Satuan Tugas Operasi Damai Cartenz (Satgas ODC) 2026 berhasil mengamankan lima orang yang diduga kuat sebagai simpatisan sekaligus pemasok logistik dan amunisi bagi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Aibon Kogoya. Penindakan ini dilakukan di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, sebagai bagian dari upaya aparat untuk memutus rantai distribusi vital bagi kelompok bersenjata tersebut.
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026 Yusuf Sutejo, di Nabire, Jumat, menyatakan bahwa kelima individu tersebut diamankan di sejumlah tempat berbeda dalam waktu yang berdekatan. Penangkapan ini merupakan langkah strategis untuk menekan pergerakan dan operasional KKB di wilayah Nabire dan sekitarnya.
Langkah tegas aparat ini menanggapi informasi tidak benar yang beredar di masyarakat, sekaligus menegaskan komitmen Satgas ODC dalam bekerja secara profesional, transparan, dan akuntabel. Penyelidikan mendalam telah dilakukan sebelum penindakan untuk memastikan setiap tindakan memiliki dasar hukum yang jelas.
Advertisement
Advertisement
Setelah melalui penyelidikan intelijen yang cermat, tim ODC terlebih dahulu mengamankan dua orang berinisial PW alias PM dan PNW pada Selasa (10/3). Keduanya diduga memiliki keterkaitan erat dengan jalur logistik KKB Aibon Kogoya.
Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa PW alias PM diketahui telah dua kali bertemu dengan kelompok Aibon Kogoya untuk menyerahkan bahan makanan di dua lokasi berbeda. Peran mereka sangat krusial dalam menjaga pasokan kebutuhan dasar bagi kelompok bersenjata tersebut.
Sehari setelah penangkapan PW dan PNW, pada Rabu (11/3), Satgas ODC kembali mengamankan dua orang lainnya, yaitu YW (28) dan LW (29). Keduanya ditangkap saat melintas menggunakan sepeda motor Honda Verza dengan tujuan mengantarkan bahan makanan kepada kelompok KKB Aibon Kogoya.
Advertisement
Aparat berhasil mengamankan YW dan LW sebelum pengiriman logistik terlaksana, kemudian membawa mereka ke Polres Nabire untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dari tangan YW dan LW, aparat menyita sejumlah barang bukti penting, termasuk telepon genggam, kartu identitas, kartu ATM, kartu BPJS Kesehatan, kartu Jamkesmas, serta perlengkapan pribadi seperti noken, senter kepala, powerbank, dan baterai. Selain itu, satu unit sepeda motor Honda Verza dan sebuah pisau bermotif kayu juga turut diamankan.
Advertisement
Tidak hanya pemasok logistik, aparat juga berhasil mengamankan seorang pria berinisial D alias LA. Ia diduga berperan sebagai penghubung dalam distribusi amunisi kepada kelompok Aibon Kogoya. Penangkapan D alias LA terjadi pada Rabu (11/3) sekitar pukul 19.55 WIT di sebuah tempat hiburan di Nabire.
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, D mengaku pernah menjual sekitar 100 butir amunisi kepada seseorang berinisial SP. Penjualan amunisi ini dilakukan dengan harga sekitar Rp250.000 per butir melalui perantara seorang pria berinisial H.
Pengungkapan jaringan distribusi amunisi ini menunjukkan kompleksitas permasalahan yang dihadapi aparat dalam menumpas KKB. Penyelidikan mendalam terus dilakukan untuk mengetahui peran masing-masing pihak serta kemungkinan keterlibatan jaringan lain yang lebih luas.
Advertisement
Advertisement
Yusuf Sutejo menegaskan bahwa seluruh tindakan yang dilakukan aparat telah melalui prosedur hukum yang jelas. Hal ini sekaligus untuk menanggapi berbagai informasi tidak benar yang beredar di masyarakat terkait penangkapan tersebut.
“Kami dari Satgas Ops Damai Cartenz berkomitmen bekerja secara profesional, transparan, dan akuntabel. Informasi ini kami sampaikan untuk meluruskan berbagai berita hoaks yang beredar seolah-olah aparat mengamankan lima orang di Nabire tanpa dasar administrasi dan surat perintah yang jelas,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kelima orang tersebut telah lama menjadi bagian dari pemantauan aparat melalui proses penyelidikan yang mendalam.
Sementara itu, Kepala Operasi Damai Cartenz 2026 Brigjen Pol Faizal Ramadhani menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas keamanan di Papua. Penegakan hukum dilakukan secara profesional dan terukur.
Advertisement
“Kami akan terus melakukan pengembangan terhadap kasus ini guna memastikan jaringan yang terlibat dapat diungkap secara menyeluruh,” kata Brigjen Pol Faizal Ramadhani. Saat ini, kelima orang tersebut masih menjalani pemeriksaan di Polres Nabire, sementara aparat terus mendalami kasus guna mengungkap jaringan distribusi logistik dan amunisi kepada kelompok bersenjata di wilayah Papua Tengah.
Sumber: AntaraNews