Romansa Kasih tak Sampai Sepanjang Jembatan Siti Nurbaya

Sabtu, 26 November 2022 05:04 Reporter : Lisa Septri Melina
Romansa Kasih tak Sampai Sepanjang Jembatan Siti Nurbaya Jembatan Siti Nurbaya. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Berbicara mengenai Sumatera Barat (Sumbar) tidak hanya terkenal akan kulinernya saja, namun juga tempat wisata yang menjadi perhatian pelancong hingga sering dibidik fotografer, salah satunya Jembatan Siti Nurbaya.

Mendengar Jembatan Siti Nurbaya, tentunya mengingatkan kita akan sebuah novel lama yang dikemas secara apik oleh penulisnya. Novel ini berjudul Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampai), dikarang oleh seorang melayu bernama Marah Rusli pada tahun 1922 silam.

Meski sudah seabad, namun novel tersebut masih masyhur sampai sekarang. Singkat cerita, di dalam novel ini dikisahkan bahwa Siti Nurbaya merupakan seorang anak yang ditinggal ibunya sedari kecil, dan tinggal bersama ayahnya Baginda Sulaiman yang mengalami kebangkrutan hingga membuatnya memiliki utang kepada orang paling kaya di Padang dengan sikap kasar yakni Datuak Maringgih.

Akan tetapi, Ayahnya Siti Nurbaya tidak mampu melunasi utang tersebut, sehingga Datuak Maringgih ingin menjadikan Siti Nurbaya sebagai jaminan atas utang itu. Kemudian berniat untuk menikahi Siti Nurbaya yang dikenal tidak cacat, bukan hanya sebatas kecantikan parasnya, namun juga kelakuan adatnya, serta elok budinya.

Akan tetapi pada hakikatnya, Siti Nurbaya tidak pernah setuju akan jaminan tersebut karena ia telah memiliki dambaan hati yaitu Samsulbahri, namun ia terpaksa menuruti kemauan sang ayah karena kasihan akan terlilit utang yang diancam akan dipenjarakan oleh Datuak Maringgih.

Samsulbahri sendiri merupakan teman masa kecilnya yang hendak menjalin cinta di usia remaja, namun terpisahkan oleh jarak ketika Samsul terpaksa pergi ke Batavia (Jakarta) untuk menempuh pendidikan. Panggilan kesehariannya adalah Sam, ia merupakan seorang anak Mahmud Syah, penghulu di Padang.

Diceritakan pada novel itu, meskipun menuruti keinginan sang ayah, Siti Nurbaya tetap saja menjalin hubungan secara diam-diam dengan bertukar surat kepada Sam, kemudian akhirnya ketahuan oleh Datuak Maringgih dan membuatnya marah hingga meracuni Siti Nurbaya sampai tewas.

Mendengar kabar itu, hati Samsulbahri tidak lepas akan gadis pujaan hatinya yang telah diracuni Datuak Maringgih memutuskan untuk membalas dendam dengan cara bergabung menjadi pasukan belanda, hingga akhirnya terjadilah peperangan antara kedua kubu tersebut yang kemudian berujung saling membunuh.

2 dari 5 halaman

Sekilas Tentang Jembatan Siti Nurbaya

Jembatan Siti Nurbaya merupakan jembatan cantik yang membentang sepanjang 156 meter di atas sungai Batang Arau, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang. Jembatan ini sebagai penghubung Kota Tua Padang dengan Gunung Padang yang didominasi warna merah putih. Letaknya yang strategis menjadikan jembatan ini banyak digemari wisatawan baik lokal maupun dari luar daerah.

Apabila mengunjungi jembatan ini pada malam hari, wisatawan akan dimanjakan dengan warna-warni lampu yang menghiasi sisi kiri dan kanan tepi jembatan serta kuliner khasnya, yakni jagung bakar.

Ketika melihat ke arah barat, maka akan nampak Samudera Hindia, apabila melihat ke arah timur maka akan disungguhkan dengan pemandangan perbukitan. Tidak heran, jembatan ini menjadi primadonanya Kota Padang sebagai spot foto menarik yang sering dibidik kamera, baik dari kalangan muda hingga tua.

3 dari 5 halaman

Pembangunan Jembatan Siti Nurbaya

Pada bagian dinding jembatan Siti Nurbaya telah bertuliskan pembangunan jembatan ini tercatat pada tahun 1995 silam. Penamaan Sitinurbaya diambil dari legenda klasik daerah ini yang dipopulerkan oleh Marah Rusli dalam novel dengan judul Sitinurbaya (Kasih Tak Sampai).

