Tak Lagi Infrastruktur, Jokowi Mulai Bangun SDM Tahun Depan

Senin, 3 Desember 2018 19:50 Reporter : Moh. Kadafi
Tak Lagi Infrastruktur, Jokowi Mulai Bangun SDM Tahun Depan Jokowi resmikan tol Seragen Ngawi. ©2018 Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Presiden Jokowi akan memulai membangun Sumber Daya Manusia (SDM) pada 2019 nanti. Sejak memimpin Indonesia tahun 2014, Jokowi bersama Wapres JK lebih fokus terhadap pembangunan infrastruktur.

Niatan itu diungkapkan oleh Mendikbud Muhadjir Effendy saat membuka International Symposium on Open, Distance and E-Learning (ISODEL) tahun 2018, dengan tajuk 'Making Education 4.0 Indonesia,' bertempat di Kuta, Badung, Bali, Senin (3/12) sore.

Muhadjir menyampaikan, bahwa sesuai dengan arahan Presiden Jokowi, untuk tahun 2019 akan beralih dari pembanguan Infrastruktur ke Sumber Daya Manusia (SDM).

"Terutama untuk menyiapkan SDM yang andal dan kompatibel dengan infrastruktur yang sudah ada. Dan itu tentu saja bergeser tanggung jawab dari kementerian-kementerian yang selama ini mengurusi infrastuktur sekarang bergeser kepada kementerian-kementerian yang mengurusi SDM. Salah satunya adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)," ucapnya.

Muhadjir juga menjelaskan, untuk Kemendikbud saat ini sudah terdensentralisasi sesuai dengan undang-undang nomor 23 tahun 2014.

"Urusan pemerintahan di sektor pendidikan itu namanya Konkuren, yang artinya kewenangannya terbagi antara pusat dan daerah. Karena itu, tentu saja berhasil dan tidaknya tugas dari Kemendikbud dalam merespon kebijakan Presiden (Jokowi) dalam mengalihkan ke arah pembangunan SDM itu akan tergantung kerjasama, dan inisiatif baik dari pihak pemerintah," imbuhnya.

"Salah satu alat untuk membangun interkoneksi di dalam merealisasi program-program pendidikan adalah information communication technology. Ini salah satunya, adalah jembatan untuk merealisasikan hal itu. Jadi kita akan terus intensifkan penerapan teknologi informasi untuk pendidikan," tambah Muhadjir.

Sementara untuk kesiapan guru dalam menghadapi program Isodel memang harus dilakukan perubahan secara masif dan tentunya perlu kerja keras.

"Kita itu punya guru jumlahnya 30.17.000 (Tiga Juta Tujuh Belas Ribu di Indonesia). Jadi memang untuk melakukan perubahan ini secara masif itu perlu kerja keras. Tidak ada pilihan lain bagi guru harus terus responsif dan terus belajar. Terutama, untuk mengadopsi teknologi informasi pembelajaran yang sekarang kita gulirkan," ungkapnya.

Dalam penerapan teknologi, menurut Muhadjir, tergantung kepada aktivitas dan respon para guru. Tanpa inisiatif dari para guru tidak mungkin melakukan penerapan teknologi.

"Karena itu tadi banyak sekali vendor yang menawarkan berbagai macam fasilitas, termasuk fortal. Saya berharap, guru-guru menyadari bahwa sekarang zaman sudah sangat berubah dan tentu sangat cepat. Apa yang dipelajari waktu kuliah sudah tidak ada gunanya lagi sekarang. Dia (Guru) harus belajar lagi, kalau tidak bisa digilas oleh peserta didiknya. Karena perserta didiknya jauh lebih cepat merespon," jelasnya.

Sementara, untuk anggaran yang disiapkan dalam pendidikan, Muhadjir menyampaikan sangat bersar.

"Untuk anggaran pendidikan 20 persen, itu totalnya sekarang sekitar Rp 490 triliun. Tetapi 63 persen untuk di daerah. Kemendikbud, hanya mengelolah 7 persen yaitu Rp 35 triliun," ujarnya.

"Tidak ada pilihan lain, daerah harus betul-betul mulai bangkit. Menyadari betul, bahwa SDM sekarang menjadi kunci dan tanggung jawab pemerintah daerah. Terutama masyarakat juga sangat menentukan. Anggaran sekarang sudah didistribusikan di daerah," ujar menteri yang berafiliasi dengan Kemenko PMK tersebut. [rnd]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini