Deretan kios pakan burung di Pasar Barito, Jakarta Selatan, kini tampak lengang. Banyak di antaranya ditutupi spanduk bertuliskan 'Jakarta' simbol penolakan terhadap kebijakan relokasi yang dilayangkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
Hanya segelintir kios yang masih beroperasi, bertahan di tengah ketidakpastian.
Tepat di seberang taman Langsat, beberapa pedagang berkumpul menyuarakan kegelisahan mereka. Mereka menggelar aksi damai, membawa spanduk dan harapan agar tempat usaha yang telah lama mereka jaga tidak diambil begitu saja. Salah satu suara lantang di antara mereka adalah Trian (39), pedagang generasi kedua yang telah berdagang di pasar itu sejak ayahnya mulai berjualan pada 1979.
"Bapak saya dulu jualan masih pakai gerobak," kenangnya.
"Dari sinilah kami bisa sekolah, kuliah, sampai makan sehari-hari. Makanya kalau dipindah, rasanya sedih. Ini perjuangan almarhum Bapak," kata Trian kepada Liputan6.com di lokasi, Jumat (8/8).
Menurut Trian, kabar relokasi datang secara mendadak dan mengejutkan, apalagi hanya berselang dua tahun setelah kios mereka selesai direnovasi. Ia merasa, Pemprov belum memberikan solusi yang layak bagi para pedagang.
"Dikirain tidak bakal direlokasi lagi. Eh, malah dapat pilihan tempat yang kurang memadai," kata dia.
Beberapa lokasi yang ditawarkan seperti Cidodol, PD Pasar Mampang, dan Lenteng Agung—sudah dikunjungi Trian. Namun semuanya dinilai belum memenuhi kebutuhan dasar para pedagang.
"Cuma kalau yang di Cidodol kan dia kan rawan banjir. Sedangkan kita kan jualannya makanan burung, makanan kucing. Kalau bisa banjir kan kita juga bingung gitu," ujarnya.
Menurutnya, lokasi di PD Pasar Mampang berada di lantai tiga dan tidak menyediakan toko yang siap ditempati. Menurut Trian, kondisi itu menyulitkan terutama bagi pedagang yang sudah lanjut usia.
Lenteng Agung sempat dianggap sebagai alternatif terbaik, namun kondisinya juga mengecewakan.
"Cuma waktu kami ke sana, masih tanah kosong, rumputnya rimbun. Kami sih enggak nolak direlokasi, asal tempatnya sudah siap," kata dia.
Namun bagi Trian, ini bukan sekadar urusan tempat berdagang. Pasar Barito adalah saksi perjalanan panjang keluarganya mulai dari masa muda sang ayah, pernikahan orang tuanya, hingga dirinya kini meneruskan usaha yang sama. Bahkan setelah rumahnya di Kampung Dukuh digusur, ia tetap kembali berdagang di Barito meski harus menempuh perjalanan dari Citayam setiap hari.
Trian mengaku, roda perdagangan di Pasar Barito cukup berputar. Pasar masih ramai oleh pembeli yang datang mencari burung, kucing, hingga kelinci. Kendati pendapatannya tak pasti, penghasilan dari berjualan di Barito cukup bagi keluarga kecil Trian.
"Sehari bisa dapat sekitar Rp500 ribu. Tidak pasti, tapi selalu ada pemasukan," ucapnya.
Trian masih menagih kejelasan nasibnya yang belum juga datang. Ia dan pedagang lainnya masih menunggu surat keputusan resmi dari Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
"Makanya kami mau ketemu Gubernur langsung. Biar jelas, kami harus bagaimana," katanya.
Relokasi mungkin tak terelakkan. Tapi bagi para pedagang yang membangun hidupnya di sini, Pasar Barito bukan sekadar tempat jual beli. Ia adalah rumah kedua, tempat kenangan, dan perjuangan untuk terus bertahan hidup.