Resmikan Gedung Katedral Makassar, Menag Nasaruddin: Rumah Ibadah Harus Megah Dibandingkan Rumah Maksiat
Nasaruddin mengapresiasi pembangunan dan renovasi Katedral Makassar. Ia bangga hadirnya rumah ibadah yang megah.
Menteri Agama Nasaruddin Umar meresmikan gedung baru Gereja Katedral Makassar, Kamis (30/10) malam. Menag Nasaruddin menyampaikan pesan rumah ibadah harus lebih megah dibandingkan rumah maksiat.
Nasaruddin mengapresiasi pembangunan dan renovasi Katedral Makassar. Ia bangga hadirnya rumah ibadah yang megah.
"Kita memang harus berbangga dengan hadirnya sebuah rumah ibadah yang megah. Rumah ibadah apa saja, apakah itu masjid, gereja protestan, gereja katolik, Vihara dan sebagainya," ujarnya.
Lebih Baik Rumah Ibadah itu Megah Daripada Rumah-Rumah Maksiat
Menurut Nasaruddin, lebih baik rumah ibadah itu megah daripada rumah-rumah maksiat. Nasaruddin menilai rumah ibadah harus bisa mendekatkan umatnya dengan Tuhan-Nya.
"Lebih baik rumah ibadah itu megah daripada rumah-rumah perjudian, daripada rumah-rumah preman. Bahkan menurut hemat saya dan saya punya keyakinan bahwa semakin dekat umat beragama itu kepada Tuhan-Nya, maka akan semakin luhur wujud masyarakat itu," tegasnya.
"Tapi sebaliknya, semakin berjarak masyarakat itu dengan Tuhan-Nya, semakin banyak kriminal yang berkembang dalam masyarakat itu," tuturnya.
Kehadiran Rumah-Rumah Ibadah Harus Bisa Jadi Tempat Khusus Bagi Umat Beragama
Oleh karena itu, kata Nasaruddin, kehadiran rumah-rumah ibadah harus bisa menjadi tempat khusus bagi umat beragama. Ia kembali menegaskan, rumah ibadah harus lebih baik daripada rumah maksiat.
"Kenapa, karena kalau rumah ibadah banyak, berarti banyak sarana untuk mendekatkan orang itu kepada Tuhan. Semakin banyak sumber-sumber, sarana-sarana penyadaran umat, maka itu akan berkontribusi terhadap terjadinya kesantunan publik di dalam masyarakat," kata Imam Masjid Istiqlal ini.
Selain itu, Nasaruddin berharap rumah ibadah juga bisa menjadi tempat sakral bagi umat beragama. Ia menyebut tempat sakral bisa menjinakkan perasaan dan jiwa manusia.
"Kalau orang sudah tidak punya tempat sakral, terjadi desakralisasi alam semesta. Apalagi yang akan menjinakkan perasaan dan jiwa pikiran seseorang itu. Di mana kita akan menangisi maratapi dosa masa lampau kita kalau sudah tidak ada lagi tempat-tempat yang sakral," ujarnya.
"Karena itu, gereja, masjid, rumah-rumah ibadah yang lain harus ada dan harus dipelihara. Kenapa? Karena tempat itu adalah oasis spiritual mengajak kita kembali kepada Tuhan. Karena Tuhan itu ada di mana-mana dan dia yang pertama dan yang terakhir," ujarnya.