terus menumbuhkan rasa persatuan," tandasnya. [did]

Topik berita Terkait:
  1. Terorisme
  2. Radikalisme
  3. Masjid
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini