Capres petahana Joko Widodo beberapa kali berbicara lebih lantang dari biasanya saat menjawab tudingan lawan politik. Pengamat politik dari Universitas President, AS Hikam, menilai bicara keras Jokowi karena selama ini karakter seorang juru bicara tidak muncul di Tim Kampanye Nasional (TKN) padahal itu sangat penting.
Dia mencontohkan pernyataan Jokowi soal timses pasangan tertentu menggunakan konsultan asing hadapi Pilpres, hingga adanya propaganda Rusia. Pernyataan tersebut diyakini tak jadi kontroversi jika yang menyampaikan hanya juru bicara bukan Jokowi.
"Mohon maaf, untuk petahana belum ada orang yang mempunyai kapasitas untuk melakukan penetrasi itu kepada publik. Bukan hanya untuk persoalan kampanye, tetapi persoalan komunikasi. Belum ada orang yang bisa menjadi bumper dan piawai melakukan penetrasi dalam hal komunikasi politik," kata Hikam dalam diskusi di Gado-Gado Boplo, Karet, Jakarta Selatan, Sabtu (9/2).
Menurutnya, hal itulah jadi penyebab gaya komunikasi politik Jokowi menjadi berubah dibandingkan Pilpres sebelumnya. Pada 2014, Jokowi terlihat lebih santai, kini tampil lebih menyerang.
"Jadi kalau kita melihat perubahan gaya komunikasi politik Pak Jokowi yang terlihat atau dipersepsikan berubah, ya bisa jadi karena faktor orang dekat di sekeliling Pak Jokowi yang belum mampu menangkap sinyal-sinyal itu," katanya.
Dalam beberapa kesempatan, Jokowi menjawab serangan-serangan yang dilancarkan lawan politiknya dengan pernyataan keras dan lugas. Itu disampaikan Jokowi saat bertemu dengan para relawannya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Dia memberikan contoh beberapa isu hoaks yang merajalela jelang Pilpres, mulai dari 7 kontainer sudah dicoblos, hingga selang darah dipakai 40 kali di rumah sakit. "Saya berikan contoh, katanya ada 7 kontainer yang sudah dicoblos. 7 Kontainer itu kalau saya hitung 80 juta kertasnya (surat suara). Begitu dijawab diam," kata Jokowi.
"Besoknya keluar lagi selang darah dipakai sampai 40 kali. Dijawab lagi dari RSCM, diam," lanjut Jokowi.
Tidak hanya itu, Jokowi juga mengungkit terkait kasus hoaks yang menjerat Ratna Sarumpaet. Dia mengatakan yang tidak benar adalah yang memberikan indivasi bahwa Ratna babak belur lantaran dipukuli dan dianiaya. "Itu enggak benar. Itu maunya apa sih? Maunya sebetulnya apa? Nuduh kita kriminalisasi, itu saja sebetulnya arahnya," kata Jokowi.
Namun Jokowi yakin masyarakat kini bisa cerdas. Dan tidak bisa termakan isu hoaks. "Tapi masyarakat sekarang ini cerdas dan masyarakat pintar-pintar. Dipikir masyarakat masih bodoh-bodoh," tegas Jokowi.