Apa Dampak Pemadaman 60 Menit Lampu di Jakarta?

Pemadaman lampu dilakukan secara serentak pada 20.30–21.30 WIB, Sabtu (19/9), dalam rangka peringatan Hari Ozon Sedunia.

Muhamad Agil Aliansyah
Oleh Muhamad Agil Aliansyah - Reporter
Apa Dampak Pemadaman 60 Menit Lampu di Jakarta?
pemadaman satu jam listrik jakarta. (foto antara).

Aksi memadamkan lampu selama satu jam di Jakarta pada Sabtu (19/9) malam, ternyata menghasilkan penghematan energi cukup besar. Berdasarkan rekapitulasi PLN UID Jakarta Raya, aksi tersebut menghemat 92,79 megawatt-jam (MWh) listrik dan mengurangi emisi karbon sekitar 74,23 ton CO₂e.

Lalu, apa sebenarnya dampak dari aksi sederhana mematikan lampu selama 60 menit?

Pemadaman lampu dilakukan secara serentak pada 20.30–21.30 WIB, Sabtu (19/9), dalam rangka peringatan Hari Ozon Sedunia.

Masyarakat, pengelola gedung, tempat usaha, dan berbagai pihak diajak mematikan lampu serta penggunaan perangkat listrik yang tidak diperlukan selama satu jam.

 

Berapa energi dihemat?

Selama aksi berlangsung, penggunaan listrik di wilayah DKI Jakarta berkurang 92,79 MWh.

Angka tersebut juga berdampak pada biaya listrik. Berdasarkan rekapitulasi PLN, penghematan yang tercatat mencapai sekitar Rp134,27 juta.

Capaian ini meningkat dibandingkan aksi serupa pada 13 Juni 2026 dalam rangka Hari Lingkungan Hidup. Saat itu, penghematan listrik tercatat 75,18 MWh.

Bagaimana dengan emisi karbon?

Berkurangnya konsumsi listrik juga berarti berkurangnya emisi yang terkait dengan produksi listrik. Dari aksi satu jam tersebut, emisi karbon di wilayah Jakarta diperkirakan berkurang 74,23 ton CO₂e.

CO₂e atau carbon dioxide equivalent merupakan satuan yang digunakan untuk menyetarakan dampak berbagai gas rumah kaca ke dalam jumlah yang setara dengan karbon dioksida (CO₂).

 

Apakah mematikan lampu selama satu jam cukup?

Aksi satu jam tidak dimaksudkan sebagai satu-satunya solusi untuk mengurangi emisi. Nilai utamanya adalah menunjukkan bahwa penghematan energi dapat dimulai dari kebiasaan sederhana.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi mengatakan kepedulian terhadap lingkungan dapat diwujudkan melalui kebiasaan sehari-hari. Karena itu, masyarakat didorong untuk tidak hanya menghemat listrik saat ada aksi serentak, tetapi juga menerapkannya secara rutin.

"Aksi satu jam ini mengingatkan kita bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat diwujudkan melalui kebiasaan sehari-hari," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi dalam keterangan persnya pada Minggu (20/9).

 

Apa yang bisa dilakukan sehari-hari?

Beberapa kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan antara lain, mematikan lampu di ruangan yang sedang tidak digunakan, memanfaatkan cahaya alami pada siang hari, mematikan pendingin ruangan setelah selesai digunakan, mematikan perangkat elektronik yang tidak diperlukan, menggunakan peralatan listrik sesuai kebutuhan dan mengatur penggunaan listrik di tempat usaha dan gedung sesuai waktu operasional.

Jika dilakukan secara konsisten dan dalam skala luas, penghematan dari kebiasaan tersebut dapat terakumulasi menjadi pengurangan konsumsi energi dan emisi yang lebih besar.

Aksi 60 menit di Jakarta menghasilkan penghematan 92,79 MWh listrik, penghematan biaya sekitar Rp134,27 juta, serta pengurangan emisi 74,23 ton CO₂e. Pemadaman lampu selama satu jam menjadi pengingat bahwa penghematan energi juga dapat dimulai dari tindakan kecil—mematikan perangkat yang tidak digunakan dan menggunakan listrik hanya ketika diperlukan.

Rekomendasi