Tahukah Anda 80% Media Gunakan AI? Wamenkomdigi Tegaskan Jurnalisme Berkualitas Tak Tergantikan Mesin
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menyatakan bahwa jurnalisme berkualitas tidak akan pernah tergantikan oleh AI, menyoroti pentingnya etika dan transparansi di tengah adopsi teknologi. Apa alasannya?
Wamenkomdigi Nezar Patria baru-baru ini menegaskan bahwa kualitas jurnalisme tidak akan pernah dapat digantikan oleh teknologi kecerdasan buatan (AI). Pernyataan ini disampaikan di Jakarta, Rabu, menyoroti perkembangan pesat AI di berbagai sektor.
Menurut Nezar, meskipun AI semakin banyak digunakan di newsroom, kemampuan berpikir kritis tetap menjadi fondasi utama. Etika dan empati manusia juga berperan penting dalam menjaga integritas informasi publik yang disajikan.
Penegasan ini muncul sebagai respons terhadap kekhawatiran akan dampak AI terhadap profesi jurnalis. Ia menekankan bahwa elemen-elemen kemanusiaan ini adalah benteng terakhir untuk menjaga jurnalisme berkualitas.
Pentingnya Nalar Kritis dan Etika dalam Jurnalisme
Nezar Patria menjelaskan bahwa "good journalism" dibangun dari tiga elemen krusial: nalar kritis, keterampilan, dan etika. Ketiga pilar ini menjadi penentu utama dalam menghasilkan berita yang akurat dan bertanggung jawab. Jika nalar kritis tergerus oleh penggunaan AI, hal ini dapat menimbulkan bahaya serius bagi jurnalisme berkualitas.
Ia menyoroti bahwa mesin tidak memiliki nurani, empati, atau pengalaman hidup yang mendalam. Kualitas kemanusiaan inilah yang memungkinkan jurnalis memahami konteks kompleks. Kemampuan merasakan dampak sebuah cerita juga esensial.
Oleh karena itu, Nezar menekankan pentingnya menjaga loyalitas mutlak kepada publik. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh jurnalis yang memiliki empati dan pemahaman mendalam.
Tantangan Transparansi di Era Adopsi AI Media
Hasil riset Thomson Reuters Foundation berjudul “Journalism in the AI Era” menunjukkan adopsi AI yang masif. Sekitar 80 persen media di negara berkembang telah menggunakan fitur AI dalam pekerjaan sehari-hari mereka. Namun, hanya 13 persen dari media tersebut yang memiliki panduan resmi penggunaan AI.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius terkait transparansi dan kepercayaan publik. Kurangnya panduan jelas berarti mayoritas newsroom belum memiliki kebijakan yang terstruktur. Ini bisa mengikis kepercayaan publik terhadap pers.
Nezar menambahkan bahwa kurangnya transparansi dalam membedakan konten yang dihasilkan manusia dengan mesin adalah masalah besar. Hal ini berpotensi merusak kredibilitas jurnalisme berkualitas.
Upaya Regulasi dan Peta Jalan AI Nasional
Wamenkomdigi mengapresiasi langkah cepat Dewan Pers yang telah mengeluarkan panduan penggunaan AI di media. Panduan ini diharapkan berlaku pada awal tahun 2025. Tujuannya adalah mengatur pemanfaatan AI secara transparan, etis, dan bertanggung jawab.
Panduan tersebut juga mencakup mekanisme penyelesaian sengketa terkait konten berbasis AI. Ini menjadi langkah proaktif untuk menjaga integritas informasi. Regulasi ini penting untuk mendukung jurnalisme berkualitas di era digital.
Selain itu, Kementerian Komunikasi dan Digital tengah memfinalisasi dua dokumen penting. Dokumen tersebut adalah Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional dan kebijakan keamanan penggunaan AI. Keduanya akan ditetapkan melalui Peraturan Presiden, menunjukkan komitmen pemerintah.
Nezar menegaskan bahwa AI harus diposisikan sebagai mitra, bukan pengganti manusia. "AI harus diperlakukan sebagai mitra, bukan pengganti manusia. Kita harus AI-aware. Sadar bahwa kita menggunakan AI, tapi tetap mampu mengambil jarak. Jangan sampai kita diatur oleh AI," tegasnya.
Sumber: AntaraNews