Pameran bertajuk “Jalinan Waktu: Pewarnaan dan Tenunan Wastra Indonesia dan Jepang” resmi dibuka di Museum Nasional, Jakarta, pada 25 Oktober. Acara ini menyoroti kesamaan filosofi antara wastra Indonesia dan Jepang, meskipun dengan teknik dan material yang berbeda.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan bahwa tradisi kedua negara memiliki prinsip yang sama dalam memuliakan keselarasan dengan alam. Pernyataan ini disampaikan saat dikonfirmasi Antara dari Jakarta pada Sabtu.
Kolaborasi antara Museum dan Cagar Budaya Indonesia dengan Museum Nasional Tokyo ini bertujuan untuk melestarikan dan merayakan warisan budaya. Pameran ini akan berlangsung hingga 7 Desember 2025, menawarkan wawasan mendalam tentang kekayaan tekstil tradisional.
Advertisement
Advertisement
Filosofi Harmoni Alam dalam Wastra Indonesia Jepang
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa wastra Indonesia dan Jepang, meskipun memiliki perbedaan bahan dan teknik, berbagi esensi keselarasan dengan alam. Ia menyebutkan contoh seperti songket dan shibori, serta ikat atau yuzen, sebagai bukti nyata dari prinsip ini.
"Karya-karya tersebut mencerminkan pencarian manusia untuk menciptakan keindahan yang menghubungkan bumi, jiwa, dan generasi penerus," ujar Menbud Fadli Zon. Filosofi ini menjadi benang merah yang mengikat kekayaan tekstil dari kedua negara.
Pameran ini menampilkan 26 koleksi wastra Jepang dari Museum Nasional Tokyo, sebagian besar berupa kimono, yang disandingkan dengan tekstil tradisional Indonesia. Perbandingan ini menunjukkan bagaimana kedua budaya mengekspresikan keindahan alam melalui seni pewarnaan dan tenun.
Advertisement
Advertisement
Kolaborasi Budaya dan Hubungan Diplomatik yang Erat
Pameran “Jalinan Waktu” merupakan wujud nyata kolaborasi erat antara institusi kebudayaan Indonesia dan Jepang. Kedua museum memikul tanggung jawab besar dalam melestarikan serta merayakan warisan budaya yang tak ternilai harganya.
Hubungan antara Indonesia dan Jepang telah terjalin melalui sejarah panjang, yang terus berkembang dan membawa makna lintas generasi. "Kedua negara kita menjalin hubungan diplomatik pada tahun 1958, dan selama hampir tujuh dekade kita telah membangun kemitraan yang saling menguntungkan," lanjut Menteri Fadli Zon.
Menteri Fadli Zon juga menambahkan bahwa budaya hadir lebih awal dari bentuk kerja sama lainnya, menjadi fondasi kepercayaan dan saling menghormati antara masyarakat. Kolaborasi ini sejalan dengan Konstitusi Indonesia dan Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, memperkuat diplomasi budaya dan ekonomi kreatif.
Advertisement
Menatap 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Jepang pada tahun 2028, kolaborasi semacam ini menunjukkan bahwa budaya adalah dialog hidup yang harus terus dipelihara melalui pengelolaan bersama.
Advertisement
Apresiasi Batik dan Warisan Budaya Lintas Negara
Chargée d'affaires Kedutaan Besar Jepang, Myochin Mitsuru, mengungkapkan apresiasi terhadap batik Indonesia. Batik, yang diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, telah mendapat sambutan luas di Jepang karena signifikansi budayanya yang mendalam.
Pameran ini secara khusus membandingkan tekstil Indonesia, seperti batik dan ikat, dengan teknik pewarnaan dan tenun Jepang. Perbandingan ini menyoroti kekayaan tradisi kedua negara dan sejarah yang terus berlanjut hingga kini.
Pengunjung dapat menikmati pameran “Jalinan Waktu” mulai 25 Oktober hingga 7 Desember 2025. Selain koleksi wastra, setiap akhir pekan selama periode pameran akan diselenggarakan berbagai lokakarya budaya Jepang yang menarik.
Advertisement
Sumber: AntaraNews