Tahukah Anda, Lagu Anak Media Pembelajaran Dihidupkan Kembali Lewat KICAU 2025 oleh Kemendikdasmen!
Kemendikdasmen kembali menghidupkan lagu anak sebagai media pembelajaran melalui KICAU 2025. Mengapa lagu anak penting dan bagaimana KICAU menjawab kerinduan ini?
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengambil langkah strategis untuk mengembalikan peran penting lagu anak sebagai media pembelajaran. Inisiatif ini diwujudkan melalui program Karya Cipta Lagu Pembelajaran Anak Usia Dini (KICAU) 2025. Program ini hadir sebagai jawaban atas kelangkaan lagu anak yang mendidik di tengah dominasi konten digital dan lagu dewasa.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa lagu bukan sekadar hiburan bagi anak-anak. Menurutnya, lagu adalah media yang tidak hanya memberikan anak-anak rasa percaya diri, tetapi juga kemampuan mengekspresikan bakat seni. Lebih penting lagi, lagu menjadi pemantik imajinasi bagi masa depan kehidupan anak-anak Indonesia.
Lagu anak memiliki kekuatan unik dalam mengajarkan nilai, membentuk karakter, bahkan memperkenalkan konsep sains dan lingkungan. Semua ini disampaikan melalui bahasa yang paling mudah dimengerti oleh anak-anak. KICAU 2025 diharapkan dapat membawa kembali lagu anak ke panggung utama pendidikan, menjawab kerinduan banyak pendidik dan orang tua.
Urgensi dan Dampak Lagu Anak dalam Pendidikan
Di era digital saat ini, anak-anak semakin terpapar berbagai jenis musik yang tidak selalu sesuai dengan usia mereka. Kelangkaan lagu anak yang mendidik menjadi perhatian serius bagi Kemendikdasmen. Lagu anak memiliki potensi besar sebagai instrumen pembelajaran yang efektif dan menyenangkan.
Abdul Mu’ti menekankan bahwa lagu anak bukan hanya pengisi waktu luang, melainkan medium yang komprehensif. Melalui lagu, anak-anak dapat belajar tentang nilai-nilai moral, etika, dan sosial. Ini membantu membentuk karakter positif sejak usia dini.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Guru (Dirjen GTKPG) Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, menambahkan bahwa lagu adalah media pembelajaran yang bermakna. Guru dapat menyisipkan nilai-nilai positif ke dalam melodi dan lirik. Dengan demikian, proses pembelajaran menjadi tidak hanya menyenangkan tetapi juga berakar pada konteks kehidupan anak-anak.
Kekuatan lagu anak juga terletak pada kemampuannya menyampaikan pesan secara tidak langsung namun membekas. Lagu tentang kebersihan, cinta alam, atau tolong-menolong lebih mudah tertanam di benak anak. Hal ini jauh lebih efektif dibandingkan ceramah atau pengulangan teks yang monoton.
KICAU 2025: Wadah Kreativitas Guru PAUD
KICAU 2025 merupakan terobosan yang dirancang untuk mendorong guru PAUD dan Pendidikan Non Formal menunjukkan kreativitas mereka. Program ini mengajak para pendidik untuk menciptakan lagu pembelajaran yang inovatif. Inisiatif ini membuktikan bahwa lagu adalah media pembelajaran yang efektif, menyenangkan, dan bermakna.
Program ini bukan hanya ajang lomba mencipta lagu, melainkan sebuah ruang kolaboratif. Guru-guru PAUD dari seluruh penjuru negeri dapat menyuarakan isi hati mereka dalam bentuk karya musik edukatif. KICAU 2025 diharapkan menjadi oase di tengah gurun kreativitas lagu anak yang sempat mengering.
KICAU 2025 mengusung tema “Karakter, Lingkungan, dan Sains”. Tema ini dipilih untuk memastikan bahwa lagu-lagu yang diciptakan relevan dengan kebutuhan pendidikan anak usia dini. Fokus pada karakter membantu pembentukan kepribadian, lingkungan menumbuhkan kesadaran ekologis, dan sains memperkenalkan konsep dasar ilmu pengetahuan.
Melalui KICAU 2025, Kemendikdasmen berharap dapat menghasilkan koleksi lagu anak yang kaya dan beragam. Lagu-lagu ini akan menjadi sumber daya berharga bagi guru dan orang tua. Mereka dapat menggunakannya untuk mendukung proses belajar mengajar yang lebih interaktif dan inspiratif.
Sumber: AntaraNews