Wamen Perdagangan Dorong Eksportir RI Jajaki Pasar Ekspor Baru, Asia Sumbang 40% PDB Global
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti mendesak eksportir Indonesia untuk memperluas jangkauan dan menjajaki pasar ekspor baru di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti, pada Kamis (16/10) mendesak pelaku usaha Indonesia untuk memperluas jangkauan ekspor mereka. Hal ini dilakukan guna menjajaki pasar-pasar baru di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah seminar yang diselenggarakan di Trade Expo Indonesia (TEI) di Tangerang, Banten. Esti menekankan bahwa pergeseran lanskap global membawa tantangan sekaligus peluang besar bagi perdagangan nasional.
Menurutnya, situasi saat ini mendorong Indonesia untuk memikirkan kembali strategi masuk ke pasar di luar tujuan tradisional. Langkah ini penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekspor dan ekonomi negara.
Pergeseran Dinamika Global dan Posisi Strategis Indonesia
Dyah Roro Esti menyoroti pergeseran signifikan dalam lanskap ekonomi dunia saat ini. Ia mencatat bahwa kawasan Asia kini berkontribusi sebesar 40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global. Angka ini menunjukkan peningkatan pengaruh dan kekuatan ekonomi di wilayah tersebut.
Dengan posisi geografisnya yang strategis, Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan integrasi regional. Negara ini juga dapat mengambil peran yang lebih kuat dalam rantai pasokan global. Hal ini menjadi modal penting untuk menggarap pasar ekspor baru.
"Situasi ini mendorong kita untuk memikirkan bagaimana kita dapat memasuki pasar di luar tujuan tradisional kita," ujar Esti. Pernyataan ini menegaskan perlunya adaptasi dan inovasi dalam strategi perdagangan.
Hilirisasi Industri dan Pemanfaatan Perjanjian Dagang
Esti juga menekankan transisi Indonesia dari ekspor bahan mentah menjadi produk bernilai tambah. Keberhasilan ini tidak lepas dari kebijakan hilirisasi industri yang gencar dilakukan pemerintah. Kebijakan ini telah menunjukkan hasil positif dalam meningkatkan daya saing produk nasional.
"Peningkatan ekspor barang berbasis nikel, turunan minyak kelapa sawit mentah, dan bahan kimia olahan menunjukkan kekuatan sektor manufaktur kita yang terus tumbuh," jelasnya. Ini membuktikan bahwa hilirisasi mampu menciptakan produk ekspor yang lebih beragam dan bernilai tinggi.
Untuk mendukung pertumbuhan ekspor lebih lanjut, Esti mendorong pelaku usaha memanfaatkan 24 perjanjian dagang. Perjanjian ini telah ditandatangani Indonesia dengan 30 negara, mencakup kesepakatan preferensial, perdagangan bebas, dan kemitraan ekonomi komprehensif.
“Kesepakatan dagang ini membuka pintu bagi akses pasar yang lebih luas, yang harus dimanfaatkan oleh bisnis kita,” tambahnya. Pemanfaatan perjanjian ini krusial untuk menembus pasar ekspor baru dan meningkatkan volume perdagangan.
Target dan Capaian Ekspor Indonesia
Kementerian Perdagangan telah menetapkan target pertumbuhan ekspor sebesar 7,1 persen untuk tahun 2025. Target ambisius ini sejalan dengan tujuan Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi keseluruhan delapan persen. Hal ini menunjukkan optimisme pemerintah terhadap sektor perdagangan.
Data kementerian menunjukkan bahwa dari Januari hingga Agustus 2025, ekspor Indonesia mencapai 185,12 miliar dolar AS. Angka ini merupakan peningkatan sebesar 7,72 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024. Pencapaian ini melampaui target awal yang ditetapkan.
Pemerintah berharap momentum positif ini dapat terus berlanjut. Eksportir Indonesia diharapkan dapat terus menjajaki pasar ekspor baru dan beradaptasi dengan perubahan arus perdagangan global. Adaptasi ini penting untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan.
Sumber: AntaraNews