Unik! Ponorogo Wajibkan Seragam Penadon 'Donda Dondi' untuk Pelajar, Lestarikan Budaya Sejak Dini

Pemerintah Kabupaten Ponorogo akan mewajibkan seragam Penadon 'Donda Dondi' bagi pelajar TK hingga SMA/SMK. Kebijakan ini bertujuan melestarikan budaya lokal dan menggerakkan ekonomi kreatif.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Unik! Ponorogo Wajibkan Seragam Penadon 'Donda Dondi' untuk Pelajar, Lestarikan Budaya Sejak Dini
Pemerintah Kabupaten Ponorogo akan mewajibkan seragam Penadon 'Donda Dondi' bagi pelajar TK hingga SMA/SMK. Kebijakan ini bertujuan melestarikan budaya lokal dan menggerakkan ekonomi kreatif. (Merdeka.com)

Pemerintah Kabupaten Ponorogo tengah menyiapkan kebijakan revolusioner untuk menanamkan kecintaan budaya lokal sejak dini. Bupati Sugiri Sancoko mengumumkan rencana penerapan seragam sekolah bernuansa penadon, pakaian adat khas "Bumi Reog". Kebijakan ini akan berlaku untuk seluruh jenjang pendidikan, mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Menengah Atas/Kejuruan.

Rancangan peraturan bupati (perbup) ini akan memperkenalkan seragam khusus bernama "penadon pemuda" atau donda, dan "penadon pemudi" atau dondi. Desain seragam ini dibuat lebih modern dan "slim fit" namun tetap mempertahankan karakter "Ponoragan" yang kuat. Tujuannya adalah agar identitas budaya Ponorogo semakin kental dalam keseharian pelajar.

Langkah ini tidak hanya bertujuan mengenalkan seni budaya daerah kepada anak-anak, tetapi juga diharapkan mampu menggerakkan roda perekonomian lokal. Bupati Sugiri Sancoko menegaskan bahwa kebijakan ini sekaligus akan menghidupkan sektor ekonomi kreatif. Ini termasuk perajin batik dan pelaku usaha busana tradisional di Ponorogo.

Desain seragam penadon "donda" dan "dondi" akan dibuat lebih modern dan "slim fit" agar menarik bagi generasi muda. Meskipun demikian, seragam ini akan tetap memancarkan karakter "Ponoragan" yang menjadi ciri khas daerah. Warna dasar pakaian akan tetap hitam seperti penadon tradisional, namun diperkaya dengan corak batik khas Ponorogo.

Tujuan utama dari kebijakan seragam penadon ini adalah untuk mengenalkan seni budaya dan karakter "Ponoragan" kepada anak-anak sejak dini. Dengan demikian, diharapkan para pelajar akan tumbuh dengan rasa bangga terhadap jati diri daerahnya. Ini merupakan upaya konkret untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya Ponorogo.

Inisiatif ini merupakan kelanjutan dari tradisi yang sudah lebih dulu diterapkan di lingkungan aparatur sipil negara (ASN) Ponorogo. Penadon saat ini menjadi busana wajib ASN setiap bulan sekali pada pekan terakhir, serta dikenakan penuh selama perayaan Grebeg Suro. Penerapan seragam penadon di sekolah diharapkan dapat memperkuat fondasi budaya ini di kalangan generasi penerus.

Bupati Sugiri Sancoko berharap, penerapan seragam penadon di sekolah tidak hanya menjadi simbol budaya semata. Lebih dari itu, kebijakan ini diharapkan dapat mendukung perekonomian kreatif, khususnya bagi perajin batik dan pelaku usaha busana tradisional di Ponorogo. Seragam khas ini akan menciptakan permintaan yang stabil.

Jika seragam khas ini dipakai secara rutin oleh ribuan pelajar, otomatis akan menambah peluang usaha dan lapangan kerja di sektor konveksi dan batik lokal. Hal ini akan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat Ponorogo. Kebijakan ini menjadi stimulus penting bagi industri kecil dan menengah di daerah.

Pemerintah daerah melihat potensi besar dalam mengintegrasikan budaya dengan ekonomi. Dengan mewajibkan seragam penadon, mereka tidak hanya melestarikan budaya tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. Ini adalah strategi yang komprehensif untuk pembangunan daerah.

Rancangan peraturan bupati mengenai seragam penadon ini masih dalam tahap penyusunan. Proses ini melibatkan tim perancang dan unsur pendidikan untuk memastikan semua aspek telah dipertimbangkan dengan matang. Pemerintah berkomitmen untuk menghasilkan regulasi yang efektif dan dapat diterima.

Setelah selesai, kebijakan ini akan disosialisasikan secara menyeluruh ke seluruh sekolah di Kabupaten Ponorogo. Tujuannya agar implementasi dapat berjalan lancar dan semua pihak memahami maksud serta tujuan dari kebijakan ini. Sosialisasi yang baik akan menjadi kunci keberhasilan program.

Bupati Sugiri Sancoko memiliki visi jangka panjang untuk identitas budaya Ponorogo. Ia berharap, identitas Ponorogo sebagai kota budaya dan santri semakin kental, tidak hanya pada momen tertentu, tetapi menjadi bagian dari keseharian pelajar dan masyarakat. Selain donda dan dondi, ada juga rencana penadon untuk kalangan usia lanjut, serta dorongan bagi masyarakat untuk mengenakan sarung bagi laki-laki dan gamis untuk perempuan setiap Jumat sebagai bentuk penghormatan budaya.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi