Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara mengumumkan bahwa sebagian besar wilayah Sulawesi Utara masih berada dalam periode musim kemarau. Pengumuman ini disampaikan oleh Kepala Bidang Observasi dan Informasi BMKG, M Candra Buana, pada Senin (01/9) di Minahasa Utara. Kondisi ini menarik perhatian karena hujan masih sering turun di beberapa daerah.
Meski demikian, BMKG menjelaskan bahwa hujan yang terjadi belakangan ini merupakan anomali kondisi cuaca yang tidak biasa. Fenomena ini disebabkan oleh suhu muka laut yang cenderung hangat. Selain itu, Madden-Julian Oscillation (MJO) yang berada di maritim Indonesia turut berperan.
Keberadaan MJO memungkinkan terbentuknya awan konvektif yang signifikan. Awan ini berpotensi menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah lokasi. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang dinamis ini.
Advertisement
Advertisement
Anomali Cuaca di Tengah Musim Kemarau Sulawesi Utara
Fenomena hujan yang kerap terjadi di tengah periode musim kemarau Sulawesi Utara menjadi sorotan utama. BMKG menyebutkan bahwa ini adalah sebuah anomali cuaca yang tidak biasa. Suhu muka laut yang tetap hangat menjadi salah satu pemicu utama terjadinya hujan ini.
Selain suhu muka laut, pergerakan Madden-Julian Oscillation (MJO) juga memiliki peran signifikan. MJO yang saat ini berada di wilayah maritim Indonesia menciptakan kondisi yang mendukung pembentukan awan konvektif. Awan-awan ini kemudian melepaskan curah hujan.
Pembentukan awan konvektif ini berpotensi menyebabkan hujan dengan intensitas beragam. Hujan dapat berkisar dari sedang hingga lebat di beberapa daerah. Kondisi ini memerlukan kewaspadaan ekstra dari masyarakat terkait Musim Kemarau Sulawesi Utara.
Advertisement
Advertisement
Dampak dan Imbauan BMKG untuk Musim Kemarau Sulawesi Utara
Meskipun hujan turun, BMKG tetap mengingatkan warga untuk mewaspadai potensi bahaya lain. Salah satu risiko utama di musim kemarau Sulawesi Utara adalah kebakaran. Masyarakat diimbau agar tidak melakukan pembakaran saat membuka lahan pertanian.
Di sisi lain, dengan adanya potensi hujan, warga juga diharapkan menjaga kebersihan lingkungan. Saluran air harus dipastikan tidak terhambat oleh sampah atau kotoran. Hal ini bertujuan untuk mencegah genangan air atau banjir yang bisa terjadi tiba-tiba.
BMKG juga menekankan pentingnya akses informasi bagi masyarakat. Warga diharapkan terus memantau pembaruan dari BMKG secara berkala. Informasi ini mencakup kondisi cuaca, iklim, dan gempa terkini yang sangat relevan bagi keselamatan.
Advertisement
Advertisement
Wilayah Terdampak Musim Kemarau Sulawesi Utara
Mayoritas wilayah Sulawesi Utara memang masih berada dalam periode musim kemarau. Beberapa kota besar seperti Tomohon, Kotamobagu, Bitung, dan Manado termasuk dalam daftar ini. Kabupaten Minahasa, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, dan Minahasa Tenggara juga mengalami hal serupa.
Sejumlah kabupaten lain juga masih menghadapi musim kemarau ini. Ini termasuk Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Kabupaten Bolaang Timur, serta sebagian wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow. Wilayah kepulauan seperti Sitaro, Sangihe, dan Talaud juga tidak luput dari kondisi ini.
Namun, terdapat pengecualian untuk beberapa daerah. Sebagian Kabupaten Bolaang Mongondow dan seluruh Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan justru masih memasuki musim hujan. Perbedaan ini menunjukkan variasi kondisi iklim lokal yang perlu diperhatikan terkait Musim Kemarau Sulawesi Utara.
Advertisement
Wilayah-wilayah yang masih memasuki musim kemarau yaitu:
- Kota Tomohon
- Kota Kotamobagu
- Kota Bitung
- Kota Manado
- Kabupaten Minahasa
- Kabupaten Minahasa Utara
- Kabupaten Minahasa Selatan
- Kabupaten Minahasa Tenggara
- Kabupaten Bolaang Mongondow Utara
- Kabupaten Bolaang Timur
- Sebagian Kabupaten Bolaang Mongondow
- Kabupaten Kepulauan Sitaro
- Kabupaten Kepulauan Sangihe
- Kabupaten Kepulauan Talaud
Sementara itu, wilayah yang masih memasuki musim hujan meliputi:
Advertisement
- Sebagian Kabupaten Bolaang Mongondow
- Seluruh Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan
Sumber: AntaraNews