Acara Pelatihan Strategi Pelayanan Prima yang Ramah Keberagaman Individu bagi Tenaga Kependidikan (Tendik) di Universitas YARSI, Jakarta Pusat, Kamis (13/8/2026), menghadirkan kisah dua penyandang disabilitas tunanetra yang menempuh pendidikan tinggi hingga lulus.
Dani, penyandang low vision, dan Juwita, yang kini buta total, memaparkan pengalaman belajar di kampus, tantangan sehari-hari, serta dukungan teknologi dan akomodasi yang mereka gunakan selama perkuliahan.
Mereka juga menekankan pentingnya aksesibilitas materi ajar dan etika memberi bantuan kepada penyandang tunanetra: tidak berasumsi, tetapi selalu bertanya terlebih dahulu.
Advertisement
Cara Dani Melihat: Low Vision Seperti di Balik Kaca Berembun
Dani menjelaskan penglihatannya mirip seperti melihat dari balik kaca berembun atau plastik. Ia masih bisa menangkap bentuk objek besar, tetapi kesulitan pada detail kecil dan mengenali wajah.
"Sebenernya ini saya lihat benda besar masih bisa, meja, kursi, mungkin tas, laptop gitu. Tapi untuk yang kecil, detail gitu saya tidak lihat. Wajah-wajahnya yang di sini saya juga tidak lihat," kata Dani.
Dani masih dapat membedakan warna dengan kontras kuat seperti merah dan biru. Namun, warna yang mirip—misalnya merah cabai, marun, pink, atau cokelat muda—sulit ia bedakan.
"Kalau melihat di tempat yang terang itu masih bisa, siang hari. Tapi penglihatan saya menurun ketika berada di tempat yang lebih gelap, misalnya sudah suasana magrib ke atas, itu biasanya saya sudah lebih kayak siluet melihatnya," ucap Dani.
Untuk keamanan mobilitas, Dani memilih bepergian dengan tongkat khusus penyandang disabilitas.
Advertisement
Perjalanan Juwita Menjadi Tunanetra Total
Berbeda dengan Dani, Juwita kini buta total. Sebelumnya ia sempat mengalami low vision sejak usia 10 tahun hingga 20 tahun, lalu penglihatannya hilang sepenuhnya. Menurutnya, kondisi saat ini bukan gelap pekat, melainkan cenderung abu-abu.
"Kalau tadi Dani melihatnya di balik kaca yang ada embunnya atau ada uapnya, kalau saya, jadi saya tuh punya fase penurunan penglihatan dari umur 10 tahun sampai umur 20 tahun. Itu saya sempat pernah low vision sampai di umur 20 tahun itu, tapi saya sekarang total. Jadi ini sekarang pandangannya gelap, tapi bukan yang hitam banget, lebih cenderung ke abu-abu," cerita Juwita.
Ia selalu membawa tongkat lipat dan kerap membutuhkan pendamping, khususnya saat berada di dalam ruangan.
"Untuk mobilitas saya juga pakai tongkat lipat. Tapi ketika saya di dalam ruangan, sudah ada pendamping, tongkat bisa dilepas seperti ini (melipat). Ini (tongkat) bisa masuk tas atau di pinggir tas biasanya," cerita Juwita.
Dani mengingatkan bahwa tunanetra tidak selalu identik dengan mata yang tertutup atau tidak terbuka. Ia pernah mengalami situasi tidak nyaman di kelas karena tatapan matanya disalahartikan.
"Dosennya bilang gini, kamu ngeliatin apa? Ngeliatin cicak. Itu langsung awkward juga, diam semua teman-teman. Terus yang duduk paling depan dekat media dosen bilang, 'Pak, maaf itu memang matanya begitu'. 'Oh, iya maaf ya,' kata dosen itu. Tapi sudah awkward, suasananya enggak nyaman dan itu membekas saya," kata Dani.
Advertisement
Screen Reader, PDF, dan Aksesibilitas Materi Kuliah
Dalam proses belajar, teknologi bantu menjadi tumpuan. Juwita menggunakan pembaca layar (screen reader) di laptop dan ponsel untuk mengakses materi perkuliahan.
"Jadi saya kalau belajar dulu, pakainya laptop dengan pembaca layar. Jadi laptopnya biasa, HP-nya juga sama, tapi itu semuanya sudah dilengkapi sama pembaca layar. Kalau di laptop harus diinstal dulu. Kalau di HP mau Android ataupun iOS itu sudah ada pembaca layarnya, tinggal diaktifkan," ucap Juwita.
Ia menyebut materi berbasis teks bisa diakses, termasuk file PowerPoint dan PDF. Namun materi yang dibuat sebagai gambar, seperti dari Canva, tidak terbaca oleh pembaca layar.
"Saya bisa mengakses PowerPoint. Yang penting PowerPoint-nya basic-nya teks, bukan dari Canva. Karena kalau dari Canva itu gambar, kita enggak bisa baca. Kemudian PDF bisa," kata Juwita.
Untuk PDF hasil pemindaian yang berupa foto (JPEG), dibutuhkan proses OCR agar dapat dibaca.
"Tapi ada jenis PDF yang scan hasilnya foto, JPEG, dan teman-temannya itu tidak bisa dibaca, harus di-OCR. Jadi kalau misalnya teks di Word, dikonversi ke PDF, teks, itu bisa. Itu namanya aksesibilitas digital," sambung dia.
Advertisement
Akomodasi Layak di Kampus dan Etika Membantu Tunanetra
Dani menilai kampus dan dosen perlu memastikan materi ajar dapat diakses mahasiswa dengan gangguan penglihatan. Saat kuliah, ia memanfaatkan kaca pembesar dan meminta naskah ujian dicetak lebih besar.
"Karena saya dulu low vision, saya waktu kuliah itu masih lebih baik dari hari ini, dulu masih pakai kaca pembesar kalau baca buku. Nah, dulu kalau ujian, itu saya minta fotokopinya diperbesar. Jadi, ukurannya yang bisa terbaca oleh penglihatan saya dan dibantu oleh kaca pembesar itu masih bisa," ucap dia.
Menurut Dani, sebagian mahasiswa low vision lebih nyaman menggunakan materi large print dan berhak mengajukan permintaan pembesaran.
"Jadi, selain pengguna screen reader, tapi kan ada low vision yang mungkin masih manual membacanya, mungkin dia akan lebih nyaman menggunakan large print. Large print seperti itu nanti mungkin ada request butuh pembesaran materi perkuliahan, misalnya. Nah, mungkin itu perlunya ya, ada disabilitas ketika mahasiswa butuh hal-hal seperti itu bisa request," sambung Dani.
Juwita menegaskan akomodasi yang layak bukanlah perlakuan istimewa, melainkan cara memberi akses yang setara bagi semua mahasiswa.
"Jadi definisi akomodasi yang layak itu bukan mengistimewakan, tapi memberikan akses yang sama," ucap dia.
Ia mencontohkan pengaturan penilaian untuk mata kuliah fotografi yang disesuaikan dengan kondisinya melalui kesepakatan dengan dosen pengampu.
"Jadi dulu ada mata kuliah fotografi. Saya sebelum mulai kelasnya sudah ketemu sama dosennya. Kemudian saya, sebelum kelas mulai, saya bilang, 'Pak, saya ada gangguan penglihatan, saya tunanetra, kan kalau ikut hunting foto itu enggak bisa'," kata dia.
"Tapi untuk menyesuaikan pengambilan penilaian untuk mata kuliah ini, saya kira-kira bisa diganti sama apa ya, Pak? Coba anaknya ditanya dulu, kira-kira kamu kepikiran apa? Karena waktu itu saya mengajukan, nanti saya setiap minggu, atau setiap berapa minggu sekali, saya bikin makalah, Bapak boleh kasih ininya. Terus Bapaknya setuju, oke. Nanti kalau ujian, nanti saya kasih soal," sambung Juwita.
Dani mengajak masyarakat tidak langsung menolong tanpa bertanya. Menurutnya, mengamati situasi dan menawarkan bantuan dengan sopan adalah langkah terbaik.
"Ketika ada orang ngeluarin tongkat, berarti dia butuh bantuan. Apakah benar begitu asumsi yang sebaiknya kita gunakan atau tidak? Nah, jangan asumsi, selalu bertanya, jadi jangan langsung, tapi ketika dia mengeluarkan tongkat, bisa ditawarkan, butuh bantuan tidak?" kata Dani.
"Ditanya, jadi jangan langsung, dilihat dulu situasinya apakah dia celingak-celinguk kayak orang lagi cari sesuatu. Dan itu kadang-kadang bingung. Makanya bisa mulai disamperin, ditanya, apakah butuh bantuan?" tutup Dani.