PSI Bicara Makna di Balik Gelar Adat untuk Jokowi

Terbaru, Jokowi mendapatkan gelar Saudara Raja Raja Timor.

Delvira
Oleh Delvira - Reporter
PSI Bicara Makna di Balik Gelar Adat untuk Jokowi
Jokowi dianugerahi gelar Raja Timor

Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo kembali menerima gelar adat. Kali ini, para raja di Pulau Timor menyematkan gelar Saudara Raja Raja Timor dalam Festival dan Karnaval Gajah di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Gelar tersebut menambah daftar penghormatan adat yang diterima Jokowi setelah sebelumnya dianugerahi gelar Baginda Pemuka Bangsa oleh Kedatun Keagungan Lampung. Ketua Harian DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali, menilai pemberian gelar tersebut mencerminkan apresiasi masyarakat terhadap kepemimpinan Jokowi.

"Pak Jokowi mungkin sudah tidak lagi menjabat sebagai Presiden, tetapi karya dan pengabdiannya masih dirasakan masyarakat. Rakyat selalu memiliki cara untuk menghargai pemimpin yang bekerja dengan sungguh-sungguh," ungkap Ahmad Ali kepada wartawan pada Selasa (4/8/2026).

Ahmad Ali juga menambahkan bahwa pemberian gelar tersebut merupakan bukti nyata bahwa sosok pemimpin akan dikenang jika mereka benar-benar bekerja untuk kepentingan rakyat. "Mereka tidak hanya mengingat pidato, tetapi juga mengingat hasil kerja yang mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari," jelasnya. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan dan dedikasi seorang pemimpin akan selalu diingat dan dihargai oleh masyarakat yang mereka pimpin.

Pembangunan Era Jokowi

Di Kupang, Jokowi mendapatkan gelar sebagai Saudara Raja Raja Timor dari para raja yang berasal dari berbagai kerajaan di Pulau Timor, termasuk di antaranya Amanatun, Malaka, Amanuban, Mollo, Biboki, Bikomi Nilulat, Amfoang, Kupang, dan Amarasi. Dalam acara adat tersebut, Jokowi menerima simbol-simbol seperti tongkat dan kain adat yang melambangkan pengangkatannya ke dalam keluarga besar kerajaan di Pulau Timor. Penghormatan ini disampaikan oleh tokoh-tokoh adat sebagai bentuk apresiasi atas pembangunan yang mereka rasakan selama masa kepemimpinan Jokowi, terutama di Nusa Tenggara Timur.

Sebelumnya, Kedatun Keagungan Lampung juga memberikan gelar adat Baginda Pemuka Bangsa kepada Jokowi. Tokoh adat Lampung menjelaskan bahwa gelar ini merupakan penghormatan tertinggi yang diberikan atas dedikasi Jokowi selama menjabat sebagai pemimpin Indonesia, serta merupakan bagian dari tradisi muakhi yang menggambarkan persaudaraan, penghormatan, dan doa bagi seseorang yang dianggap berjasa. Ahmad Ali mengungkapkan bahwa kedua peristiwa tersebut menunjukkan pola yang serupa. Penghormatan kepada Jokowi tidak semata-mata karena statusnya sebagai mantan Presiden, melainkan karena masyarakat masih merasakan dampak positif dari pembangunan yang telah dilakukan selama sepuluh tahun pemerintahannya.

Ia menjadikan Nusa Tenggara Timur sebagai contoh daerah yang mengalami perubahan signifikan. Proyek pembangunan bendungan Raknamo, Rotiklot, Napun Gete, dan Temef, serta penguatan infrastruktur jalan, pelabuhan, bandara, kawasan perbatasan, dan pengembangan Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata kelas dunia adalah beberapa contoh perubahan yang kini dirasakan oleh masyarakat. "Selama bertahun-tahun NTT sering dipandang sebagai daerah yang tertinggal. Pak Jokowi mengubah cara pandang itu dengan menghadirkan pembangunan yang nyata dan menempatkan Indonesia Timur sebagai bagian penting dari masa depan bangsa. Itulah mengapa kedatangannya hari ini bukan sekadar kunjungan seorang mantan Presiden, tetapi kunjungan seorang pemimpin yang pernah meninggalkan jejak pembangunan yang masih dirasakan masyarakat," ujarnya.

Rangkaian Gelar Adat Jokowi

Sejak memegang jabatan sebagai Presiden, Jokowi telah dianugerahi beragam gelar adat dari berbagai kerajaan, kesultanan, dan lembaga adat di seluruh Indonesia. Beberapa gelar yang diterimanya antara lain adalah Tuanku Sri Indera Utama Permaisura dari Kesultanan Deli, Datu Sri Setia Amanah Negara dari Lembaga Adat Melayu Riau, Jou Se Ngofa Ngare dari Kesultanan Ternate, Lakina Bhawa Kaelola dari Kesultanan Buton, Pangeran Kencana Paser Buana dari Lembaga Adat Paser, serta Anak Ada' Mappatoba dari masyarakat adat Tana Toraja, dan masih banyak lagi gelar kehormatan lainnya dari berbagai komunitas adat di Nusantara.

Sebagian besar gelar yang diterima Jokowi merupakan bentuk penghormatan atas perhatian dan dedikasinya terhadap pembangunan daerah, pelestarian budaya, serta upaya untuk memperkuat persatuan bangsa. Menurut Ahmad Ali, rangkaian penghormatan adat yang terus mengalir setelah Jokowi menyelesaikan masa jabatannya merupakan pesan bahwa masyarakat memiliki cara tersendiri dalam menilai seorang pemimpin.

"Dalam demokrasi, setiap orang tentu memiliki pandangan politik yang berbeda. Namun ketika pembangunan hadir, akses ekonomi terbuka, infrastruktur berdiri, dan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat, maka itulah karya yang akan terus diingat. Jabatan memiliki batas waktu, tetapi pengabdian yang dirasakan rakyat akan meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang," tutupnya.

Rekomendasi