Petani Sawit Tewas di Gubuk, Ditemukan Uang Rp15,5 Juta hingga Kondom

Kepolisian masih melakukan pendalaman untuk memastikan penyebab kematian petani tersebut. Kepolisian juga sudah meminta persetujuan untuk dilakukan visum dan autopsi.

Ihwan Fajar
Oleh Ihwan Fajar - Reporter
Petani Sawit Tewas di Gubuk, Ditemukan Uang Rp15,5 Juta hingga Kondom
Jenazah pekerja lahan kelapa sawit di Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat. (Istimewa)

Warga Dusun Antalili, Desa Kamunong, Kecamata Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah digegerkan penemuan mayat seorang pria bernama Musir di kebun kelapa sawit. Selain jasad Musir, warga juga menemukan tas pinggang berisi uang Rp15,5 juta.

Kasatreskrim Polres Mamuju Tengah, Iptu Muhammad Arifin mengatakan, jasad Musir ditemukan di sebuah pondok area kebun sawit pada Minggu (20/9) pagi. Selain mayat, warga juga menemukan tas pinggag berisi dua buah badik kecil, uang tunai Rp15.550.000, satu unit handphone Oppo warna biru, satu charger handphone, serta dua kondom. Musir sebelumnya dilaporkan hilang sejak Jumat (11/9).

"Korban merupakan pekerja kebun milik warga bernama Nurdin," ujar Arifin melalui keterangan tertulisnya, Senin (21/9).

 

Kronologi Penemuan Mayat

Arifin menjelaskan kronologi penemuan mayat berawal saat seorang warga bernama Sulaiman hendak membersihkan lahan kelapa sawit. Sebelum membersihkan lahan, Sulaiman hendak menyimpan tas di pondok.

"Saat itu saksi melihat korban dalam kondisi tergeletak tidak bernyawa. Setelahnya, saksi melaporkan temuan ini kepada pemilik lahan," kata dia.

Mendapati pekerjanya meninggal dunia, pemilik lahan kelapa sawit bernama Nurdin menghubungi anaknya yang merupakan anggota Polri. Selanjutnya, laporan tersebut dilanjutkan ke Polres Mamuju Tengah.

"Setelahnya kita amankan TKP (tempat kejadian perkara) untuk dilakukan penyelidikan. Sementara jenazah korban dibawa ke Puskesmas Salupangkang untuk menjalani pemeriksaan luar," kata Arifin.

Kepolisian masih melakukan pendalaman untuk memastikan penyebab kematian Musir. Kepolisian juga sudah meminta persetujuan untuk dilakukan visum dan autopsi.

"Tapi pihak keluarga menolak untuk dilakukan visum dan autopsi. Keluarga korban ingin langsung memakamkannya," ujar Arifin.

Rekomendasi