Dinas Kesehatan mencatat sebanyak 1.107 warga Sumatera Selatan mengidap pneumonia akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebanyak 50 persen pasien di antaranya harus menjalani rawat inap di rumah sakit.
Berdasarkan catatan Dinkes Sumsel, penambahan ribuan pasien pneumonia itu hanya periode karhutla pada Agustus-November 2026. Jumlahnya naik drastis dibanding bulan-bulan sebelumnya pada tahun ini.
Penderita pneumonia terbanyak berada di Palembang berjumlah 433 kasus, disusul Lubuklinggau 149 kasus, Musi Banyuasin 148 kasus, dan Muara Enim 122 kasus. Pasien pneumonia juga tersebar di kabupaten dan kota lain dengan jumlah beragam mulai 2 hingga 36 kasus.
"Sepanjang periode karhutla atau Agustus hingga November tahun ini, kami catat ada 1.107 kasus pneumonia di Sumsel," ungkap Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sumsel, Ira Primadesa, Rabu (4/11).
Ira mengatakan, pasien pneumonia mayoritas memerlukan penanganan serius. Alasannya, penyakit ini merupakan infeksi atau peradangan akut pada jaringan paru-paru yang menjadi salah satu bentuk komplikasi lanjut dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang paling diwaspadai.
Hal ini terbukti dari tren rawat inap bagi pasien penyakit ini di rumah sakit sangat tinggi. Dari 581 pasien berbagai jenis penyakit pernapasan yang menjalani rawat inap di RS di Sumsel sepanjang 12 Oktober hingga 3 November 2026, 50 persen di antaranya berasal dari pasien pneumonia yang berjumlah 289 pasien.
Kemudian pasien ISPA yang dirawat sebanyak 215 orang atau 37 persen dan pasien penyakit pernapasan lainnya berjumlah 77 orang atau 13 persen.
"Rawat inap pasien pneumonia mendomisasi dibanding penyakit pernapasan lain, tercatat 50 persen," kata dia.
Lebih lanjut Ira mengatakan, pasien pneumonia umumnya berasal dari kelompok umur lima tahun ke atas. Namun kelompok umur anak di bawah lima tahun memerlukan perlindungan serius dari paparan asap sehingga tidak menambah daftar pasien dari kalangan ini.
"Pemantauan dan perlindungan serius juga bagi lansia dan penderita asma untuk mencegah komplikasi," tutupnya.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9371919/original/008702900_1791854435-000_D2Z484J.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9390276/original/072061100_1793791644-IMG_20261104_171205_880.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9381121/original/046944700_1792754990-505090.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9390220/original/032019000_1793787671-262540.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9390237/original/043309300_1793788462-IMG_1725.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9390251/original/095602900_1793789428-IMG-20261104-WA0018.jpg)