Sisa Kastil Batavia JP Coen yang merana, kini tempat parkir truk
Merdeka.com - Setelah Jayakarta dikuasai VOC dan kemudian berganti nama menjadi Batavia, mulailah VOC mendirikan permukiman baru di atas reruntuhan kota. VOC di bawah JP Coen juga membangun benteng baru yang diberi nama Kastil Batavia.
Tujuan pembangunan Kastil Batavia untuk menggantikan benteng lama (Fort Jacatra), yang tidak mampu lagi menampung semua aktivitas dan kegiatan dagang VOC.
Luas Kastil Batavia 9 kali lebih besar dari benteng lama. Bangunan kastil dikelilingi dinding bata yang tebal, pada empat sudutnya dibangun bastion atau kubu pertahanan yang dilengkapi dengan meriam. Keempat bastion tersebut diberi nama seperti nama-nama batu mulia. Seperti bastion diamant (intan), bastion robijn (batu delima), bastion de parel (mutiara), dan bastion safier (batu nilam).
Realisasinya pembangunan kastil dipercepat setelah Sultan Agung dari Mataram (1613-1645) menyerang pertahanan Belanda dua kali, pada tahun 1627 dan 1628. Namun kedua serangan itu gagal. Untuk menghindari kejadian serupa, VOC akhirnya membangun parit mengitari Kastil Batavia.
Kastil Batavia berfungsi untuk melindungi pusat pemerintahan kala itu.
Namun sayangnya kini tidak dapat lagi menikmati kemegahan kastil tersebut. Gubernur Jenderal Herman William membongkar sebagian bangunan pada tahun 1808. Salah satu bangunan yang tersisa adalah bangunan yang berfungsi sebagai gudang.
Gudang tersebut berada lurus menuju utara dari Museum Fatahillah. Melalui Jl Cengkeh menuju Jl Tongkol. Setelah berada di bawah jalan layang Ancol belok kanan menuju Jl Tongkol Dalam.
Menuju ke sana akan disambut kepulan debu ketika truk keluar dari sarangnya. Salah satu sisi bekas Kastil Batavia beralih fungsi menjadi tempat parkir truk. Jalan dengan guratan ban kendaraan berat masih tampak sepanjang jalan. Terlebih lagi genangan air membuat berhati-hati ketika melewatinya.
Berdasarkan pengamatan merdeka.com, Jumat (20/9), lokasi gudang tersebut tertutup truk pengaduk semen (Molen), truk dan pohon besar. Bangunan ini kini telah beralih fungsi sebagai permukiman.
Bagian luar gedung tampak kumuh dan akar yang merambat pada dinding kastil. Tembok berbata merah itupun dijadikan penyangga kandang ayam. Ada juga tali yang terikat di dinding tembok kastil sekadar untuk menahan pakaian yang basah.
merdeka.com memasuki bangunan gudang dengan dua lantai di dekat sisa kastil. Saat memasuki bangunan ada dua orang yang tengah asik bermain bola pingpong dan beberapa pakaian tergantung antara dua tiang penyangga lantai dua.
Lantai gudang bagian bawah sudah dilapisi rapi dengan plesteran semen. Sedangkan lantai bagian atas tersusun papan kayu berwarna cokelat kehitaman. Walaupun gudang ini dilindungi oleh tembok, bagian dalam bangunan ditopang oleh kayu bagian tengahnya.
Dari salah satu jendela yang berada di lantai dua, dapat melihat alat untuk memasukkan semen ke dalam truk Molen. Sedangkan dari jendela lain dapat melihat dinding kastil yang telah dimakan tanaman.
“Tembok yang berada di depan Museum Bahari adalah bagian Kastil Batavia yang dilestarikan. Karena hanya sebagian situs reruntuhan kastil Batavia tidak dapat dipugar dengan menggunakan anggaran APBD DKI Jakarta, karena sudah dimiliki pihak swasta," jelas Kepala UPT Kota Tua Candrian Attahiyyat dalam video dokumenter Kastil Batavia yang dibuat oleh Hiyashinta Klise.
Peninggalan lainnya yang dapat dinikmati adalah Jembatan Kota Intan. Sebelumnya, di sana terdapat bastion Intan. Namun kini telah hilang dan rata dengan tanah. (mdk/bal)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya