Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur. Kebakaran ini diperkirakan menghanguskan 673,4 hektare lahan konservasi.
Kebakaran melanda Kawasan Taman Nasional Way Kambas itu juga memunculkan kekhawatiran terhadap keberadaan gajah sumatra yang hidup di wilayah konservasi tersebut.
Pemerintah Provinsi Lampung bersama TNI dan Polri kemudian melakukan pemantauan untuk memastikan kebakaran tidak berdampak terhadap populasi gajah.
Hasil pemantauan menunjukkan gajah di TNWK dalam kondisi aman. Namun, kebakaran hutan bukan satu-satunya ancaman bagi satwa dilindungi tersebut.
Lantas, bagaimana kondisi gajah di Way Kambas dan apa saja ancaman yang dihadapinya?
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bersama Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi meninjau kawasan TNWK untuk memastikan populasi gajah tidak terdampak kebakaran. Rahmat mengatakan kondisi gajah yang dipantau dalam keadaan sehat dan tidak terdampak kebakaran.
Menurut Pangdam XXI/Radin Inten, titik api terakhir di kawasan TNWK telah berhasil dipadamkan melalui kombinasi pemadaman dari darat dan udara atau water bombing.
Pemantauan juga dilakukan menggunakan teknologi drone thermal untuk mendeteksi titik panas, termasuk sisa api yang berada di lapisan dalam. Setelah titik api ditemukan, petugas dapat melakukan penanganan dan penyemprotan menggunakan drone pemadam.
Upaya tersebut diperkuat dengan pengerahan personel TNI dan Polri serta dukungan peralatan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Advertisement
Berapa Populasi Gajah di Way Kambas?
TNWK menjadi salah satu kawasan penting bagi konservasi gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus). Namun, hingga Sabtu (22/8), belum ada laporan gajah liar maupun satwa lainnya yang terdampak langsung oleh kebakaran.
Kepala Balai TNWK MHD Zaidi mengatakan kelompok gajah liar yang berada di kawasan tersebut masih terpantau dalam kondisi aman.
Berdasarkan pemantauan sementara, gajah liar berada di bagian utara kawasan TNWK, sedangkan titik kebakaran berada di wilayah selatan.
"Belum ada laporan. Sementara posisi gajah liar termonitor di bagian utara TNWK," kata Zaidi, Sabtu (22/8).
Kebakaran diketahui terjadi di kawasan Jati 3, Resort Kuala Penet, SPTN Wilayah III Kuala Penet. Api kemudian dilaporkan merembet menuju kawasan Rawa Mbah Sapon yang berada di bagian selatan TNWK.
Meski lokasi kebakaran berada cukup jauh dari keberadaan kelompok gajah liar yang terpantau, Balai TNWK tetap memantau pergerakan satwa dan perkembangan api untuk mengantisipasi perubahan kondisi di lapangan.
Zaidi menyebut terdapat sekitar 261 gajah yang berada di kawasan tersebut. Jumlah itu terdiri atas gajah liar dan gajah yang berada dalam pengelolaan konservasi.
Pada 2024, populasi gajah liar diperkirakan mencapai sekitar 160-180 ekor. Sementara itu, sekitar 61 ekor gajah berada di Pusat Latihan Gajah (PLG) dan Elephant Response Unit (ERU).
Populasi gajah liar disebut cenderung stabil dan bahkan menunjukkan tren positif. Kondisi tersebut tidak terlepas dari berbagai upaya konservasi, mulai dari patroli hingga perlindungan habitat. Namun, jumlah populasi tersebut masih terus dihitung untuk mendapatkan data yang lebih akurat.
Advertisement
Bagaimana Populasi Gajah Dihitung?
Balai TNWK tengah menggunakan teknologi fecal DNA atau analisis DNA dari kotoran gajah.
Metode ini dapat membantu peneliti mengidentifikasi individu gajah sekaligus mendapatkan gambaran mengenai jumlah dan persebarannya.
Data tersebut penting karena konservasi tidak cukup hanya mengandalkan perkiraan jumlah satwa. Informasi mengenai lokasi, persebaran dan kondisi populasi dibutuhkan untuk menentukan langkah perlindungan yang tepat.
Dengan data yang lebih akurat, pengelola kawasan dapat mengetahui bagian habitat mana yang perlu mendapat perhatian lebih besar.
Advertisement
Apa Saja Ancaman bagi Gajah Way Kambas?
Meski populasi gajah liar menunjukkan kondisi yang relatif stabil, konservasi gajah sumatera menghadapi sejumlah tantangan.
Salah satu yang paling kompleks adalah konflik antara manusia dan gajah. Perubahan kondisi habitat dan aktivitas masyarakat di sekitar kawasan dapat meningkatkan potensi perjumpaan antara manusia dan satwa liar.
Ancaman lainnya adalah perburuan dan rusaknya habitat.
Ketika habitat mengalami tekanan, gajah dapat kehilangan ruang untuk mencari makanan, air dan tempat berlindung. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan konflik dengan masyarakat di sekitar kawasan.
Selain itu, keterbatasan pendanaan dan sumber daya manusia juga menjadi tantangan. Patroli, pengawasan kawasan dan pengelolaan habitat membutuhkan personel serta peralatan yang memadai.
Advertisement
Bagaimana dengan Dampak Perubahan Iklim?
Perubahan iklim juga menjadi tantangan tersendiri bagi konservasi gajah. Perubahan pola cuaca dapat memengaruhi ketersediaan air dan sumber makanan di habitat gajah. Dalam jangka panjang, perubahan kondisi lingkungan dapat memengaruhi pola pergerakan dan kehidupan satwa.
Karena itu, konservasi gajah tidak cukup hanya dilakukan dengan melindungi satwanya. Habitat dan kondisi lingkungan yang menopang kehidupan gajah juga harus dipertahankan.
Advertisement
Mengapa Masyarakat Sekitar Ikut Berperan?
Konservasi gajah tidak hanya berlangsung di dalam kawasan taman nasional.
Balai TNWK juga melibatkan masyarakat di sekitar kawasan melalui pengembangan ekowisata berbasis lanskap dan gajah. Bentuknya antara lain wisata edukatif, pengenalan gajah liar dan pelatihan pemandu lokal.
Pelibatan masyarakat menjadi penting karena kawasan konservasi berbatasan langsung dengan ruang hidup dan aktivitas masyarakat.
Jika masyarakat memperoleh manfaat dari keberadaan kawasan konservasi, terbuka peluang lebih besar untuk membangun dukungan terhadap perlindungan hutan dan satwa.
Advertisement
Apakah Gajah Way Kambas Aman?
Untuk kondisi saat pemantauan kebakaran terbaru, pemerintah menyatakan gajah di TNWK dalam keadaan aman dan tidak terdampak karhutla. Namun, menjaga gajah sumatera tidak berhenti setelah api padam.
Perlindungan habitat, pencegahan perburuan, pengurangan konflik manusia dan gajah, pemantauan populasi serta keterlibatan masyarakat tetap menjadi pekerjaan jangka panjang.
TNWK karena itu bukan hanya tempat bagi gajah untuk hidup. Kawasan ini merupakan salah satu benteng penting bagi kelangsungan gajah sumatera.
Menjaga gajah berarti menjaga habitatnya. Dan menjaga habitat berarti memastikan hutan, sumber air, sumber makanan serta masyarakat di sekitarnya dapat hidup berdampingan dalam jangka panjang.