Seni Kolosal Gontor Meriahkan Satu Abad Pondok Modern Darussalam dengan Pertunjukan Spektakuler

Ribuan santri dan guru Pondok Modern Darussalam Gontor gelar seni kolosal Gontor, Darussalam All Star Show (DASS), sebagai puncak peringatan satu abad pondok yang mendidik karakter.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Seni Kolosal Gontor Meriahkan Satu Abad Pondok Modern Darussalam dengan Pertunjukan Spektakuler
Ribuan santri dan guru Pondok Modern Darussalam Gontor gelar seni kolosal Gontor, Darussalam All Star Show (DASS), sebagai puncak peringatan satu abad pondok yang mendidik karakter. (AntaraNews)

Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) di Ponorogo, Jawa Timur, baru saja merayakan puncak peringatan satu abadnya. Sekitar 1.200 santri dan guru menampilkan pertunjukan seni kolosal yang megah. Acara ini dikenal sebagai Darussalam All Star Show (DASS) dan berlangsung di lapangan sepak bola pondok.

Pagelaran spektakuler ini digelar pada Sabtu (27/6) malam dan berhasil menarik ribuan penonton. Berbagai jenis seni dipertunjukkan, mulai dari drama kolosal, tari nusantara, reog, hingga tari mancanegara. Konser musik juga turut memeriahkan suasana, semuanya disiapkan secara mandiri oleh warga pondok.

DASS bukan sekadar hiburan, melainkan representasi dari sistem pendidikan Gontor yang holistik. Kegiatan ini memadukan penguasaan ilmu, pembentukan karakter, kreativitas, serta nilai-nilai keislaman. Ini menjadi penanda penting menuju abad kedua pengabdian PMDG.

Ketua DASS, Al-Ustadz Hasan Mutaqin, menjelaskan bahwa seluruh proses penyelenggaraan melibatkan lebih dari 1.200 santri dan guru. Mereka berasal dari PMDG Kampus 1 dan Kampus 2, menunjukkan sinergi antar cabang. Persiapan intensif untuk acara sebesar ini memakan waktu kurang lebih tiga minggu.

Keterlibatan santri dan guru melampaui peran sebagai penampil semata. Mereka juga aktif dalam penyusunan konsep acara, pembuatan properti panggung, dan penataan panggung yang megah. Bahkan, penyediaan sarana pendukung lainnya turut menjadi bagian dari tanggung jawab mereka.

Hasan Mutaqin menegaskan bahwa setiap aspek dalam DASS adalah proses pendidikan. "Setiap gerak, setiap nada, setiap karya, dan setiap tetes keringat santri serta guru merupakan proses pendidikan yang membentuk karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, dan keikhlasan," ujarnya.

Pimpinan PMDG, K.H. Hasan Abdullah Sahal, bersama K.H. M. Akrim Mariyat, membuka acara dengan bangga. K.H. Hasan Abdullah Sahal menekankan bahwa sebagian besar DASS adalah hasil karya warga pondok sendiri. "Saya sama Pak Akrim hanya lima persen. Selebihnya anak-anak semua yang mengerjakan," katanya.

Ia menambahkan bahwa sekitar 95 hingga 99 persen penyelenggaraan, termasuk kepanitiaan, penampilan, hingga fasilitas, dikerjakan secara mandiri oleh warga Pondok Modern Darussalam Gontor. Ini menunjukkan tingkat kemandirian dan tanggung jawab yang tinggi dari para santri. DASS bukan hanya pertunjukan, melainkan media pendidikan yang komprehensif.

Menurut K.H. Hasan Abdullah Sahal, DASS berfungsi membentuk kreativitas, kepemimpinan, kerja sama, dan tanggung jawab. Selain itu, pagelaran ini juga menanamkan nilai pengabdian pada santri. "DASS ini pertama untuk mengingat Allah, bersyukur kepada Allah, dan semakin meningkatkan ibadah," ujarnya.

Pagelaran DASS menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian peringatan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor. Melalui keterlibatan ribuan santri dan guru, kegiatan tersebut menjadi representasi sistem pendidikan Gontor yang unik. Sistem ini memadukan penguasaan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter yang kuat, pengembangan kreativitas, serta penanaman nilai-nilai keislaman yang mendalam. Ini adalah fondasi penting bagi Gontor dalam melangkah menuju abad kedua pengabdiannya kepada umat dan bangsa.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi