Dispar DIY Dorong Ekonomi Kreatif Seniman Neurodivergen Melalui Pameran "Jejak Warna" UGM

Dinas Pariwisata DIY melihat potensi besar karya seniman neurodivergen sebagai bagian integral ekonomi kreatif. Pameran "Jejak Warna" di UGM menjadi wadah pengembangan bakat dan inklusivitas, menarik perhatian publik.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Dispar DIY Dorong Ekonomi Kreatif Seniman Neurodivergen Melalui Pameran "Jejak Warna" UGM
Dinas Pariwisata DIY melihat potensi besar karya seniman neurodivergen sebagai bagian integral ekonomi kreatif. Pameran "Jejak Warna" di UGM menjadi wadah pengembangan bakat dan inklusivitas, menarik perhatian publik. (AntaraNews)

Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyoroti potensi besar karya seniman neurodivergen sebagai bagian dari subsektor ekonomi kreatif. Hal ini disampaikan saat pembukaan pameran "Jejak Warna" di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Pameran ini berlangsung dari tanggal 2 hingga 8 Agustus 2026.

Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata DIY, Iwan Pramana, menegaskan bahwa pengembangan ekonomi kreatif di DIY berlandaskan prinsip inklusivitas. Setiap individu, termasuk seniman neurodivergen, memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi. Mereka diharapkan dapat mengembangkan potensinya melalui berbagai kegiatan kreatif.

Pameran "Jejak Warna" menampilkan 46 karya dari 32 seniman neurodivergen. Selain pameran lukisan, acara ini juga dilengkapi dengan bazar karya, talkshow, serta layanan konseling. Kegiatan ini bertujuan memperluas pemahaman masyarakat mengenai neurodiversitas dan membuka peluang bagi seniman.

Potensi Subsektor Ekonomi Kreatif

Iwan Pramana dari Dispar DIY menyatakan bahwa karya seniman neurodivergen yang dipamerkan merupakan bagian penting dari subsektor ekonomi kreatif. Potensi ini dinilai sangat besar untuk terus dikembangkan di masa mendatang. Pemerintah daerah berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan sektor ini.

Menurut Iwan, pengembangan ekonomi kreatif di DIY didasarkan pada kreativitas dengan prinsip inklusivitas. Ini berarti setiap individu, termasuk teman-teman difabel atau adik-adik autis, memiliki kesempatan yang sama. Mereka diajak untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan ekonomi kreatif.

Karya para seniman neurodivergen tidak hanya memiliki potensi besar dalam subsektor seni rupa. Namun, juga berpeluang untuk dikembangkan pada subsektor ekonomi kreatif lainnya. Contohnya seperti seni pertunjukan dan musik, seiring dengan terbukanya ruang kolaborasi dalam berbagai kegiatan kreatif.

Mendorong Kolaborasi dan Inklusivitas

Dispar DIY berharap dapat menjalin kolaborasi erat dengan Creative for Autism (C4A) dan Pesona Autistik Indonesia (PAI). Kolaborasi ini bertujuan agar seniman neurodivergen dapat lebih banyak dilibatkan dalam berbagai pameran. Mereka juga diharapkan dapat berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi kreatif yang diselenggarakan pemerintah daerah.

Keterlibatan seniman neurodivergen dalam kegiatan tersebut menjadi prioritas bagi Dispar DIY. Hal ini sejalan dengan visi untuk menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif dan merangkul semua kalangan. Ruang bagi ekspresi dan pengembangan bakat akan terus diperluas.

Prinsip inklusivitas menjadi landasan utama dalam setiap program pengembangan ekonomi kreatif di DIY. Dengan demikian, setiap individu, tanpa terkecuali, dapat menyumbangkan kreativitasnya. Ini sekaligus memperkaya khazanah seni dan budaya daerah.

Pameran "Jejak Warna" dan Makna Neurodiversitas

Pameran "Jejak Warna" diselenggarakan mulai tanggal 2 hingga 8 Agustus 2026 di GIK UGM. Acara ini berhasil menghadirkan 46 karya seni yang memukau dari 32 seniman neurodivergen. Ini menunjukkan kekayaan bakat yang dimiliki oleh para seniman tersebut.

Selain pameran lukisan, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan bazar karya, talkshow inspiratif, dan layanan konseling. Layanan konseling ini ditujukan khusus bagi keluarga dengan anak neurodivergen. Ini memberikan dukungan holistik bagi para peserta dan keluarganya.

Ketua panitia, Adriana, menjelaskan bahwa neurodiversitas adalah konsep yang menekankan keberagaman cara kerja otak manusia. Individu neurodivergen memiliki cara berpikir, berkomunikasi, dan memproses informasi yang berbeda. Pesan utamanya adalah fokus pada perbedaan kemampuan, bukan ketidakmampuan.

Adriana berharap pameran ini dapat memperluas pemahaman masyarakat tentang neurodiversitas. Selain itu, diharapkan juga dapat membuka kesempatan lebih luas bagi individu neurodivergen. Mereka diharapkan dapat berpartisipasi aktif dalam dunia seni dan kehidupan bermasyarakat.

Inspirasi dari Kisah Orang Tua Seniman

Dezy Lyzawaty, seorang orang tua seniman peserta pameran dari Mojokerto, berbagi kisahnya. Keikutsertaan anaknya dalam pameran ini menjadi penyemangat besar bagi keluarganya. Mereka terus mendukung proses berkarya sang anak dengan penuh dedikasi.

Dezy mengungkapkan bahwa karya pertama anaknya yang dipamerkan tahun lalu berhasil terjual. Keberhasilan ini semakin memotivasi keluarganya untuk terus mengembangkan potensi yang dimiliki anaknya. Ini adalah bukti nyata bahwa dukungan dapat menghasilkan prestasi.

Dezy berharap semakin banyak orang tua anak neurodivergen yang terinspirasi dan memperoleh semangat serupa. Mereka diharapkan terus mendampingi putra-putrinya mengembangkan bakat. Ruang-ruang kreatif seperti pameran ini sangat penting untuk mendukung perkembangan mereka.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi