Tari Gandrung Sewu, wujud syukur petani di musim panen

Jumat, 16 Maret 2018 10:28 Reporter : Darmadi Sasongko
Tari Gandrung Sewu, wujud syukur petani di musim panen Tarian Gandrung Sewu. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Musik rancak yang menjadi ciri khas gamelan Banyuwangi bertalu-talu mengiringi tarian Gandrung Sewu. Gerakan para penarinya pun dinamis yang seolah menggambarkan kerja keras petani yang tengah memanen hasil bumi.

Memang, tari Gandrung Sewu sendiri merupakan tarian perwujudan rasa syukur masyarakat setiap selesai panen. Tarian tradisional Banyuwangi yang indah dan elegan itu menceritakan kisah kuno masyarakat Blambangan.

Kata Gandrung diartikan sebagai terpesonanya masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi. Dewi Sri dipercaya dan dianggap sebagai pembawa kesejahteraan bagi umat manusia. Gandrung sendiri merupakan seni pertunjukan yang disajikan dengan iringan musik khas yakni gamelan Osing.

Sebagai sebuah kesenian tradisional, tari Gandrung Sewu sudah tidak banyak disajikan, apalagi secara kolosal sebagaimana namanya. Namun kostum dengan dominasi warna merah dan gemerlap emas cukup merepresentasi ribuan penari.

"Senang punya kesempatan menyaksikan, dapat pengetahuan tentang tari Gandrung. Ini promosi juga pada para tamu asing," kata salah seorang tamu Farid Hardja di Hotel Tugu Malang, Kamis (25/2) malam.

Menjadi istimewa, Tari Gandrung Sewu disajikan sebagai tema Indonesian Cultural Dining Series yang berlangsung di ruang Tirtagangga Hotel Tugu Kota Malang. Pertunjukan digelar dalam ruang perjamuan yang diinspirasi sejarah Jalan Sutra dan Rempah-Rempah India, Arab, Cina dan Mongolia.

Ruangan indah berhias mawar merah, lampu gantung yang menghadap taman dengan diiringi suara deras air kolam. Citra hotel bersejarah yang melekat membawa suasana eksotis layaknya istana.

"Kami juga belum memungkinkan menyajikan dalam bentuk kolosal. Ini sebagai bentuk konsistensi dalam pelestarian kesenian budaya Indonesia yang tentunya sangat bangga menjadi bagian di dalamnya," kata Crescentia Harividyanti, Executive Assistant Manager Hotel Tugu Malang.

Indonesian Cultural Dining Series digelar setiap bulan, yakni setiap tanggal 15 dan sudah terselenggara 30 kali. Pihak hotel secara gratis memberikan sajian tarian kepada para tamu, pengunjung restoran dan undangan. Bahkan porsi sebagian tamu, diundang dari berbagai kalangan guna mendapatkan pengetahuan tentang kesenian tradisional secara tematik.

"Ini sekaligus untuk memberikan ruang panggung kepada para seniman kesenian tradisional," tegasnya.

Tidak hanya tarian Gandrung Sewu tersaji, tetapi juga didukung pertunjukan Gamelan Jawa berikut lantaran seorang sinden dengan tembang- tembang Jawa. Pada akhir pertunjukan, para tamu pun diajak Gandrung di tengah ruang perjamuan.

Mereka yang mendapat sampur (selendang) harus ikut turun menari yang kontan mengundang riuh dan riang. Tampak beberapa bule ikut asyik menari berkalung sampur. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. Tradisi Jawa
  2. Kesenian
  3. Malang
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini