Di Tegal, nama R.A. Kardinah lekat dengan sejarah batik sekaligus kiprahnya di pendidikan dan kemanusiaan. Jejak itu kembali ditelusuri dalam bincang budaya bertajuk “Jejak R.A. Kardinah di Batik Tegal” yang digelar Bakul Budaya Nusantara (BBN) pada Jumat (16/10/2026) di Auditorium Benny H. Hoed, Gedung X Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Depok, Jawa Barat. Acara ini terlaksana berkat kerja sama BBN dan FIB UI, didukung Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, bertepatan dengan momentum peringatan Hari Batik Nasional.
R.A. Kardinah lahir di Jepara pada 1 Maret 1881, putri R.M. Adipati Ario Sosroningrat sekaligus adik R.A. Kartini. Bersama Kartini dan Rukmini, ia dikenal sebagai Tiga Saudara yang menaruh perhatian pada pendidikan dan hak perempuan. Dalam forum tersebut, dosen Departemen Ilmu Sejarah FIB UI, Dr. Dwi Mulyatari, S.S., M.A., menyebut kedekatan ketiganya dalam satu istilah yang akrab didengar masyarakat.
"Karena begitu dekat, Kardinah bersama Kartini dan Rukmini dikenal sebagai Tiga Saudara atau Daun Semanggi Berkelopak Tiga," ujar Dr. Dwi Mulyatari, S.S., M.A., dosen Departemen Ilmu Sejarah FIB UI, dalam bincang-bincang tersebut.
Kardinah banyak terinspirasi gagasan Kartini soal pentingnya pendidikan bagi perempuan Jawa pada masa Hindia Belanda. Setelah Kartini wafat pada 1904, ia bersama Rukmini meneruskan semangat itu. Sejak kecil Kardinah kerap mendampingi ayahnya mengunjungi desa, menyaksikan langsung persoalan kesehatan, kebersihan, hingga kesulitan warga saat bencana. Ketika berada di Tegal, ia mendirikan Sekolah Kepandaian Putri Wisma Pranawa serta Kardinah Ziekenhuis sebagai balai pengobatan bagi masyarakat miskin. Di sisi lain, keterampilan membatik ikut menjadi bagian pengabdiannya yang mewarnai perjalanan batik Tegal.
Advertisement
Jejak R.A. Kardinah dan Pengaruh Lasem di Batik Tegal
Perjalanan Kardinah dalam dunia batik menjadi salah satu sorotan dalam diskusi yang menghadirkan Dr. Dwi Mulyatari dan antropolog sekaligus periset batik, Notty J. Mahdi. Sesi dipandu perancang busana Wanda Alifya Tejomoyo.
Bagi Notty, hubungan Kardinah dan batik bukan sekadar catatan sejarah. Ia datang mengenakan kain batik yang menurutnya menyimpan kisah personal terkait masa-masa akhir hayat Kardinah.
"Jadi, saya sekarang berkesempatan pamer," ujar Notty, disambut tawa peserta.
"Ini kain tahun 70-an kata Ibu saya, beberapa bulan sebelum Kardinah meninggal. Karena dia perlu uang untuk pengobatan, dia jual ke ibu saya," sambung Notty.
Kain yang dibawa Notty menampilkan motif kupu-kupu khas Lasem. Dari sana pembicaraan bergerak pada kedekatan Kardinah dengan batik Lasem yang dikenal kuat dalam permainan warna dan ragam hias. Menurut Notty, jejak Lasem terlihat pada batik yang dibawa Kardinah ke Tegal, mulai dari penggunaan warna merah darah dan sogan, hingga motif bunga dan Burung Hong dengan isen-isen watu pecah serta tumbar bolong.
Notty juga menghamparkan beberapa kain batik Tegal untuk menunjukkan keragaman motif berikut maknanya. Salah satunya motif watu pecah, yang dikaitkan dengan penderitaan rakyat akibat kerja paksa pada pembangunan Jalan Raya Anyer–Panarukan di masa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Aktivitas memecah batu besar menjadi bagian-bagian kecil dimaknai sebagai simbol beratnya beban kerja.
Di sisi lain, motif Sekar Jagad mengingatkan pemakainya pada beragam sifat manusia dan keterhubungan dalam hidup.
"Kenapa namanya Sekar Jagad? Karena di dalamnya ada sifat manusia. Kalau kita pakai ini, kita diingatkan pada sifat kita, hubungan vertikal dan horizontal, kita dengan sesama, kita dengan Gusti Allah. Kita juga harus mencari makan, harus kerja. Semuanya ada di sini," tutur Notty.
Rangkaian acara juga menampilkan Pojok Literasi R.A. Kardinah di area depan auditorium. Sudut ini memuat biografi singkat, linimasa kelahiran hingga wafat, silsilah keluarga, serta arsip foto. Beberapa rujukan tertulis turut dipamerkan, antara lain buku Tiga Saudara karya Kardinah Reksonegoro yang diperbanyak oleh Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Rembang, serta Kardinah: Sebuah Biografi Pejuang Kemanusiaan (1881–1971) karya budayawan Tegal, Yono Daryono.
