Definisi kecantikan terus berevolusi seiring waktu, dari resep tradisional hingga inovasi skincare mutakhir yang menjanjikan kulit sempurna. Namun, di tengah hiruk-pikuk tren dan obsesi terhadap penampilan fisik, makna kecantikan seutuhnya seringkali terabaikan. Keseimbangan antara perawatan luar, ketenangan batin, dan keberanian melawan stigma menjadi inti dari pesona yang sesungguhnya.
Fenomena penggunaan retinol, yang dijagokan sebagai “ramuan muda abadi,” seringkali menunjukkan ekspektasi hasil instan tanpa pemahaman mendalam. Banyak pengguna mengalami “fase ugly” seperti kulit memerah dan mengelupas, yang mencerminkan kurangnya kesabaran dalam proses adaptasi kulit. Ini menyoroti kecenderungan sebagian orang untuk terjebak pada hasil cepat.
Padahal, kecantikan jauh lebih luas dari sekadar rona kulit atau hasil instan dari produk perawatan. Ia tumbuh dari fondasi keseimbangan hidup, ketenangan batin, serta keberanian untuk menerima dan mencintai diri apa adanya. Memahami aspek-aspek ini menjadi kunci untuk memaknai kecantikan yang autentik dan lestari.
Advertisement
Advertisement
Dalam dunia dermatologi, retinoid adalah istilah payung untuk turunan vitamin A, meliputi retinol, retinal, hingga retinoic acid. Retinol menjadi yang paling populer, sementara retinal (retinaldehyde) bekerja lebih cepat karena langsung dikonversi oleh kulit menjadi retinoic acid. Zat aktif ini dikenal ampuh mempercepat regenerasi sel, mengurangi jerawat, dan menyamarkan kerutan.
Namun, penggunaannya tidak bisa sembarangan. “Jangan pakai pagi hari. Kalau dipakai pagi, kulit bisa terbakar dan malah jadi gelap. Retinal itu harus malam, dan pagi harinya wajib pakai sunscreen,” ujar dr. Abelina MM MARS, yang akrab dikenal sebagai dr. Incognito, dalam peluncuran produk Finally Found You! pada Sabtu (4/10) malam. Ia menegaskan, kunci pemakaian retinoid adalah kesabaran.
“Orang Indonesia kan penginnya cepat glowing. Kalau tahan fase ugly-nya, boleh tiap hari. Tapi kalau enggak, mulai seminggu sekali dulu. Kalau aman, naik jadi dua kali seminggu, lalu tiga kali. Jadi pelan-pelan,” tambahnya. Cara sederhana seperti menimpa retinoid dengan pelembap dapat membantu kulit beradaptasi. “Tunggu beberapa menit setelah pakai, lalu langsung ditimpa pelembap. Nggak usah lama-lama,” katanya.
Advertisement
Hal senada disampaikan pemengaruh kecantikan Tasya Farasya yang menyoroti masih kuatnya stigma hasil cepat di kalangan pengguna skincare. “Semua maunya instan. Padahal perawatan itu harus disesuaikan sama jenis kulit kita. Penting banget edukasi lewat media sosial supaya orang tahu apa yang sebenarnya kulit mereka butuhkan,” jelas Tasya.
Advertisement
Bagi aktris sekaligus pengusaha Luna Maya, rahasia tampil segar bukanlah hal yang rumit. Ia menilai perawatan diri justru berawal dari hal-hal sederhana. “Setiap hari yang paling penting itu hapus make up sampai bersih. Gunakan produk terpercaya dengan kandungan yang sesuai kebutuhan kulit,” ujarnya.
Memasuki usia matang, Luna lebih fokus pada produk anti-aging. Namun, ia menegaskan bahwa kulit sehat tak bisa dipisahkan dari gaya hidup. “Istirahat cukup, makan sehat, olahraga, dan yang paling penting, manage stress. Semua yang terpancar di luar itu sumbernya dari dalam,” kata Luna, menekankan pentingnya keseimbangan.
Tasya Farasya menambahkan, inner beauty memiliki peran besar dalam penampilan seseorang. “Inner beauty itu sangat berhubungan sama kepribadian. Kalau kita bisa menimbulkan kenyamanan dan kebahagiaan buat orang lain, itu akan terpancar ke luar,” katanya. Namun, Tasya juga menekankan bahwa perawatan luar tetap penting, selama dilakukan secara tepat dan sesuai kebutuhan kulit.
Advertisement
Sementara itu, dr. Abelina mengingatkan bahwa kondisi kulit selalu berubah. “Kulit tidak stagnan. Usia 20-an bisa berminyak, tapi di usia 30-an bisa berubah jadi kering. Makanya penting tahu kondisi kulit sekarang,” katanya. Meski begitu, menurutnya, pesona sejati tidak datang dari produk mahal, melainkan dari empati. “Banyakin empati. Jangan mikirin diri sendiri terus. Itu satu-satunya hal yang bikin manusia tetap punya cahaya,” pungkasnya.
Advertisement
Standar kecantikan di Indonesia kerap menempatkan kulit putih di puncak hierarki, pandangan yang dianggap usang oleh Tasya Farasya. “Saya ingin buang stigma kalau cantik itu harus putih. Yang penting bukan putih, tapi terawat, cerah, dan bercahaya. Semua skin tone punya keindahan masing-masing,” tegasnya.
Menurut Tasya, kebutuhan kulit setiap orang berbeda, sehingga pendekatan perawatan seharusnya berfokus pada kesehatan kulit, bukan warnanya. “Aku ingin mendorong formula yang bukan untuk memutihkan, tapi untuk merawat agar kulit lebih sehat,” ujar Tasya, menyebut bahan aktif seperti L-ascorbic acid 15 persen, adenosine, niacinamide 5 persen, dan ginseng yang relevan untuk iklim tropis.
Luna Maya juga memandang bertambahnya usia bukan ancaman bagi kecantikan. “Age is just a number. Yang penting tahu ingredients yang tepat buat diri sendiri,” ujarnya. Ia juga menyoroti potensi bahan alami seperti PDRN dan Green Algae yang kini banyak digunakan dalam formulasi skincare, karena kandungan mineralnya tinggi dan bermanfaat bagi kulit.
Advertisement
Dari sisi lain, Maharaja, konten kreator sekaligus pendiri Finally Found You!, menambahkan perspektif berbeda. “Perawatan kulit itu bukan hanya buat perempuan. Laki-laki juga perlu, minimal pakai cleanser, moisturizer, dan sunscreen,” ujarnya, menekankan bahwa perawatan kulit adalah kebutuhan universal.
Advertisement
Di balik diskusi tentang retinol, gaya hidup sehat, dan inner beauty, ada satu pesan yang mengikat: kecantikan tidak sesederhana memilih produk. Ia lahir dari keseimbangan antara perawatan luar, ketenangan batin, serta keberanian menolak stigma sempit soal kulit putih dan hasil instan.
Maharaja menyebut produk barunya menghadirkan formula berbasis teknologi terkini, seperti PDRN dan Green Algae, untuk membantu kulit tetap sehat. Namun, pesan utamanya bukan pada produknya, melainkan pada maknanya. “Kami ingin menegaskan bahwa cantik tidak hanya tentang produk. Cantik berarti merawat diri luar dan dalam, lalu percaya diri dengan keunikan masing-masing,” ujarnya.
Setiap orang, lanjut Maharaja, berhak merasa cantik tanpa harus mengubah warna kulitnya. “Kami percaya semua orang punya hak merasa cantik. Produk ini hadir sebagai solusi, tapi pesan utamanya adalah cintai diri apa adanya,” katanya. Ini menekankan pentingnya penerimaan diri dan kepercayaan diri sebagai fondasi kecantikan sejati.
Advertisement
Di era yang penuh sorotan visual dan tekanan untuk tampil sempurna, mungkin makna sejati dari kecantikan modern adalah ketika seseorang berdiri di depan cermin, melihat bukan sekadar kulit yang mulus, melainkan jiwa yang damai dan percaya diri apa adanya. Ini adalah esensi dari memaknai kecantikan seutuhnya.
Sumber: AntaraNews