Bermain kerap dianggap sebagai aktivitas anak-anak. Namun, belakangan sejumlah orang dewasa justru kembali menikmati permainan yang identik dengan masa kecil, mulai dari menyusun Lego, merangkai puzzle, hingga meremas squishy dan membuat slime.
Kebiasaan tersebut dikenal sebagai 'kidulting', istilah yang merujuk pada orang dewasa yang menikmati aktivitas atau barang yang lekat dengan dunia anak-anak. Fenomena ini bukan semata soal nostalgia atau mengikuti tren. Bermain juga bisa menjadi cara untuk memberi jeda dari rutinitas dan tekanan sehari-hari.
Advertisement
Hiburan dari Tekanan
Psikolog Cindy Adhianty Tupan mengatakan, bermain tidak memiliki batas usia. Orang dewasa, remaja, anak-anak, hingga lansia tetap membutuhkan aktivitas dilakukan untuk bersenang-senang, tanpa harus mengejar hasil atau produktivitas tertentu.
"Bermain bukan berarti seseorang kekanak-kanakan. Aktivitas ini bisa menjadi ruang untuk berekreasi, berkreasi, dan menikmati sesuatu tanpa tuntutan," kata Cindy saat berbincang dengan merdeka.com, Senin (2/11).
Menurut dia, orang dewasa menyukai Lego, puzzle, slime, atau squishy tidak serta-merta menunjukkan sikap tidak dewasa. Justru, aktivitas bermain dapat membantu seseorang menjaga kreativitas di tengah rutinitas padat.
Cindy menjelaskan, bermain dapat menjadi salah satu bentuk stres rilief. Dalam menghadapi tekanan, seseorang bisa berusaha menyelesaikan sumber masalah atau mengelola emosi yang muncul. Bermain dapat menjadi salah satu cara untuk membantu mengelola emosi tersebut.
Misalnya, ketika seseorang meremas squishy atau memainkan slime, perhatian bisa beralih ke tekstur, warna, dan sensasi yang dirasakan. Peralihan perhatian ini dapat membantu seseorang mengambil jeda dari pikiran yang terus berulang.
Namun, Cindy mengingatkan, bermain bukan satu-satunya cara untuk mengelola stres. Tidak semua orang juga membutuhkan permainan sebagai sarana meluapkan emosi.
“Bermain bisa menjadi salah satu cara yang sehat untuk mengalihkan perhatian sejenak atau memberi ruang bagi emosi. Tetapi, bentuk pemulihan setiap orang bisa berbeda,” ujar dia.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5229230/original/049148800_1747909721-Mg3QXMcJwb.jpg)
Advertisement
Teman di Tengah Rutinitas
Selain memberi jeda, bermain juga dapat membantu seseorang mengenali dan mengelola emosi. Aktivitas sederhana seperti menyusun puzzle atau Lego, misalnya, bisa memunculkan rasa penasaran, antusiasme, hingga kepuasan ketika berhasil menyelesaikannya.
Proses mencoba, gagal, lalu mencoba lagi juga dapat melatih toleransi terhadap rasa frustrasi. Berbeda dengan pekerjaan yang sering disertai target dan penilaian, bermain memberi ruang bagi seseorang untuk bereksperimen tanpa harus selalu menghasilkan sesuatu.
Pengalaman itu dirasakan Najwa (22), yang kembali membuat slime setelah melihat tutorial di TikTok. Dia mengaku sudah mengenal slime sejak duduk di bangku sekolah dasar, tetapi sempat berhenti ketika tren tersebut mereda.
Kini, Najwa kembali tertarik mencoba berbagai tutorial. Ia membeli bahan-bahan seperti lem dan foam, lalu membuat slime untuk dimainkan. Baginya, kegiatan tersebut lebih banyak dilakukan karena ingin bermain dan mengikuti tutorial, bukan untuk tujuan tertentu.
“Tujuannya buat mainan. Mostly tujuannya ya cuma pengin aja sih ngikutin, lihat di TikTok terus habis itu pengin bikin, beli bahan-bahannya,” kata Najwa.
Sementara itu, Dosi (22), memilih membawa squishy ke kantor. Dia sudah menyukai mainan tersebut sejak SMP dan kini lebih menyukai squishy dengan tekstur yang terasa nyaman saat diremas.
Dosi biasanya memainkan squishy ketika sedang berpikir atau merasa bosan di sela pekerjaan. Menurutnya, aktivitas itu membantu memberi jeda dari rutinitas kantor.
“Jadi kayak bisa remes-remes pas lagi mikir atau mulai bosen. Biasanya kayak otomatis aja pengin megang sesuatu,” kata Dosi.
Baginya, squishy bukan alat khusus untuk mengatasi stres. Mainan tersebut lebih berfungsi sebagai selingan agar aktivitas bekerja tidak terasa monoton.
“Kalau manfaatnya, menurutku biar ngilangin bosen sih, jadi buat selingan sambil kerja,” ujar Dosi.
Pengalaman Najwa dan Dosi menunjukkan bahwa bermain tidak selalu harus dilakukan dalam waktu lama atau dengan tujuan tertentu. Aktivitas sederhana pun bisa menjadi selingan di tengah kesibukan.
Advertisement
Bermain Tetap Perlu Batasan
Meski dapat menjadi bagian dari perawatan diri, Cindy menegaskan bahwa bermain sebaiknya dilakukan secara sukarela, bukan berubah menjadi kewajiban baru. Orang dewasa tetap perlu menjalankan tanggung jawab utama dan tidak menjadikan bermain sebagai satu-satunya cara untuk merawat kesehatan mental.
Dia juga mengingatkan agar kebiasaan tersebut tidak berkembang menjadi perilaku konsumtif atau pembelian mainan secara berlebihan hingga mengganggu kondisi keuangan.
“Bermain seharusnya membantu seseorang merasa lebih baik, bukan justru menambah masalah,” kata Cindy.
Fenomena 'kidulting' juga terlihat dalam industri mainan di Amerika Serikat. Mengutip CNBC Make It, data Circana mencatat nilai industri mainan AS mencapai US$45,6 miliar pada 2025.
Survei Harris Poll terhadap 2.158 orang dewasa di AS juga menemukan, 65 persen responden menghabiskan setidaknya US$100 untuk produk atau aktivitas bermain demi kesenangan pribadi dalam periode Juni 2025 hingga Juni 2026.
Data tersebut menggambarkan tren di Amerika Serikat, bukan kondisi pasar Indonesia. Namun, fenomena ini menunjukkan bahwa bermain tak lagi dipandang sebagai aktivitas yang hanya diperuntukkan bagi anak-anak.
Pada akhirnya, bermain tidak harus selalu menghasilkan sesuatu. Sesekali, memberi ruang untuk menikmati aktivitas sederhana bisa menjadi cara orang dewasa mengambil jeda dari tuntutan sehari-hari, selama tetap dilakukan secara sehat dan tidak mengabaikan tanggung jawab.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1806592/original/026703400_1513675293-c5d19d5e160e18a10c6aee4eff820438.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9388304/original/088803700_1793608088-WhatsApp_Image_2026-11-02_at_13.20.17.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7660040/original/046727000_1780453477-1000775495.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9374385/original/015166600_1792048774-IMG_3363.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9388240/original/014510100_1793606116-WhatsApp-Image-2026-11-02-at-10.18.37-AM-768x485.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9388167/original/015749900_1793603992-PHOTO-2026-11-02-13-48-12.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9386830/original/012264700_1793375966-IMG_1430.jpeg)