Tentara Nasional Indonesia (TNI) telah merampungkan pembangunan tujuh unit jembatan darurat jenis aramco dan bailey di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Penyelesaian proyek ini secara signifikan memulihkan konektivitas transportasi yang sempat terputus akibat kerusakan infrastruktur. Akses yang kembali normal ini sangat krusial untuk mendukung aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat setempat.
Komandan Kodim (Dandim) 0304/Agam, Letkol Inf. Slamet Dwi Santoso, menyatakan bahwa pembangunan ini mencakup empat unit jembatan aramco dan tiga unit jembatan bailey. Sebagian besar jembatan tersebut kini telah fungsional sepenuhnya, dengan satu unit jembatan bailey yang masih dalam tahap penyelesaian akhir. Upaya cepat tanggap TNI ini menjadi solusi vital bagi warga Agam.
Proyek pembangunan jembatan ini, yang memakan waktu sekitar dua minggu, melibatkan ratusan personel gabungan dari berbagai satuan TNI. Kehadiran jembatan-jembatan baru ini diharapkan dapat memperlancar distribusi hasil pertanian, mempermudah akses anak sekolah, serta menghubungkan kembali daerah-daerah yang terisolasi. Ini adalah langkah konkret dalam pemulihan pasca-bencana.
Advertisement
Advertisement
Letkol Inf. Slamet Dwi Santoso menjelaskan secara rinci progres pembangunan jembatan-jembatan tersebut di Lubuk Basung pada Minggu, 25 Januari 2026. Empat unit jembatan aramco telah selesai 100 persen, berlokasi di Kecamatan Tanjung Raya sebanyak tiga unit dan satu unit di Kecamatan Malalak. Keberadaan jembatan aramco ini sangat penting untuk jalur-jalur pedesaan.
Sementara itu, dari tiga unit jembatan bailey, dua di antaranya telah rampung 100 persen. Kedua jembatan bailey yang selesai sepenuhnya berada di Sungai Rangeh, Kecamatan Tanjung Raya, dan Kubu Sarunai, Kecamatan Canduang. Satu unit jembatan bailey lainnya yang berlokasi di Aia Taganang, Kecamatan Matur, telah mencapai 90 persen penyelesaian dan kini tinggal tahap pengecatan.
Pembangunan jembatan ini melibatkan sinergi personel dari Batalyon Zeni Konstruksi 12/KJ Banyuasin, Detasemen Zeni Tempur (Denzipur) 2/Prasada Sakti, Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 896/Serumpun Pseko, dan Batalyon Teritorial Pembangunan 897/Singgalang. Setiap pembangunan jembatan melibatkan sekitar 50 personel Batalyon Teritorial Pembangunan dan 20 tim teknis dari Denzipur.
Advertisement
Advertisement
Dengan selesainya pembangunan jembatan-jembatan ini, akses transportasi di Kabupaten Agam kembali normal sepenuhnya. Hal ini membawa dampak positif yang signifikan bagi kehidupan sehari-hari masyarakat. Jalur-jalur yang sebelumnya terputus kini dapat dilalui kembali oleh kendaraan, mempermudah mobilitas warga.
Salah satu warga Matur Hilia, Dahril (38), mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan TNI dalam pembangunan jembatan bailey. Menurut Dahril, jembatan ini merupakan jalur alternatif vital yang menghubungkan Matua Mudiak dengan Kecamatan Palupuh dan Kota Bukittinggi. Kerusakan jembatan sebelumnya telah menyebabkan kesulitan besar bagi warga.
Dahril menambahkan bahwa jembatan di Sungai Batang Aia Taganang mengalami kerusakan parah dan hanyut diterjang arus sungai akibat curah hujan tinggi pada akhir November 2025. Insiden tersebut mengakibatkan lumpuhnya total arus lalu lintas yang menghubungkan Kecamatan Matur menuju Palupuh dan Kota Bukittinggi. Sebelumnya, hanya jembatan darurat dari kayu yang bisa dilalui kendaraan roda dua.
Advertisement
Normalisasi akses ini tidak hanya memperlancar kegiatan ekonomi seperti pengiriman hasil pertanian, tetapi juga memastikan kelancaran aktivitas pendidikan bagi anak-anak sekolah. Keberadaan jembatan yang kokoh dan permanen ini menjadi simbol pemulihan dan ketahanan masyarakat Agam dalam menghadapi bencana.
Sumber: AntaraNews