Barus, sebuah kota tua di pesisir Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, memiliki peran yang sangat signifikan dalam sejarah Indonesia. Kota ini diyakini sebagai gerbang awal peradaban Islam di Nusantara, jauh sebelum era Wali Songo di Jawa. Sejak abad ke-6 Masehi, Barus juga dikenal sebagai pusat perdagangan internasional yang ramai.
Sejarah mencatat bahwa pada abad ke-7 Masehi, agama Islam telah hadir di Barus, menjadikannya titik nol masuknya Islam ke Indonesia. Presiden Joko Widodo mengakui Barus sebagai kota Islam pertama dan tertua di Indonesia, dengan meresmikan tugu titik nol pusat peradaban Islam Nusantara pada 24 Maret 2017.
Peran Barus dalam sejarah Indonesia tidak hanya terbatas pada penyebaran agama Islam, tetapi juga sebagai pusat perdagangan yang strategis. Pelabuhan Barus menjadi tempat berlabuhnya kapal dagang dari berbagai belahan dunia, termasuk Tiongkok, Persia, dan Eropa.
Advertisement
Barus dikenal sebagai gerbang awal masuknya Islam ke Indonesia. Pada abad ke-7, kota ini telah menjadi pusat penyebaran Islam yang lebih tua dibandingkan dengan sejarah Wali Songo di Jawa. Barus secara historis diyakini sebagai titik nol peradaban Islam di Nusantara.
Presiden Joko Widodo menegaskan pentingnya Barus dalam sejarah Islam di Indonesia. Ia meresmikan tugu yang menandai Barus sebagai kota Islam pertama di Indonesia, menandakan pengakuan resmi terhadap peran kota ini dalam sejarah agama.
Advertisement
Sejak abad ke-6 Masehi, Barus telah menjadi kawasan perdagangan yang ramai. Kota ini terkenal dengan hasil buminya seperti kapur barus dan rempah-rempah, yang menarik perhatian pedagang dari Eropa dan Timur Tengah. Pada abad ke-7, Barus semakin tersohor di kalangan pedagang internasional.
Pelabuhan Barus berperan penting sebagai tempat berlabuhnya kapal dagang dari berbagai negara, termasuk Tiongkok, Persia, dan Roma. Masuknya pedagang Arab ke Barus pada akhir abad ke-7 diyakini menjadi salah satu jalur penyebaran Islam di Nusantara.
Advertisement
Bukti kuat keberadaan Islam di Barus pada abad ke-7 dapat dilihat dari makam-makam tua yang ditemukan di kawasan ini. Di antaranya adalah Makam Papan Tinggi dan Makam Mahligai, yang menunjukkan adanya komunitas Muslim pada masa itu.
Temuan makam Syekh Rukunuddin yang wafat pada tahun 672 Masehi semakin menguatkan bukti sejarah tentang keberadaan Islam di Barus. Selain itu, makam Syekh Mahmud dari Yaman juga ditemukan, menunjukkan adanya ulama yang menyebarkan Islam di kawasan ini.
Advertisement
Nama Barus juga muncul dalam sejarah peradaban Melayu melalui karya penyair sufi Hamzah Fansyuri. Dalam literatur, Barus dikenal dengan nama Pancur, yang diubah menjadi Fansur dalam bahasa Arab.
Claude Guillot, seorang arkeolog Perancis, menyebutkan bahwa Barus termasuk dalam golongan kota-kota kuno yang terkenal di Asia sejak abad ke-6 Masehi. Karya geografis Ptolemaeus juga mencatat keberadaan Barus dalam catatan sejarahnya.
Advertisement
Selain makam, Barus juga menyimpan berbagai benda kuno bersejarah lainnya, seperti perhiasan, mata uang dari emas dan perak, serta prasasti. Temuan ini menunjukkan adanya masyarakat multietnik yang hidup di Barus pada masa lalu.
Bukti adanya masyarakat multietnik ini dapat dilihat dari aneka keramik, guci, dan batu mulia yang berkualitas tinggi dan berusia ratusan tahun. Semua ini menambah kekayaan sejarah yang dimiliki Barus sebagai pusat peradaban Islam di Indonesia.