Di sebuah posko pengungsian di Dusun Wairhabi, Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, hari-hari berjalan dengan cara yang berbeda. Rumah yang dulu menjadi tempat berlindung kini ditinggalkan. Kebutuhan sehari-hari harus dipenuhi di tengah keterbatasan, sementara rasa cemas akibat gempa masih membayangi.
Di tempat itu, 159 kepala keluarga dari Dusun Wairhabi, Dusun Habigahar, dan Kelurahan Waiot bertahan menjalani masa pemulihan.
Pada Sabtu (29/8), sejumlah mahasiswa S2 Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lemdiklat Polri Angkatan 16 datang ke posko tersebut. Mereka tidak hanya membawa bantuan, tetapi juga mencoba menghadirkan kembali rasa bahwa para penyintas tidak sendirian menghadapi bencana.
Beras, minyak goreng, air mineral, susu bubuk, mi instan hingga popok bayi dibagikan kepada warga. Bantuan yang terlihat sederhana itu menjadi penting bagi mereka yang masih harus menjalani kehidupan di pengungsian.
Bantuan juga dikirim melalui Pelabuhan Lorens Say untuk selanjutnya disalurkan ke wilayah Pelabuhan Palue, Kecamatan Palue.
Agustinus Nong Viles, selaku koordinator posko pengungsian di Wairhabi, menerima bantuan tersebut untuk kemudian disalurkan kepada warga yang membutuhkan. Namun, kedatangan para mahasiswa STIK tidak berhenti pada pembagian sembako.
Mereka juga menggelar kegiatan trauma healing dan bakti kesehatan bagi para korban gempa. Di tengah proses pemulihan, perhatian terhadap kondisi psikologis dan kesehatan menjadi bagian penting yang tidak kalah berarti dari bantuan kebutuhan pokok.
"Kami ingin mengambil bagian dalam membantu masyarakat yang membutuhkan uluran tangan setelah bencana gempa mengguncang wilayah Flores dan sekitarnya," kata Kombes Didit Bambang Wibowo, perwira pendamping mahasiswa S2 STIK Angkatan 16 seperti dikutip dari Antara, Senin (31/8).
Semangat gotong royong menjadi semakin penting ketika kebutuhan masyarakat terdampak masih terus bermunculan. Terlebih, sejumlah wilayah di NTT memiliki kondisi geografis yang membuat distribusi bantuan tidak selalu mudah dilakukan. Karena itu, bantuan yang sampai ke tangan warga memiliki arti lebih dari sekadar nilai barang, tetapi juga menjadi bentuk solidaritas dan kepedulian kemanusiaan.
Di tengah proses pemulihan yang masih panjang dan gempa susulan yang masih terjadi, aksi kemanusiaan seperti yang dilakukan mahasiswa S2 STIK Lemdiklat Polri Angkatan 16 menjadi pengingat bahwa pemulihan sebuah bencana bukan hanya tentang membangun kembali rumah dan fasilitas umum, tetapi juga memastikan para penyintas merasa diperhatikan, didampingi, dan tidak sendirian. Kegiatan ini turut dibantu oleh personel Polda NTT dan dihadiri Kapolres AKBP Bambang Supeno,S.I.K.
Advertisement
Advertisement
Ketika Gempa Mengubah Segalanya
Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 sekitar pukul 04.58 WIB.
Menurut BMKG, episenter gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. Gempa tersebut juga sempat memicu peringatan dini tsunami. Dampaknya terasa luas.
Tujuh kabupaten tercatat terdampak, yakni Sikka, Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat.
Hingga pembaruan BNPB pada Sabtu (29/8), sebanyak 111 orang dilaporkan meninggal dunia. Ratusan ribu warga terdampak dan sebagian harus meninggalkan rumah untuk mengungsi.
Data kesehatan NTT per 24 Agustus mencatat sekitar 299.145 orang mengungsi di tujuh kabupaten tersebut.
Angka-angka itu menggambarkan besarnya dampak bencana. Namun, di balik data tersebut ada kehidupan yang harus kembali ditata: keluarga yang kehilangan tempat tinggal, anak-anak yang harus beradaptasi dengan suasana pengungsian, serta warga yang masih dihantui kekhawatiran setiap kali gempa susulan terasa. Karena itu, kebutuhan para penyintas bukan hanya soal makanan dan tempat berlindung. Mereka juga membutuhkan pendampingan, perhatian, dan keyakinan bahwa ada orang lain yang peduli terhadap kondisi mereka.