Terinspirasi Legenda Minahasa, Film Horor Songko Siap Teror Bioskop Indonesia

Film Horor Songko, terinspirasi legenda Minahasa, akan segera tayang. Saksikan ketegangan dari kisah nyata yang diangkat ke layar lebar, siap menghantui penonton di seluruh Indonesia.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Terinspirasi Legenda Minahasa, Film Horor Songko Siap Teror Bioskop Indonesia
Film Horor Songko, terinspirasi legenda Minahasa, akan segera tayang. Saksikan ketegangan dari kisah nyata yang diangkat ke layar lebar, siap menghantui penonton di seluruh Indonesia. (AntaraNews)

Dunia Mencekam Studio dan Santara Production siap menghadirkan film horor terbaru berjudul “Songko” yang terinspirasi dari legenda lokal di masyarakat Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa dan Tomohon. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 23 April 2026, menjanjikan pengalaman horor yang autentik dan mendalam. Debut penyutradaraan Gerald Mamahit ini akan membawa penonton menyelami kekayaan cerita rakyat dari Indonesia Timur.

Film Horor Songko tidak hanya menawarkan ketegangan visual, tetapi juga menggali akar cerita yang kuat dari tradisi lokal Sulawesi Utara. Gerald Mamahit menyatakan bahwa Songko merupakan cerita yang sangat dekat dengan budaya dan legenda masyarakat Minahasa. Pendekatan ini diharapkan mampu menghadirkan horor yang terasa autentik, bukan hanya menakutkan secara visual, tetapi juga memiliki akar cerita yang kuat dari tradisi lokal. Proyek ini juga secara aktif melibatkan talenta-talenta lokal untuk memastikan keaslian narasi yang dihadirkan.

Berlatar tahun 1986, film ini mengisahkan teror misterius di sebuah desa di Tomohon, Minahasa, di mana satu per satu perempuan muda ditemukan tewas secara mengenaskan tanpa penjelasan yang pasti. Ketakutan warga memuncak hingga memunculkan tuduhan terhadap keluarga Mikha, khususnya Helsye, ibu tiri Mikha, yang dituduh memanggil Songko ke desa mereka. Para pemeran seperti Annette Edoarda, Imelda Therinne, Fergie Brittany, Tegar Satria, dan Khiva Iskak turut terlibat dalam film yang mengangkat kisah horor berbeda ini.

Film Horor Songko menjadi bukti komitmen untuk mengangkat kekayaan legenda lokal Indonesia ke layar lebar. Gerald Mamahit, sebagai sutradara, menekankan pentingnya menghadirkan horor yang autentik dan berakar kuat pada tradisi masyarakat Minahasa. Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan pengalaman sinematik yang lebih dari sekadar menakutkan secara visual.

Keautentikan cerita semakin diperkuat dengan keterlibatan talenta-talenta lokal dari Minahasa, Manado, dan Tomohon dalam produksi film ini. Khiva Iskak, salah satu aktor, mengungkapkan bahwa cerita yang diangkat terasa sangat dekat dengan kehidupan masyarakat setempat. Suasana syuting di Tomohon juga disebut sangat mendukung atmosfer cerita yang mencekam, membuat pengalaman bermain terasa sangat intens.

Annette Edoarda juga tertarik bergabung karena kekuatan cerita Film Horor Songko yang dianggap berbeda dari kebanyakan film horor lainnya. Ia menjelaskan bahwa film ini bukan hanya tentang ketakutan, melainkan juga tentang tuduhan, dan bagaimana sebuah desa bisa terpecah karena teror yang tidak mereka pahami. Ini menunjukkan kedalaman narasi yang ingin disampaikan oleh film tersebut.

Film Horor Songko membawa penonton ke sebuah desa di Tomohon, tanah Minahasa, pada tahun 1986, yang dilanda teror mematikan. Satu per satu perempuan muda ditemukan tewas secara mengenaskan tanpa penjelasan yang pasti, menciptakan ketakutan mendalam di kalangan warga. Kejadian ini menjadi inti dari misteri yang akan diungkap dalam film.

Warga desa mulai percaya bahwa serangkaian kematian tersebut bukan kejadian biasa. Mereka meyakini bahwa desa mereka didatangi oleh Songko, makhluk misterius yang dipercaya mengincar darah suci dari perempuan muda demi memperoleh kekekalan. Kepercayaan lokal ini menjadi fondasi utama elemen horor dalam cerita, memadukan mitos dengan ketegangan psikologis.

Ketakutan yang melanda perlahan berubah menjadi kecurigaan. Tuduhan demi tuduhan mulai bermunculan, hingga akhirnya mengarah kepada keluarga Mikha. Helsye, ibu tiri Mikha, dituduh sebagai dalang yang memanggil Songko ke desa mereka, menciptakan konflik internal yang kompleks di tengah teror eksternal.

Santara Production menunjukkan komitmen kuat terhadap konsep hyperlocal storytelling melalui Film Horor Songko. Tidak hanya menjadikan Sulawesi Utara sebagai latar cerita, tim produksi bahkan membangun area set lokasi syuting di kaki Gunung Lokon, Tomohon. Set ini dirancang bukan sekadar instalasi sementara, melainkan sebagai infrastruktur kreatif berkelanjutan.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk membangun ekosistem perfilman daerah yang lebih kuat. Dengan melibatkan sebagian besar pemeran dan kru dari Minahasa, Manado, dan Tomohon, proyek ini menjadi ruang kolaborasi penting bagi talenta lokal. Ini memberikan kesempatan bagi mereka untuk terlibat langsung dalam produksi film layar lebar.

Inisiatif ini tidak hanya mendukung pengembangan industri film di daerah, tetapi juga memastikan bahwa cerita yang diangkat memiliki kedekatan budaya yang kuat dan terasa lebih autentik. Film Horor Songko diharapkan dapat menjadi contoh bagaimana produksi film dapat memberdayakan komunitas lokal sekaligus menghasilkan karya berkualitas.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi