Organisasi nirlaba global Marine Stewardship Council (MSC) kembali mengingatkan para nelayan di Indonesia untuk senantiasa menjaga kelestarian laut. Mereka menyerukan pentingnya penerapan praktik penangkapan ikan yang berkelanjutan demi masa depan sumber daya laut. Langkah ini krusial untuk memastikan ketersediaan ikan bagi generasi mendatang.
Peringatan ini disampaikan oleh Senior Commercial Communications Officer MSC Indonesia, Usmawati Anggita, di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran nelayan mengenai dampak penangkapan ikan terhadap ketersediaan stok. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan MSC.
Mengingat jumlah penduduk global terus bertambah, ketersediaan sumber pangan laut seperti ikan menjadi krusial. Oleh karena itu, nelayan diharapkan tidak hanya memikirkan hasil tangkapan hari ini, tetapi juga keberlanjutan stok di masa depan. Pemikiran jangka panjang sangat diperlukan dalam industri perikanan.
Advertisement
Advertisement
Tanda-tanda Penurunan Stok Ikan dan Pentingnya Sertifikasi MSC
Anggita menceritakan kondisi nelayan tradisional tuna sirip kuning di wilayah Maluku yang mengalami perubahan pola menangkap ikan. Para nelayan yang biasanya hanya cukup berlayar selama satu jam sudah bisa menangkap ikan tuna, namun sekarang mereka harus berlayar lebih lama. Terkadang hasil tangkapan mereka hanya berupa ikan berukuran kecil, yang merupakan tanda ada penurunan stok dan juga kualitas penangkapan ikan.
Melihat kondisi tersebut, para nelayan tuna sirip kuning di Maluku lantas bergabung dengan MSC selama kurang lebih tujuh tahun. Mereka didampingi untuk menerapkan praktik penangkapan ikan yang berkelanjutan. Hingga akhirnya, mereka berhasil memenuhi standar ekolabel internasional dan bisa menjual hasil tangkapan ke pasar ekspor.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa praktik berkelanjutan bukan hanya menjaga lingkungan semata. Namun juga secara signifikan meningkatkan nilai ekonomi hasil tangkapan para nelayan. Sertifikasi MSC menjadi kunci penting dalam membuka akses ke pasar global yang lebih luas.
Advertisement
Advertisement
Tiga Aspek Kunci dalam Sertifikasi Ekolabel MSC
Anggita memaparkan ada tiga aspek utama yang harus dipatuhi oleh nelayan agar hasil tangkapan bisa memperoleh sertifikat ekolabel dari MSC. Pertama, nelayan tidak boleh menggunakan alat tangkap yang berbahaya bagi ekosistem laut. Hal ini bertujuan untuk melindungi habitat laut dan keanekaragaman hayati.
Kedua, nelayan tidak boleh menangkap spesies yang terancam, terancam punah, dan dilindungi. Aspek ini sangat penting untuk konservasi keanekaragaman hayati laut dan menjamin kelangsungan hidup spesies-spesies rentan. Kepatuhan terhadap poin ini menunjukkan komitmen terhadap perlindungan lingkungan.
Ketiga, nelayan harus memenuhi semua aturan di tingkat lokal, nasional, dan internasional yang berlaku. Kepatuhan ini mencakup regulasi perikanan yang berlaku, serta menjamin legalitas dan etika dalam setiap aktivitas penangkapan. Seluruh aturan ini dirancang untuk memastikan pengelolaan perikanan yang bertanggung jawab.
Advertisement
Di Nusa Tenggara Barat, MSC saat ini sedang mendampingi dan mendorong para nelayan kakap-kerapu di Sumbawa. Tujuannya adalah agar mereka bisa memenuhi semua persyaratan yang diperlukan. Ini adalah langkah menuju produk perikanan berkelanjutan dan diterima oleh pasar ekspor.
Advertisement
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan dari Produk Bersertifikat MSC
Produk perikanan yang telah memperoleh sertifikasi MSC terbukti lebih mudah masuk ke pasar ekspor global. Komoditi tuna sirip kuning dan cakalang, terutama yang dihasilkan dari perairan timur Indonesia, saat ini sudah memenuhi standar keberlanjutan global MSC. Hal ini membuat produk tersebut lebih mudah menembus berbagai supermarket di Eropa, Amerika, dan Jepang.
Anggita menjelaskan, ketika konsumen membeli produk bersertifikat, ada rasa untuk bisa berkontribusi terhadap lingkungan dan juga laut. Ini menciptakan permintaan pasar yang positif untuk produk-produk berkelanjutan. Kesadaran konsumen menjadi pendorong utama perubahan.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Nusa Tenggara Barat, Karim Marasabessy, menambahkan bahwa produk bersertifikat ekolabel dihargai lebih mahal. Kondisi ini secara langsung berdampak positif terhadap pendapatan para nelayan yang menggantungkan hidup dari sumber daya laut. Peningkatan nilai jual ini menjadi insentif besar bagi nelayan.
Advertisement
Saat ini, DKP NTB mengusahakan agar komoditi kakap dan kerapu yang ditangkap oleh nelayan Sumbawa bisa mendapatkan sertifikasi MSC. Setelah itu, mereka berencana untuk menyusul dengan komoditi gurita. Langkah ini menunjukkan komitmen daerah dalam mendukung perikanan berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews