Sudah 14 Tahun Berlalu, BNPT Masih Cari Korban Bom Gereja Kepunton Solo
Pencarian korban tindak pidana terorisme dimaksudkan untuk memberikan hak-hak mereka.
Hari Minggu 25 September 2011 sekitar pukul 10 WIB, Kota Solo digemparkan dengan ledakan bom di halaman GBIS (Gereja Bethel Injil Sepenuh) Kepunton. Empat belas tahun telah berlalu, kini Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melakukan pencarian keluarga sejumlah warga yang menjadi korban.
Pencarian korban tindak pidana terorisme dimaksudkan untuk memberikan hak-hak mereka. Pencarian juga sebagai tindak lanjut Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 103/PUU-XXI/2023. Di mana korban tindak pidana terorisme yang belum mendapatkan haknya agar segera mengajukan permohonan kepada BNPT.
"Korban tindak pidana terorisme ini berhak mendapatkan hak-haknya oleh negera," ujar Kasubdit Pemulihan Korban Aksi Terorisme BNPT, Rahel, Rabu (17/9).
Menurut Rahel, di Solo sendiri ada 7 dari 8 korban yang hak-haknya belum terpenuhi. Pasalnya identitas keluarga korban belum ditemukan. Ketujuh orang tersebut merupakan korban peristiwa bom bunuh diri Gereja Kepunton pada 2011 silam.
"Kami sudah melakukan sosialisasi dengan Wali Kota Solo terkait pascaputusan MK. Bahwa telah dibuka pelayanan hak-hak korban terorisme masa lalu yang belum mendapatkan haknya dapat mengajukan haknya ke BNPT," terangnya.
"Kami akan terus mencari keluarga 7 korban tersebut agar hak-hak mereka bisa segera dipenuhi oleh negara," sambung Rahel.
Berdasarkan UU No 5 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme bahwa pemenuhan hak-hak diberikan kepada korban tanpa memandang status.
Jika sudah ditemukan, lanjut dia, akan dilakukan identifikasi, assessment terlebih dahulu. Setelah itu ditetapkan sebagai korban terorisme sesuai prosedur hak-haknya dari negara.
Wali Kota Solo, Respati Ardi, menambahkan, pihaknya akan melibatkan kelurahan dan kecamatan untuk melacak keberadaan keluarga 7 korban dimaksud.
"Nanti kita kerja sama dengan BNPT mencari korban Gereja Kepunton. Ada 8 orang, tapi baru ketemu 1. Masih 7 korban yang hari ini kita fasilitasi. Kami dengan kelurahan, kecamatan dan kewilayah mencari 7 korban lainnya yang belum ketemu identitas keluarganya," pungkas Respati.