Di dekatnya, gerai kain batik Tegal juga hadir dengan koleksi batik tulis, cap, dan caplis (cap-tulis) dalam aneka motif dan warna, memungkinkan pengunjung melihat karya perajin dari dekat sekaligus membeli kain. Rangkaian kegiatan dibuka dengan menyanyikan Indonesia Raya tiga stanza, disusul Mars Bakul Budaya Nusantara.
Dalam sambutannya, Ketua Umum Yayasan Bakul Budaya Nusantara, Dewi Fajar Marhaeni, menekankan pentingnya mengenali batik sebagai bagian merawat kebudayaan.
"Merawat budaya dan kebanggaan terhadap batik berawal dari mengenalnya, karena di balik selembar kain terdapat sejarah, pengetahuan, cerita, lambang, dan penggambaran suatu daerah. Dengan mengenal lebih dalam, kami berharap masyarakat luas dapat mengenal Batik Tegal yang mempunyai sejarah panjang yang di dalam perkembangannya ada sosok R.A. Kardinah yang tidak hanya seorang visioner, melainkan juga seorang praktisi pendidikan dan kemanusiaan," tutur Dewi.
Dekan FIB UI, Dr. Untung Yuwono, S.S., mengapresiasi inisiatif BBN yang selaras dengan upaya fakultas mengenalkan tokoh berjasa namun belum banyak dikenal.
"Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia menggandeng Bakul Budaya Nusantara akan mengedepankan tokoh-tokoh yang mungkin belum dikenal oleh masyarakat, tapi luar biasa jasanya. Sehingga siapapun yang berjasa bagi bangsa Indonesia bisa terangkat," ujar Untung.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Judi Wahjudin, S.S., M.Hum., turut mengingatkan pentingnya kolaborasi.
"Kebudayaan adalah milik semua. Rohnya itu (kebudayaan) adalah gotong-royong dan saling melengkapi, saling menguatkan," ucap Judi.
Advertisement
Batik Tegal, Titik Temu Berbagai Kebudayaan
Kekayaan batik Tegal diperlihatkan melalui Parade Kain Batik bertajuk “Tak Tegal, maka Tak Sayang”. Anggota BBN—Nisrin Rubina, Mery Wahyuningsih, Priska Endang Kusumandani, Roro Wiwien S., dan Anggun Tara F.—memperagakan enam helai kain bermotif Parang, Udan Liris Gurdo, Kawung Jenggot, Kawung, Gribig Irengan, dan Jo Ijo.
Setiap helai menonjolkan karakter batik Tegal yang tumbuh di titik temu beragam kebudayaan: pakem Mataraman berbaur dengan corak pesisiran dan sentuhan Peranakan Tionghoa, melahirkan keragaman motif dan warna.
Pengaruh Amangkurat I tampak pada penggunaan warna hitam dan sogan. Interaksi dengan pedagang Eropa, Tiongkok, serta masyarakat Muslim memperkaya ragam hias. Dalam perkembangannya, sentuhan batik Lasem juga turut mewarnai perjalanan batik Tegal—jejak yang salah satunya datang melalui Kardinah ketika memperkenalkan keterampilan membatik.
Menutup parade, narator sekaligus pembawa acara, Chitaria Noeswantoro Poetri, mengajak audiens kembali mengingat Kardinah lewat kain-kain yang tersaji.
"Demikianlah batik dari Tanah Tegal membawa kita kembali pada ingatan tentang Ibu Kardinah. Bagaimana jika setiap helai kain yang terbentang di hadapan kita adalah cara Ibu menyapa, menitipkan pesan agar batik sebagai warisan sejarah terus hidup?" tutup Chitaria.
Kisah Kardinah memperlihatkan sumbangsih yang hadir dalam banyak bentuk. Ia menyalakan akses pendidikan melalui Sekolah Kepandaian Putri Wisma Pranawa, menghadirkan layanan kesehatan lewat Kardinah Ziekenhuis, dan mengambil bagian dalam perkembangan kebudayaan lewat keterampilan membatik di Tegal.
Selembar kain batik kerap tampak sehari-hari, tetapi motif dan warnanya menyimpan jejak perjumpaan budaya, sejarah, serta pengalaman hidup masyarakat. Karena itu, makna di balik prosesnya perlu dijaga. Notty J. Mahdi merangkum pengingat itu dalam satu kalimat sederhana.
"Don’t use printing because it has no soul, no story."
Melalui bincang “Jejak R.A. Kardinah di Batik Tegal”, warisan Kardinah diperkenalkan kembali kepada generasi muda. Mengenal Batik Tegal berarti membuka lembaran-lembaran yang membentuknya, termasuk perjalanan seorang perempuan yang bekerja bagi pendidikan, kesehatan, dan kebudayaan.
Kecintaan pada batik tidak hanya tumbuh saat mengenakannya, melainkan juga ketika memahami sejarahnya, mengenali sosok di balik perkembangannya, dan ikut menjaga agar cerita di setiap helai terus hidup lintas generasi.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9378280/original/040920400_1792495399-WhatsApp_Image_2026-10-20_at_17.54.59.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5530864/original/019695200_1773496477-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7681013/original/026960100_1780476564-Hendarman.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9378205/original/033001100_1792492429-IMG_20261020_165306_920.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9378230/original/089707100_1792493601-IMG-20261019-WA0064.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9377253/original/001732100_1792420037-WhatsApp_Image_2026-10-19_at_21.24.42.jpeg)