Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan, Jawa Timur, kini tengah serius menggarap solusi permanen untuk masalah kekeringan yang kerap melanda wilayahnya. Krisis air bersih menjadi tantangan tahunan, terutama saat musim kemarau tiba.
Untuk menjawab kebutuhan mendesak masyarakat, Pemkab Bangkalan mengambil langkah strategis dengan membangun Sistem Penyedia Air Minum (SPAM) di daerah rawan kekeringan. Inisiatif ini diharapkan mampu menyediakan akses air bersih yang berkelanjutan bagi desa-desa terdampak.
Bupati Bangkalan, Lukman Hakim, menegaskan bahwa pembangunan SPAM ini adalah jawaban jangka panjang atas persoalan yang telah berlangsung puluhan tahun. "Pembangunan SPAM ini merupakan solusi jangka panjang yang dilakukan pemerintah bagi desa-desa yang mengalami kekeringan, dan dengan keberadaan SPAM, maka desa yang mengalami kekeringan bisa teratasi," kata Bupati Lukman Hakim.
Advertisement
Advertisement
Strategi Jangka Panjang Atasi Kekeringan di Bangkalan
Bupati Lukman Hakim menjelaskan bahwa kondisi kekeringan dan kekurangan air bersih di Bangkalan sudah terjadi sejak puluhan tahun silam. Untuk solusi jangka pendek, pemerintah selalu menyalurkan bantuan ke daerah terdampak, namun SPAM ini merupakan solusi jangka panjang yang lebih berkelanjutan.
Total 33 titik proyek SPAM Bangkalan akan dibangun di berbagai lokasi rawan kekeringan di Kabupaten Bangkalan. Proyek ini menelan anggaran total sebesar Rp11 miliar, menunjukkan komitmen serius Pemkab dalam mengatasi masalah air bersih.
Bupati Lukman Hakim optimis, "Jika pembangunan SPAM di 33 titik tuntas dan bisa dioperasikan, saya yakin, desa terdampak kekeringan di Bangkalan bisa ditekan." Hal ini akan membawa dampak positif bagi kualitas hidup warga dan ketersediaan air minum.
Advertisement
Investasi pada infrastruktur SPAM Bangkalan ini sangat krusial untuk memastikan ketersediaan air minum yang memadai bagi masyarakat. Ini adalah langkah proaktif Pemkab untuk mengurangi ketergantungan pada bantuan air saat musim kemarau.
Advertisement
Potret Kekeringan di Bangkalan: Data dan Dampak
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangkalan, masalah kekeringan dan kekurangan air bersih saat musim kemarau tersebar di sembilan kecamatan. Kecamatan-kecamatan tersebut meliputi Tanah Merah, Kwanyar, Blega, Konang, Kokop, Geger, Klampis, Sepulu, dan Arosbaya.
Total ada 53 desa di sembilan kecamatan tersebut yang mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih. Angka ini sama dengan data yang tercatat pada tahun 2024, menunjukkan persistensi masalah ini di wilayah Bangkalan.
BPBD mengklasifikasikan jenis kekeringan menjadi dua kategori utama: kekeringan langka dan kekeringan kritis. Kedua jenis ini menggambarkan tingkat keparahan masalah akses air yang dihadapi oleh warga di desa-desa terdampak.
Advertisement
Kekeringan kritis terjadi ketika pemenuhan air di dusun mencapai 10 liter atau lebih per orang per hari, namun masyarakat harus menempuh jarak 3 kilometer atau lebih untuk mendapatkan air bersih. Sementara itu, kekeringan langka adalah kondisi di mana kebutuhan air kurang dari 10 liter per orang per hari, dengan jarak tempuh ke sumber air terdekat sekitar 0,5 kilometer hingga 3 kilometer.
Sumber: AntaraNews