Rektor ITB Ajak Generasi Muda Pikirkan Warisan Ilmu ITB untuk Masa Depan Bangsa

Dalam peringatan 106 tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia, Rektor ITB Tatacipta Dirgantara mengajak generasi muda merenungkan Warisan Ilmu ITB yang akan mereka tinggalkan, menekankan pentingnya kolaborasi dan inovasi berkelanjutan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Rektor ITB Ajak Generasi Muda Pikirkan Warisan Ilmu ITB untuk Masa Depan Bangsa
Dalam peringatan 106 tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia, Rektor ITB Tatacipta Dirgantara mengajak generasi muda merenungkan Warisan Ilmu ITB yang akan mereka tinggalkan, menekankan pentingnya kolaborasi dan inovasi berkelanjutan. (AntaraNews)

Institut Teknologi Bandung (ITB) baru saja menyelenggarakan Sidang Terbuka Peringatan 106 tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI) pada Jumat, 4 Juli 2026, di kampus ITB Bandung. Acara ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan perjalanan panjang pendidikan teknik di Indonesia dan menatap masa depan yang penuh tantangan. Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, memimpin acara tersebut dengan pesan inspiratif bagi seluruh hadirin.

Dalam pidatonya, Rektor Tatacipta secara khusus mengajak generasi masa kini untuk tidak hanya mengagumi sejarah, tetapi juga aktif memikirkan warisan yang akan mereka tinggalkan bagi masa depan bangsa. Ia menekankan bahwa sejarah selalu mengajukan pertanyaan baru kepada setiap generasi, menuntut kontribusi nyata setelah semua warisan yang telah diterima. Pesan ini menggarisbawahi tanggung jawab besar yang diemban oleh para akademisi dan inovator di era modern.

Peringatan PTTI ke-106 ini bukan sekadar seremoni mengenang masa lalu, melainkan sebuah ajang krusial untuk meneguhkan peran sains dan teknologi yang berdampak langsung bagi masyarakat serta keberlanjutan lingkungan hidup. ITB berkomitmen untuk terus menjadi garda terdepan dalam menghasilkan inovasi yang relevan dan solutif.

Menjawab tantangan abad ke-21 yang semakin kompleks, Rektor Tatacipta Dirgantara menegaskan bahwa keunggulan perguruan tinggi saat ini tidak lagi ditentukan oleh ego sektoral atau kemampuan berdiri sendiri. ITB memandang kolaborasi sebagai kunci utama untuk menghadapi dinamika global.

ITB secara konkret mengusung pentingnya kolaborasi dan interdependensi lintas disiplin sebagai fondasi utama untuk masa depan. Gagasan ini melanjutkan pemikiran terdahulu mengenai intellectual humility dan Budaya Ke-4, yang mendorong keterbukaan dan kerendahan hati dalam berinovasi. Tatacipta menegaskan, "Kolaborasi bukan merupakan tanda kelemahan, melainkan wujud kedewasaan sebuah peradaban."

Indonesia memiliki modal besar berupa keragaman hayati, budaya, dan kondisi geografis yang kuat untuk melahirkan pengetahuan dan teknologi relevan. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk menjawab persoalan global, seperti ketahanan pangan, transisi energi, hingga mitigasi bencana. Pengembangan Warisan Ilmu ITB melalui kolaborasi diharapkan mampu memberikan solusi konkret.

Sejalan dengan visi ITB, Pakar Energi Terbarukan Tri Mumpuni turut menyampaikan orasi ilmiah berjudul "Sains dan Teknologi untuk Keberlanjutan Kehidupan: antara Pertumbuhan, Keadilan Sosial dan Kelestarian Lingkungan". Orasi ini mengkritisi arah inovasi masa kini yang seringkali hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi makro.

Tri Mumpuni menekankan pentingnya pengembangan sains dan teknologi yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata. Inovasi harus mampu menjawab tantangan kesenjangan sosial yang nyata serta menjaga kelestarian lingkungan. Tujuannya adalah untuk memberikan manfaat yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Pesan ini menggarisbawahi bahwa Warisan Ilmu ITB haruslah berlandaskan pada prinsip keadilan sosial dan keberlanjutan. Teknologi yang dikembangkan harus mampu menjangkau mereka yang paling membutuhkan, sekaligus memastikan kelestarian alam untuk generasi mendatang. Ini adalah bagian integral dari peran perguruan tinggi dalam pembangunan bangsa.

Momen historis PTTI ke-106 juga diwarnai dengan pemberian apresiasi tinggi kepada para tokoh yang berjasa bagi kemajuan institusi dan pendidikan teknik di Tanah Air. Penghargaan ini menjadi bentuk pengakuan atas dedikasi luar biasa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Tercatat sebanyak 11 tokoh menerima penghargaan Ganesa Widya Jasa Adiutama atas dedikasi dan jasa istimewa mereka dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan pendidikan. Selain itu, sembilan tokoh dianugerahi penghargaan Ganesa Wirya Jasa Adiutama atas pengabdian dan dukungan berdampak bagi pengembangan ITB.

Rektor Tatacipta mengingatkan kembali esensi utama dari sebuah institusi pendidikan tinggi yang tidak boleh luntur oleh modernisasi fisik. "Warisan terbesar sebuah universitas bukanlah gedung ataupun laboratorium, melainkan budaya berpikir yang terbuka, rendah hati, dan mampu melahirkan kolaborasi," tuturnya. Pesan ini menegaskan bahwa Warisan Ilmu ITB yang sesungguhnya adalah nilai-nilai intelektual dan budaya.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi