Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mengadakan pelatihan tata cara pemulasaraan jenazah bagi para warga binaan. Kegiatan ini bertujuan membekali keterampilan yang dapat mereka gunakan setelah menyelesaikan masa pemasyarakatan. Pelatihan ini juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang dilaksanakan selama Bulan Suci Ramadan, melengkapi pembinaan spiritual melalui Tadarus Al-Quran.
Kepala Rutan Mentok, Andri Ferly, menyatakan bahwa inisiatif ini penting untuk memberikan bekal praktis kepada warga binaan. Keterampilan pemulasaraan jenazah dianggap sangat dibutuhkan di tengah masyarakat. Dengan demikian, diharapkan warga binaan dapat memiliki peran bermanfaat dan diterima kembali oleh lingkungan sosial mereka.
Melalui bimbingan instruktur berpengalaman, para warga binaan mempelajari berbagai aspek pemulasaraan jenazah. Mereka diajarkan mulai dari tata cara memandikan, mengkafani, hingga melaksanakan salat jenazah sesuai tuntunan syariat Islam. Pelatihan ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai integritas dan penghormatan terhadap sesama.
Advertisement
Advertisement
Pelatihan pemulasaraan jenazah di Rutan Mentok dirancang untuk memberikan bekal keterampilan yang konkret bagi warga binaan. Keterampilan ini diharapkan dapat menjadi modal penting saat mereka kembali ke masyarakat. Andri Ferly menekankan bahwa pelatihan ini akan membantu meruntuhkan stigma negatif yang kerap melekat pada narapidana.
Peserta yang berhasil menyelesaikan pelatihan dan dinyatakan kompeten akan menerima sertifikat sebagai bukti keahlian mereka. Sertifikat ini membuktikan bahwa keterampilan yang dimiliki telah memenuhi standar sesuai tuntunan agama Islam. Hal ini juga menjadi pengakuan resmi atas kemampuan mereka dalam bidang pemulasaraan jenazah.
Ferly menjelaskan bahwa pemulasaraan jenazah merupakan bentuk penghormatan terakhir manusia kepada sesama. Dengan menyandang status sebagai tenaga pemulasaraan, warga binaan nantinya dapat memiliki peran penting dan mulia di tengah masyarakat. “Kami ingin nantinya masyarakat melihat para narapidana bukan lagi sebagai sosok yang patut dijauhi, melainkan sebagai pribadi yang bermanfaat,” ujarnya.
Advertisement
Advertisement
Pelaksana tugas Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan di bawah Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Kepulauan Bangka Belitung, Gunawan Sutrisnadi, mengapresiasi langkah yang dilakukan Rutan Mentok. Ia menilai pelatihan ini sejalan dengan motto “Pemasyarakatan Pasti Bermanfaat untuk Masyarakat”. Melalui pelatihan ini, pemasyarakatan diharapkan tidak lagi menjadi pembatas untuk berbuat baik.
Menurut Sutrisnadi, pemasyarakatan harus memiliki peran dalam memberikan edukasi dan pemberdayaan. “Melalui berbagai program pembinaan, rehabilitasi, dan pelatihan keterampilan, kami ingin membangun individu yang lebih baik serta memberikan kontribusi bagi masyarakat dan kemajuan bangsa,” katanya.
Kunci utama dalam pemulasaraan jenazah adalah amanah dan menjaga kehormatan jenazah. Nilai integritas ini juga ditanamkan dalam pembentukan karakter para narapidana selama mengikuti pelatihan. Ini adalah upaya untuk membekali mereka tidak hanya dengan keahlian, tetapi juga dengan moralitas yang kuat.
Advertisement
Advertisement
Salah satu narapidana berinisial AO mengungkapkan rasa harunya saat praktik cara menyematkan kain putih ke jenazah. Baginya, momen tersebut syarat akan nilai-nilai kemanusiaan dan agama. “Pelatihan ini menjadi pengingat paling nyata tentang kematian, manusia akan kembali dengan balutan kain putih dan amal ibadah. Ini juga yang mendorong saya untuk memohon ampunan,” tutur AO.
Melalui kegiatan ini, AO merasa diberikan kesempatan kedua untuk menjadi manusia yang lebih berguna. Hal ini sejalan dengan semangat Ramadan, sebagai bulan penuh ampunan dan perbaikan diri menuju fitrah. Pelatihan ini tidak hanya memberikan keterampilan, tetapi juga memicu refleksi spiritual dan keinginan untuk berubah menjadi lebih baik.
Inisiatif Rutan Mentok ini menunjukkan komitmen dalam membina warga binaan secara holistik. Dengan bekal keterampilan dan nilai-nilai keagamaan, diharapkan mereka dapat reintegrasi dengan baik ke masyarakat. Ini merupakan langkah positif dalam menciptakan individu yang produktif dan bertanggung jawab setelah menjalani masa hukuman.
Advertisement
Sumber: AntaraNews