Sidang Etik AKBP Bintoro Cs Ungkap Fakta Baru, Ada Dugaan Pelanggaran saat Usut Kepemilikan Senpi Anak Bos Prodia
Muncul kembali dugaan pelanggaran anggota Polri saat penanganan kasus kepemilikan senjata api.
Sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP) terhadap lima anggota Polri terlibat dalam dugaan pemerasan terhadap anak bos Prodia, menguak fakta baru. Muncul kembali dugaan pelanggaran anggota Polri saat penanganan kasus kepemilikan senjata api.
Hal itu disampaikan Komisioner Kompolnas Mohammad Choirul Anam yang memantau sidang etik tersebut.
Anam menjelaskan, Komisi Etik memang lebih condong membahas dugaan pelanggaran anggota Polri dalam penanganan kasus kekerasan seksual dan pembunuhan. Adapun tersangka pembunuhan dan pemerkosaan terhadap remaja berinisial AF (16) itu adalah Muhammad Bayu Hartanto dan Arif Nugroho, anak pemilik Prodia.
Dalam sidang, Arif rupanya juga terseret dalam kasus kepemilikan senjata api (senpi), yang diselidiki oleh Polda Metro Jaya.
"Kontruksi peristiwa besarnya ada tiga LP. Cuma yang disidang karena ini menyangkut ke Jakarta Selatan, yang disidang dua LP, yaitu LP 1179 dan 1181. LP yang satu belum diperiksa," kata Anam kepada wartawan, Sabtu (8/2).
Kasus Kepemilikan Senjata Api Diusut Polisi
Anam mengatakan, kasus kepemilikan senpi masih dalam satu rangkaian peristiwa yang juga perlu dituntaskan. Apalagi setelah disebutkan dalam sidang etik. Dia pun optimis Bidang Propam Polda Metro Jaya akan mendalami.
"LP (tipe) A saya yakin akan diproses, karena enggak mungkin enggak diproses. Itu struktur peristiwa yang menyatu. Kalau enggak, ini juga patah," ucap dia.
Menurut Anam, dugaan perbuatan tercela terindikasi terjadi dalam kasus senpi ini. Karena itu, dia mendesak semua pihak yang terlibat harus diperiksa dengan adil.
"Jadi, semua soal diperiksa. Artinya, kalau melihat struktur ceritanya, ada indikasi perbuatan tercela," ujar dia.
"Kan sudah dibilang, ini satu peristiwa 3 LP, 2 LP sudah terbukti sebagai perbuatan tercela. Kalau pertanyaan, apakah LP yang satunya ini juga ada indikasi itu? Pasti ada indikasi perbuatan tercela. Apa perbuatan tercelanya? Ya biarkan nanti diurai seperti diproses ini. Kan macam-macam penguraiannya itu. Ada soal barang, soal uang, soal aktor," dia menandaskan.