Pembangunan jembatan menelan anggaran sebesar Rp19,8 miliar yang kemudian diresmikan pada pertengahan tahun 2002 silam.

Apabila pelancong berjalan sedikit saja ke arah bawah sekitar 500 meter dari Jembatan Situ Nurbaya maka pelancong akan menemukan sebuah tulisan "Selamat Datang di Taman Siti Nurbaya". Tulisan ini tepat berada di tepi sungai hingga menampilkan pemandangan kapal-kapal yang menepi.

4 dari 5 halaman

Keunikan Jembatan Siti Nurbaya di Mata Pelancong

Merdeka.com menemui salah satu pelancong asal Batam, Ade Izma Juliani (22). Dia mengatakan, setiap datang ke Sumatera Barat, Jembatan Siti Nurbaya adalah tempat tujuan pertama yang didatanginya.

Lanjutnya, Jembatan Siti Nurbaya adalah jembatan unik yang ada di Kota Padang. "Ini jembatan unik yang ada di ranah minang (Sumbar) penamaannya sama dengan nama tokoh di dalam novel Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampai)," ujarnya kepada merdeka.com, Kamis (24/11).

Katanya, mengunjungi Jembatan Siti Nurbaya tidak hanya bagus didatangi siang hari saja. "Berkunjung siang hari disuguhkan dengan pemandangan indah Sunggai Batang Aru dengan kapal-kapal nelayan yang menepi hingga pemandangan perbukitan yang dihiasi ratusan rumah-rumah mungil warga," katanya.

Sambungnya, jika berkunjung malam hari sensasinya jauh lebih berbeda, selain bisa menikmati sejuknya udara malam di Kota Padang juga bisa menyaksikan warna-warni lampu sisi kiri dan kanan jembatan.

"Pokoknya bagus, apalagi ini selalu menjadi instagramable orangnya Minang. Hanya saja ketika saya berkunjung kebersihannya kurang terawat. Ini kan juga salah satu ikonnya Kota Padang, semoga Pemko bisa menyiasati adanya sampah di sekitar jembatan hingga sungai. Sampah itu mengganggu mata saja," tuturnya.

"Saya setiap ke sini tidak pernah lupa untuk mengambil gambar, baik itu siang maupun malam," katanya.

Senada dengan Ade, pelancong asal Sumbar luar Kota Padang Suci Ramadhani juga mengatakan hal yang sama. Keunikan Jembatan Siti Nurbaya terletak pada pemandangan yang indah dengan warna-warni lampu di malam hari.

"Saya orang Bukittinggi, setiap kali jalan-jalan di Kota Padang Jembatan Siti Nurbaya tidak pernah terlewatkan, terutama di malam hari," tuturnya kepada merdeka.com.

"Ketika saya berkunjung ke sana, jembatan ini tidak pernah kosong oleh anak muda yang berhenti untuk menikmati embusan angin Kota Padang pada malam hari," ujarnya.

5 dari 5 halaman

Respons Sejarawan

Salah satu sejarawan dan juga akademisi di Universitas Andalas (Unand) Sumbar Gusti Asnan mengatakan, pengambilan nama Jembatan Siti Nurbaya tidak terlepas dari novel karya Marah Rusli yang ceritanya memang mengangkat romansa di Kota Padang dekat jembatan Siti Nurbaya saat ini.

"Berdasarkan hasil perbincangan dan informasi yang saya dengar, nama tersebut diambil dari novel Marah Rusli yang tokoh utamanya Siti Nurbaya, dan dimitoskan sebuah titik tempat berkuburnya Siti Nurbaya yakni Gunung Padang yang letaknya tidak jauh dari Jembatan Siti Nurbaya" tuturnya.

"Ini bukan sejarah, tetapi mitologisasi saja," katanya kepada merdeka.com, Jumat, (25/11).

Sambungnya, penamaan Jembatan Siti Nurbaya tidak terlepas untuk menarik pelancong agar berkunjung di Kota Padang. "Penamaan yang serupa dengan tokoh novel itu tak lain hanyalah untuk menarik wisatawan," imbuhnya.

[cob]
Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Regional
  3. Viral Hari Ini
  4. Be Smart
  5. Padang
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini