Kasus seorang siswi berprestasi di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, Febiola boru Purba (16), menjadi perhatian setelah diduga mengalami gangguan ingatan usai menjalani perawatan akibat keracunan makanan pada 13 Agustus 2026.
Siswi SMK Swasta Bersama Berastagi itu sempat menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit, mulai dari RS Kabanjahe, RS Efarina, RS Amanda Karo, RS Haji Medan, hingga RSUP Haji Adam Malik Medan.
Kondisi dialami siswi tersebut memunculkan pertanyaan benarkah keracunan makanan bisa menyebabkan seseorang kehilangan ingatan atau amnesia?
Advertisement
Keracunan makanan dan amnesia, apa hubungannya?
Dokter Spesialis Gizi Klinik di Karawang, dr. Nadhilah Kaulika, Sp.GK menjelaskan bahwa keracunan makanan pada umumnya tidak secara langsung menyebabkan amnesia.
"Pada umumnya, keracunan makanan tidak secara langsung menyebabkan seseorang menjadi amnesia," kata Nadhilah saat berbincang dengan merdeka.com, Selasa (8/9).
Keracunan makanan biasanya menimbulkan gejala seperti mual, muntah, diare, nyeri perut, dan demam. Namun, pada kondisi yang berat, masalahnya bisa berkembang lebih jauh.
Keracunan yang berat dapat disertai komplikasi seperti dehidrasi berat, gangguan elektrolit, gangguan metabolik, kekurangan oksigen, atau paparan toksin dari bakteri tertentu. Kondisi-kondisi tersebut dapat mengganggu fungsi otak.
“Gangguan fungsi otak memang bisa terjadi pada kondisi keracunan yang berat, tetapi bukan merupakan kondisi yang umum pada keracunan makanan,” jelas Nadhilah.Mengapa otak bisa ikut terganggu?Otak membutuhkan keseimbangan cairan, elektrolit, metabolisme, dan pasokan oksigen agar dapat bekerja secara normal.
Ketika seseorang mengalami keracunan berat, misalnya kehilangan banyak cairan akibat muntah dan diare, tubuh dapat mengalami dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit.
Dalam kondisi tertentu, gangguan tersebut dapat memengaruhi fungsi otak. Akibatnya, pasien dapat mengalami kebingungan, sulit berkonsentrasi, perubahan perilaku, kejang, hingga penurunan kesadaran.
Gangguan daya ingat juga bisa muncul sebagai bagian dari gangguan fungsi otak tersebut. Namun, munculnya gangguan ingatan tidak otomatis berarti seseorang mengalami amnesia.
Advertisement
Lupa ingatan belum tentu amnesia
Menurut Nadhilah, dokter perlu melihat secara lebih spesifik seperti apa gangguan memori yang dialami pasien dan bagaimana kondisi kesadarannya.
Pasalnya, gangguan ingatan dapat muncul dalam konteks yang berbeda-beda.
Jika gangguan fungsi otak terjadi karena kondisi yang bersifat sementara, seperti dehidrasi berat atau gangguan elektrolit, fungsi otak dapat kembali membaik setelah masalah tersebut ditangani.
Sebaliknya, apabila telah terjadi kekurangan oksigen dalam waktu cukup lama atau terdapat komplikasi yang melibatkan sistem saraf, proses pemulihan bisa berlangsung lebih panjang.
Lama pemulihan pun dapat berbeda pada setiap orang.
Dengan kata lain, hubungan antara keracunan makanan dan gangguan ingatan harus dilihat berdasarkan kondisi medis pasien, bukan hanya berdasarkan urutan waktu bahwa gangguan ingatan muncul setelah mengonsumsi makanan tertentu.
Advertisement
Lalu, bagaimana memastikan penyebabnya?
Ketika seseorang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang diduga menyebabkan keracunan, hubungan antara makanan tersebut dan gejala yang muncul perlu ditelusuri secara medis dan epidemiologis.
Dokter perlu melihat keseluruhan kronologi, mulai dari gejala yang muncul, hasil pemeriksaan pasien, hingga pemeriksaan laboratorium jika tersedia.
Pemeriksaan terhadap makanan atau sumber paparan yang dicurigai juga dapat menjadi bagian dari proses investigasi.
“Jadi, baik menyimpulkan ‘pasti karena makanan’ maupun ‘pasti bukan karena makanan’ tanpa pemeriksaan yang memadai sama-sama tidak tepat,” ungkap Nadhilah.
Artinya, fakta bahwa gangguan ingatan muncul setelah seseorang mengalami keracunan belum cukup untuk membuktikan bahwa keracunan makanan menjadi penyebab langsungnya.
Advertisement
Bukan hanya pasien yang perlu diperiksa
Menurut Nadhilah, penanganan kasus keracunan makanan tidak berhenti setelah pasien mendapatkan pertolongan medis.
Sumber makanan yang dicurigai juga perlu diinvestigasi secara menyeluruh.
“Investigasi tidak cukup hanya melihat kondisi pasien. Perlu dilihat juga bahan baku, proses pengolahan, kebersihan, penyimpanan, suhu makanan, waktu antara makanan diproduksi sampai dikonsumsi, proses distribusi, dan kemungkinan terjadinya kontaminasi,” tambahnya.
Langkah tersebut penting untuk mengetahui bagaimana paparan terjadi dan apakah ada faktor yang dapat memicu kejadian serupa.
Sebab, tujuan penanganan keracunan makanan bukan hanya menyembuhkan orang yang sudah sakit, tetapi juga menemukan sumber masalah dan mencegah kejadian yang sama terulang.
Advertisement
Jadi, apakah keracunan makanan bisa menyebabkan hilang ingatan?
Keracunan makanan umumnya tidak secara langsung menyebabkan amnesia. Namun, keracunan yang berat dapat menimbulkan komplikasi yang mengganggu fungsi otak. Dalam kondisi tertentu, gangguan tersebut dapat memengaruhi konsentrasi, kesadaran, perilaku, hingga daya ingat.
Karena itu, ketika seseorang mengalami gangguan ingatan setelah keracunan, penyebabnya tidak bisa langsung dipastikan hanya dari gejalanya.
Yang perlu dicari bukan sekadar “apakah makanan menyebabkan amnesia?”, tetapi apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh dan otak pasien selama mengalami kondisi tersebut.