Penampakan kawah Anak Krakatau mirip telur ceplok dari udara menarik perhatian. Fenomena kawah Anak Krakatau itu muncul terlihat dalam video dibagikan akun Instagram @wxchasing, hingga viral di media sosial.
Namun, menurut Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono, bentuk tersebut merupakan hasil proses geokimia alami yang terjadi di lingkungan kawah gunung api aktif.
Advertisement
Lantas, bagaimana fenomena itu bisa terbentuk?
Daryono menjelaskan, fenomena tersebut terjadi ketika air menggenang di dasar kawah berinteraksi dengan gas vulkanik, terutama senyawa sulfur atau belerang. Interaksi tersebut juga melibatkan batuan dan mineral yang mengalami alterasi hidrotermal akibat paparan fluida serta gas panas dari aktivitas vulkanik.
Daryono menyebut fenomena ini sebagai “genangan kawah yang mengalami perubahan geokimia akibat interaksi air, gas vulkanik, dan batuan (acid-sulfate alteration)”.
Advertisement
Mengapa warnanya seperti telur ceplok?
Tampilan menyerupai telur ceplok muncul karena adanya perbedaan warna pada bagian tengah dan sekeliling genangan. Bagian kuning di tengah berkaitan dengan sulfur serta material mineral yang terbentuk atau terlarut akibat aktivitas vulkanik.
Sementara itu, bagian putih di sekelilingnya merupakan batuan dan mineral yang mengalami perubahan atau alterasi akibat interaksi dengan fluida dan gas panas.
Air kemudian mengisi bagian paling rendah dari kawah. Proses kimia dan pengendapan mineral di sekitarnya menciptakan kontras warna yang dari udara tampak menyerupai kuning telur dan putih telur.
Advertisement
Apakah ini fenomena aneh?
Menurut Daryono, fenomena tersebut merupakan proses geokimia alami yang dapat terjadi di lingkungan kawah vulkanik aktif. Karena itu, tampilan “telur ceplok” pada kawah Anak Krakatau bukan fenomena misterius.
“Jadi, fenomena ini merupakan proses geokimia alami di lingkungan kawah vulkanik aktif, bukan sesuatu yang aneh, misterius atau pertanda bahaya,” kata Daryono dalam keterangannya dikutip Minggu (20/9).
Advertisement
Mengapa fenomenanya bisa berubah?
Daryono menjelaskan, bentuk atau tampilan fenomena tersebut dapat muncul maupun berubah setelah terjadinya episode erupsi. Hal ini berkaitan dengan perubahan pada sistem hidrotermal dan suplai gas di dalam kawah.
Ketika kondisi tersebut berubah, interaksi antara air, gas vulkanik, batuan, dan mineral juga dapat berubah. Akibatnya, warna maupun tampilan genangan di dalam kawah dapat mengalami perubahan.
Advertisement
Apa yang sebenarnya terlihat?
Secara sederhana, penampakan “telur ceplok” itu merupakan hasil dari air yang menggenang di bagian terendah kawah. Gas vulkanik, terutama senyawa sulfur atau belerang.
Batuan dan mineral yang mengalami alterasi akibat fluida dan gas panas. Proses kimia serta pengendapan mineral yang menghasilkan perbedaan warna.
Kombinasi proses tersebut membuat kawah Anak Krakatau dari udara tampak seperti telur ceplok—sebuah fenomena geokimia yang terjadi secara alami di lingkungan gunung api aktif.